Harga Gabah di Pidie Aceh Turun Drastis saat Awal Musim Panen Gadu

1 day ago 2
Harga Gabah di Pidie Aceh Turun Drastis saat Awal Musim Panen Gadu Petani Pidie, Aceh, sedang memanen padi musim gadu.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PETANI di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, mulai memasuki musim panen padi gadu (musim panen kedua) sejak dua pekan terakhir. Namun, kegembiraan menyambut limpahan hasil panen kini berubah menjadi keresahan akibat merosotnya harga gabah di tingkat petani.

Beberapa wilayah yang telah memulai masa panen di antaranya adalah Kecamatan Peukan Baro dan Kecamatan Indrajaya. Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, harga gabah kering panen (GKP) di kawasan tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada bulan lalu, harga gabah kering panen masih menyentuh angka Rp9.300 per kilogram (kg). Namun, saat ini harga tersebut anjlok menjadi Rp7.800 per kg. Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan petani, mengingat masa panen baru saja dimulai.

Dari total 23 kecamatan di Kabupaten Pidie, baru sekitar lima lokasi yang mulai melakukan pemotongan padi. Petani khawatir jika harga terus melandai seiring dengan bertambahnya luas lahan yang memasuki masa panen raya nantinya.

Indikasi Permainan Harga

Tokoh petani di Kecamatan Peukan Baro, M. Nasir, mengungkapkan ada dugaan permainan pasar yang dilakukan oleh tengkulak atau pengusaha penampung lokal. Menurutnya, penurunan harga ini sengaja dilakukan untuk meraup keuntungan lebih besar di tengah musim panen.

"Ini ada indikasi permainan harga oleh tengkulak atau penampung lokal. Mereka memanfaatkan musim panen. Asalkan mendapat untung banyak, mereka tidak menghiraukan keadaan petani," ujar M. Nasir kepada Media Indonesia, Senin (17/8).

Hal senada disampaikan oleh praktisi pertanian Kabupaten Pidie, M. Yusuf. Ia mengamati bahwa para tengkulak atau pemilik kilang padi lokal kini lebih aktif turun langsung ke lokasi-lokasi yang sedang memanen padi.

Modus yang dilakukan sering kali berupa sistem jemput bola. Saat ada traktor combine yang beroperasi, para pembeli sudah bersiaga di sana dan langsung menentukan harga pembelian secara sepihak.

"Kalau cara begitu, petani tidak tahu berapa harga pasar sesungguhnya. Kadang seperti monopoli harga. Hanya pembeli yang datang ke sawah saja yang menentukan harga," pungkas M. Nasir. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |