Operasi Pencarian Korban Gempa di Pulau Flores.(Dok SAR Maumere)
TIM SAR gabungan mencatat 202 korban akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT), terdiri dari 70 orang meninggal dunia dan 1.182 lainnya mengalami luka-luka dengan rincian 1.517 luka berat, 651 luka ringan dan sisanya luka sedang.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan, data korban luka tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan.
Namun, data korban tersebut berbeda jika dibandingkan data yang dikeluarkan Badan SAR Nasional (Basarnas) pada hari yang sama, yakni 132 korban luka, terdiri dari 40 orang luka berat dan 92 orang luka ringan
Menurut Berton, perbedaan tersebut terjadi karena metode pencatatan yang digunakan berbeda. Basarnas mencatat korban luka berdasarkan orang yang ditemukan, sementara data BNPB yang bersumber dari Kementerian Kesehatan mencatat pasien yang sedang mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
“Jadi, akan ada sedikit perbedaan antara data luka-luka yang kami sampaikan. Ini tidak perlu menjadi polemik karena Basarnas mencatat orang-orang luka dari apa yang ditemukan, sedangkan angka yang kami sampaikan dari Kementerian Kesehatan berdasarkan data di fasilitas kesehatan yang saat ini dilayani,” kata Berton dalam jumpa pers yang disiarkan secara daring.
Menurutnya, aktivitas gempa masih fluktuatif. Hingga Selasa, tercatat 24 gempa susulan dan tujuh di antaranya dirasakan masyarakat. “Aktivitas gempa masih fluktuatif, dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Diperkirakan kondisi ini akan mulai stabil dalam dua sampai tiga minggu ke depan,” kata ujarnya.
Dengan tidak adanya laporan korban yang masih dalam pencarian, operasi Basarnas pada hari-hari berikutnya akan difokuskan pada penyisiran serta penguatan dukungan, terutama di bidang kesehatan.
Sementara itu, Direktur Operasi Basarnas Laksamana TNI Bramantyo mengatakan, memasuki hari keempat, operasi SAR difokuskan pada penyisiran wilayah terdampak. Basarnas menyebut tidak ada lagi laporan warga yang masih dinyatakan hilang atau dalam pencarian.
“Tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan, yang tercatat masih dalam pencarian. Sehingga tim SAR yang ada di lapangan kami fokuskan untuk membantu penyisiran dan membantu proses-proses pelaksanaan kegiatan pencarian dan pemulihan yang dilaksanakan oleh BNPB,” ujarnya.
Selain penyisiran, Basarnas memperkuat dukungan kesehatan di wilayah yang terdampak cukup parah dan sulit dijangkau, khususnya Lambaleda. Sebanyak 40 tenaga medis dari Kodam IX/Udayana dan relawan digeser dari Kupang menuju Reo, Manggarai, menggunakan pesawat Basarnas.
Basarnas juga mengerahkan helikopter untuk mendukung pelayanan kesehatan di Lambaleda. Dalam dua penerbangan, tim menggeser tenaga kesehatan sekaligus mengevakuasi delapan warga ke Labuan Bajo untuk dirujuk ke rumah sakit.
Pengungsi Capai 40.040 Orang
Sementara data pengungsi sampai Selasa sore mencapai 40.040 jiwa. Namun, menurut Berton SP Panjaitan, angka ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, sehingga perlu hati-hati dalam menerjemahkannya. Hal ini juga berkaitan dengan banyaknya dampak psikologis yang dirasakan warga.
Puluhan ribu pengungsi tersebut terbanyak dari Kabupaten Manggarai sebanyak 6.487 orang. Di Manggarai Timur terdapat 966 orang yang mengungsi di posko BPBD, namun sekitar 14.000 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri.
Kemudian di Kabupaten Manggarai Barat terdapat 600 jiwa yang mengungsi, Kabupaten Nagekeo 6.221 jiwa, Kabupaten Sikka 5.681 jiwa, Kabupaten Ende 3.666 jiwa, dan Kabupaten Ngada 1.920 jiwa. Sedangkan, total rumah yang mengalami kerusakan mencapai 11.925 unit, dengan rincian 5.516 unit rusak berat, 1.916 unit rusak sedang, dan 4.493 unit rusak ringan. (PO/E-4)


















































