Ilmuwan Uganda Kembangkan Nyamuk Rekayasa Genetik Berantas Malaria

1 day ago 3
Ilmuwan Uganda Kembangkan Nyamuk Rekayasa Genetik Berantas Malaria Nyamuk hasil rekayasa genetika di laboratorium berkeamanan tinggi.(Dok. ntv/Schlindwein)

PARA ilmuwan di Institut Virus Uganda tengah mengembangkan inovasi rekayasa genetika pada nyamuk untuk memusnahkan penyakit malaria secara total. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman penyebaran malaria yang kian meluas hingga ke Eropa dan Amerika Utara akibat dampak perubahan iklim global.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi parasit Plasmodium yang ditularkan nyamuk Anopheles betina menyerang sekitar 263 juta orang setiap tahunnya. Mayoritas kasus fatal terjadi di benua Afrika, terutama menyasar kelompok balita.

Manipulasi Genetik Tekan Populasi Betina

Inovasi ini dikembangkan oleh konsorsium internasional "Target Malaria" yang melibatkan lebih dari 200 peneliti lintas negara. Kepala Departemen Penelitian Serangga di Institut Virus Uganda, Jonathan Kayondo, menjelaskan bahwa timnya fokus memanipulasi satu gen spesifik untuk meningkatkan jumlah nyamuk jantan.

"Dengan memanipulasi satu gen, kami bisa meningkatkan jumlah nyamuk jantan," ujar Kayondo. Strategi ini krusial karena secara medis hanya nyamuk betina yang mengisap darah dan menularkan parasit. Jika populasi jantan mendominasi selama beberapa generasi, transmisi penyakit diharapkan akan terhenti secara otomatis.

Uji Coba Lapangan di Danau Victoria

Saat ini, larva nyamuk hasil rekayasa dari laboratorium CDC Amerika Serikat telah tiba di Uganda dengan pengamanan ketat. Tim peneliti menjadwalkan uji coba lapangan di Kepulauan Ssese, Danau Victoria, dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan setelah seluruh izin resmi terpenuhi.

Prioritas Keselamatan: Kayondo menekankan bahwa evaluasi keselamatan ekologis adalah prioritas utama. Modifikasi genetik ini harus dipastikan tidak memicu risiko sekunder atau meningkatkan penyebaran penyakit lain di ekosistem liar.

Target Global 2030

Upaya ini sejalan dengan target PBB untuk mereduksi 90 persen kasus malaria global pada tahun 2030. Scott Filler dari Dana Global untuk Melawan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (GFATM) mengingatkan bahwa metode konvensional mulai terbatas karena mutasi parasit yang terus terjadi.

"Sejarah mengajarkan bahwa kita bisa kalah dalam perlombaan biologi jika terus hanya mengobati malaria," tegas Filler. Manipulasi genetik langsung pada vektor penular kini menjadi tumpuan harapan baru dalam dunia sains internasional. (Deutsche Welle/Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |