Logo OpenAi dan ChatGPT(AFP/MARCO BERTORELLO)
PERUSAHAAN kecerdasan artifisial (AI) terkemuka, OpenAI, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai lanskap digital di tanah air. Indonesia tercatat memiliki tingkat adopsi teknologi AI yang sangat masif, bahkan berhasil menembus jajaran 10 besar global sebagai pengguna aktif mingguan terbanyak untuk layanan AI generatif, ChatGPT.
Head of Policy OpenAI Southeast Asia, Sandy Kunvatanagarn, menilai animo tinggi ini merupakan modal besar bagi pertumbuhan ekosistem digital nasional. Namun, ia menekankan bahwa adopsi yang luas harus dibarengi dengan peningkatan kualitas penggunaan.
"Kuncinya adalah membangun kemitraan yang kuat antara penyedia teknologi global, pemerintah, industri, dan masyarakat sipil. Kita perlu memastikan pemanfaatan AI tidak berhenti pada penggunaan dasar, tetapi bergerak ke pemanfaatan canggih (advanced) yang dipadukan dengan konteks dan kearifan lokal," ujar Sandy.
Data Pemanfaatan AI di Indonesia
Berdasarkan data internal yang dirilis OpenAI, integrasi AI dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia sudah sangat signifikan. Berikut adalah rincian posisi dan statistik penggunaan AI di Indonesia:
| Peringkat Pengguna Aktif Mingguan ChatGPT | 10 Besar Global |
| Integrasi AI dalam Aktivitas Harian | 1 dari 5 orang (20%) |
| Penggunaan AI untuk Tugas Harian/Mingguan | Lebih dari 50% masyarakat |
| Pemanfaatan Fitur Token Penalaran (Reasoning Tokens) | Top 5% Global |
| Peringkat Pengguna Codex (Agentic AI) | Top 5 Besar Global |
Salah satu temuan menarik adalah pergeseran tren pada penggunaan agentic AI seperti Codex. Meski awalnya dirancang untuk penulisan kode komputer (coding), lebih dari 50 persen penggunaannya di Indonesia justru datang dari kalangan profesional non-teknis, seperti divisi hukum (legal), riset, hingga pemasaran.
Menutup Kesenjangan Kapabilitas
Kendati data menunjukkan angka yang menjanjikan, OpenAI menyoroti adanya tantangan berupa kesenjangan kapabilitas (capability gap). Saat ini, sebagian besar pelaku usaha dan masyarakat dinilai masih berada di tahap pemanfaatan dasar (basic usage). AI belum dioptimalkan untuk fungsi-fungsi bernilai tinggi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan.
Guna mengatasi hal tersebut, OpenAI meluncurkan laporan bertajuk "Menutup Kesenjangan Kapabilitas Kecerdasan Artifisial di Indonesia". Studi strategis ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai lanskap pengembangan AI di tingkat regional.
Dalam langkah konkretnya, OpenAI menggandeng lembaga riset kebijakan publik Southeast Asia Policy Institute (SEAPPI). Kolaborasi ini bertujuan memformulasikan rekomendasi kebijakan strategis yang tepat bagi pemerintah Indonesia.
Replikasi Kesuksesan Regional
Model kemitraan yang diusulkan di Indonesia ini merujuk pada kesuksesan OpenAI di Thailand. Di sana, OpenAI bekerja sama dengan National Innovation Agency (NIA), jaringan venture capital, dan institusi pendidikan untuk menghadirkan program akselerator AI.
Program tersebut mencakup pelatihan teknis, penyediaan insentif komputasi, hingga dukungan pendanaan bagi startup dan pengembang lokal. Sandy menegaskan bahwa OpenAI membuka peluang besar untuk mereplikasi skema serupa di tanah air.
"Kami sangat bersemangat untuk bekerja sama secara erat dengan pemerintah Indonesia, pemimpin industri, dan masyarakat sipil guna membangun ekosistem AI yang inklusif dan berdampak tinggi," pungkas Sandy. (Z-1)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)




