Ilustrasi.(Magnific)
KEMENTERIAN Luar Negeri Iran melontarkan kritik tajam terhadap Kanada atas dukungannya terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Teheran menyebut langkah Ottawa tersebut sebagai cerminan kebingungan strategis dan ketundukan terhadap intimidasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan melalui unggahan di platform X bahwa Kanada memilih untuk menyenangkan AS. Ironisnya, hal ini dilakukan tepat saat Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan meremehkan kedaulatan Kanada dengan menggambarkan negara tersebut sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat.
Kritik atas Kedaulatan dan Bullying AS
Pernyataan Baghaei merujuk pada unggahan Donald Trump pada Senin (7/9) yang menampilkan peta wilayah AS mencakup Kanada, Greenland, dan Islandia. Dalam masa jabatan keduanya, Trump berulang kali melontarkan komentar mengenai rencana menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS serta aneksasi Greenland.
"Kanada tidak bisa secara kredibel menampilkan dirinya sebagai pejuang perdamaian dan keamanan, kebebasan navigasi, dan hukum internasional sambil secara bersamaan mendukung agresi militer AS dan tindakan intervensi ilegal Washington di wilayah kami," tegas Baghaei.
Ia juga mempertanyakan alasan Ottawa tetap mendukung Washington meskipun sering mengalami perlakuan buruk. Baghaei menyebut bahwa komitmen atau tanda tangan AS sering kali ditulis dengan pensil atau tidak dapat diandalkan.
Ketegangan Perdagangan dan Hubungan Internasional
Kritik Iran ini muncul di tengah memburuknya hubungan dagang antara Kanada dan AS. Pembicaraan perdagangan kedua negara baru saja kolaps bulan lalu setelah Perdana Menteri Mark Carney menyatakan tuntutan AS sudah keterlaluan. Dampaknya, tarif senilai US$20 miliar diberlakukan terhadap barang-barang Kanada, yang dibalas dengan tarif retalasi oleh Ottawa.
Selain Kanada, Iran juga memperingatkan sekutu AS lain, termasuk Korea Selatan. Baghaei memperingatkan Seoul agar tidak terlibat secara militer di Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa partisipasi dalam operasi AS akan dianggap sebagai dukungan langsung terhadap agresi dan akan memicu konsekuensi serius.
Kritik Internal di Amerika Serikat
Di dalam negeri AS sendiri, kebijakan perang ini mendapat penentangan. Anggota DPR AS Jason Crow menyebut konflik tersebut sebagai rawa yang mutlak dan menyerukan penghentian "perang selamanya" di Timur Tengah.
Senator Mark Warner juga mengkritik keras strategi Donald Trump. Ia mengungkapkan bahwa perang pilihan Trump ini merugikan pembayar pajak Amerika sebesar US$100 miliar dengan biaya yang terus membengkak US$1 juta setiap dua menit. Warner menilai pemerintahan saat ini tidak memiliki rencana, strategi, maupun sekutu yang jelas dalam menjalankan konflik tersebut. (CNBC/I-2)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)




