Fenomena Aliran Gas Kosmik Raksasa yang Memiringkan Orbit Planet di Konstelasi Orion

19 hours ago 3
Fenomena Aliran Gas Kosmik Raksasa yang Memiringkan Orbit Planet di Konstelasi Orion Gambaran artistik ini menyoroti aliran material yang mengalir ke cakram protoplanet, GW Ori, menciptakan cincin debu yang tidak sejajar.(NSF/AUI/NSF NRAO/B.Saxton)

PARA astronom berhasil menemukan fenomena menakjubkan sekaligus memecahkan teka-teki lama di jagat raya. Sebuah "sungai" gas kosmik raksasa sepanjang lebih dari 1,6 triliun kilometer (1 triliun mil) ditemukan sedang menghantam dan memiringkan piringan pembentuk planet di sistem bintang GW Orionis. Penemuan ini berpotensi menjelaskan alasan di balik banyaknya sistem planet asing (exoplanet) yang memiliki orbit miring dan tidak teratur.

GW Orionis merupakan sistem tiga bintang muda yang berjarak sekitar 1.300 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya berada di wilayah pembentukan bintang Lambda Orionis pada konstelasi Orion. Sistem ini sangat langka karena dikelilingi piringan gas dan debu pembentuk planet yang terbagi menjadi tiga cincin utama. Anehnya, ketiga cincin tersebut tidak berada di satu bidang yang sejajar, melainkan miring dengan sudut yang berbeda-beda.

Sebelumnya, para ilmuwan menduga keberadaan planet gas raksasa tersembunyi yang mengukir celah di antara cincin piringan tersebut sebagai penyebab utama kemiringannya. Namun, pengamatan terbaru menggunakan teleskop radio Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Cile mengungkap fakta yang berbeda.

Berdasarkan data observasi ALMA, gangguan pada cincin terluar GW Orionis rupanya dipicu hempasan aliran gas molekuler yang membentang dari awan molekul di sekitarnya. Aliran gas raksasa ini membentang hingga 0,2 tahun cahaya (sekitar 1,9 triliun kilometer). Pertukaran momentum sudut atau energi putar antara aliran gas dan piringan itulah yang memuntir serta memiringkan piringan pembentuk planet tersebut.

Peneliti utama studi ini, Maria Galloway-Sprietsma, seorang kandidat doktor di University of Florida, menjelaskan keterkaitan arah aliran gas tersebut dengan struktur cincin terluar.

"Ketika tim kami memodelkan jatuhnya aliran gas ini, kami menemukan bahwa sudut dampaknya terhadap piringan sangat sejajar dengan cincin terluar," kata Galloway-Sprietsma dalam sebuah pernyataan resmi.

Pengamatan menunjukkan aliran gas tersebut telah menyelesaikan sebagian besar proses pemiringan cincin terluar piringan GW Orionis. Peneliti lain dalam tim studi tersebut, Jaehan Bae, menambahkan pada masa lalu aliran gas ini memiliki energi putar yang lebih besar sehingga mampu mengubah sudut kemiringan piringan secara signifikan.

Di Sistem Tata Surya kita, seluruh planet mengorbit Matahari pada bidang yang relatif datar dan sejajar dengan garis katulistiwa Matahari. Namun, banyak exoplanet di luar sana yang ditemukan memiliki orbit sangat miring atau bahkan berlawanan arah dengan rotasi bintang induknya. Temuan pada sistem GW Orionis ini memberikan petunjuk penting mengenai mekanisme pembentukan sistem planet yang acak tersebut.

"Jika aliran gas seperti ini umum terjadi, kita dapat menjelaskan secara alami mengapa planet-planet tidak selalu berakhir dalam sistem yang sangat teratur. Orientasinya bisa menjadi jauh lebih acak," ujar Jaehan Bae.

Meski demikian, para peneliti menyadari menarik kesimpulan umum hanya dari satu piringan pembentuk planet masih membutuhkan bukti tambahan. Oleh karena itu, tim peneliti berencana melakukan survei lebih lanjut terhadap bintang-bintang muda lainnya.

"Langkah kami selanjutnya adalah melakukan survei sistematis terhadap bintang-bintang muda untuk melihat berapa banyak yang memiliki aliran gas dan berapa yang tidak," tutur Galloway-Sprietsma. "Hal itu akan memberi tahu kita seberapa penting peran aliran gas ini dalam membentuk sistem planet."

Studi mengenai fenomena aliran gas kosmik ini telah resmi dipublikasikan di The Astronomical Journal. (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |