Ilustrasi.(Sky News)
INVESTIGASI Sky News mengungkap skala kegagalan intelijen di balik serangan mematikan terhadap satu sekolah dasar di Iran. Serangan pada 28 Februari di sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab menewaskan 156 orang, termasuk 120 siswa dan seorang bayi yang belum lahir.
Tujuh pakar independen mengatakan bahwa semua bukti mengarah pada tanggung jawab AS. Temuan ini merupakan bagian dari film dokumenter Sky News, Iran School Bombing: The Search for Truth.
Bekerja sama dengan lembaga investigasi Forensic Architecture, Sky News menggunakan materi sumber terbuka untuk merekonstruksi sekolah ruangan demi ruangan serta bangunan lain yang menjadi sasaran serangan. Para ahli yang disajikan dengan temuan kami mengatakan ada banyak peluang bagi analis intelijen AS untuk melihat bahwa bangunan tersebut telah menjadi sekolah.
Dua orang dalam militer mengatakan pula bahwa selama bertahun-tahun kekhawatiran telah muncul di Pentagon tentang informasi penargetan yang sudah usang. Peringatan-peringatan itu, menurut mereka, diabaikan.
Sekitar pukul 10.15 waktu setempat, salah satu guru sekolah, yang sedang melihat ponselnya, melihat bahwa Teheran telah diserang. "Diskusi itu tidak berlangsung lama," kenang Wajiheh Zakari, seorang guru perempuan untuk kelas 6.
"Kami mengatakan perang ada di Teheran. Tidak akan terjadi apa pun di sini."
Zakari mengajar di sekolah putra, yang terletak di lantai dasar gedung. Gedung itu juga menampung sekolah putri di lantai atas.
Sekitar pukul 11 pagi, kepala sekolah putra, Pouran Gholipour, mengadakan pertemuan darurat untuk menutup sekolah. Saat sebagian besar guru keluar, Zohreh Shahriyari tetap tinggal. Ia sedang hamil enam bulan serta kewalahan dengan stres dan kecemasan.
"Ia bahkan tidak bisa berdiri," kata Zakari. "Kami menghiburnya, memijat bahunya, dan akhirnya mengirimnya kembali ke kelasnya." Di lantai atas, di sekolah putri, para guru telah mencapai keputusan yang sama.
Saat gurunya mulai menelepon orangtua, Parastesh yang berusia 11 tahun menyelinap keluar dari kelasnya dan menuju lorong.
Adik laki-lakinya, Ali Asghar, ada di sana, bercanda dengan salah satu teman sekelasnya. Kedua anak laki-laki itu pulang bersama saudara perempuan mereka.
Di lantai bawah, murid-murid Zakari bersiap untuk pulang. Tiga orang sudah dijemput. Salah satu murid kelas 6, Ali Zarei, diberi tahu bahwa kendaraan yang akan menjemputnya telah tiba.
"Saya menutup pintu kelas dan mengikuti Ali untuk melihat ke mana dia pergi," kata Ibu Zakari. "Saat dia turun dari peron, terdengar suara siulan yang menakutkan."
Pukul 11.22, suatu rudal menghantam satu bangunan di sebelah sekolah. "Itulah satu-satunya suara yang kudengar lalu rasanya seperti aku menjadi tuli," kata Zakari.
Sekelompok staf dan siswa yang berada di halaman depan, termasuk guru yang sedang hamil, Shahriyari, dilaporkan berlari masuk ke sekolah untuk menyelamatkan diri.
Di dalam gedung, kepanikan melanda. "Semua orang ketakutan dan berteriak," kata Parastesh. "Aku mengulurkan tangan untuk menarik adikku ke arahku, agar dia aman, tetapi kemudian itu terjadi."
Sepuluh detik setelah rudal pertama, sekolah itu terkena serangan langsung. "Aku terlempar dan jatuh ke bawah reruntuhan. Kurasa aku jatuh ke lantai bawah," kenang Parastesh. "Saat aku jatuh, aku ingat semua terbakar dan aku merasa sedikit demi sedikit tubuhku terkoyak."
Saat asap mengepul di atas kota, bom terus berjatuhan. Setidaknya sembilan bom hanya dalam 85 detik.
Orangtua Parastesh, yang bergegas setelah menerima panggilan dari guru, tiba kurang dari lima menit kemudian. "Semua anak-anak telah tercabik-cabik," kata ayah Parastesh, Jawad. "Ada tangan dan kaki berserakan."
Rekaman yang diverifikasi oleh Sky News, tetapi terlalu mengerikan untuk dipublikasikan, menunjukkan potongan-potongan tubuh berserakan sejauh 45 meter dari sekolah. "Yang terdengar hanyalah jeritan dan tangisan ibu dan ayah," kata Zakari. "Saya tidak punya jawaban untuk mereka. Saya hanya menatap reruntuhan."
Upaya penyelamatan yang putus asa dimulai. Ratusan orangtua, penduduk setempat, dan petugas darurat mencari korban selamat.
Sekitar pukul 14.30, tiga rudal lagi menghujani secara beruntun, menghantam bangunan di dekat sekolah dan menunda operasi penyelamatan. Tiga pakar independen mengkonfirmasi kepada Sky News bahwa rudal yang digunakan dalam serangan kedua ini ialah Tomahawk berdasarkan sirip khas yang terlihat dalam rekaman tersebut.
Umair Yunus, seorang analis militer di perusahaan intelijen pertahanan Janes, mengatakan AS ialah satu-satunya pihak dalam perang ini yang mengoperasikan Tomahawk, bukan Iran, bukan Israel.
Serangan terhadap sekolah tersebut menewaskan 156 orang, termasuk bayi yang belum lahir dariShahriyari. Sky News mengumpulkan dan memverifikasi nama dan foto semua korban kecuali dua orang.
AS masih belum secara terbuka mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut. Para pejabat menegaskan bahwa investigasi resmi masih berlangsung.
Presiden AS Donald Trump bahkan melangkah lebih jauh, terkadang secara langsung menuduh Iran bertanggung jawab. Sky News diberi tahu bahwa investigasi internal militer AS menyimpulkan bahwa kesalahan manusia ialah penyebabnya, tetapi laporan tersebut masih dalam proses peninjauan.
Mantan spesialis penargetan Angkatan Udara AS, Wes Bryant, mengatakan bahwa citra satelit saja menunjukkan bahwa itu ialah serangan presisi, bukan rudal Iran yang meleset. "Anda memiliki titik tumbukan yang hampir tepat di tengah masing-masing dari tujuh hingga sembilan bangunan yang terkena, termasuk sekolah," katanya.
Menggunakan model 3D sekolah, Forensic Architecture mampu mengonfirmasi ukuran, bentuk, dan posisi tepat dari kawah yang paling terlihat. Mereka menemukan bahwa rudal tersebut menghantam tepat di tengah sekolah, di dalam aula pertemuan putra, meninggalkan kawah selebar lima meter.
Trevor Ball, seorang ahli amunisi di Bellingcat, mengatakan ukuran dan kedalaman kawah tersebut konsisten dengan rudal Tomahawk. Ini seperti halnya kawah di gedung terdekat lain yang juga terkena serangan pertama.
Wes Bryant setuju. "Kita tahu AS bertanggung jawab atas penargetan di wilayah ini selama waktu itu dan Israel tidak," tambahnya.
Data dari organisasi pemantau konflik ACLED menunjukkan bahwa sementara Israel berfokus pada utara dan barat Iran, AS-lah yang memimpin di sepanjang pantai selatan. Fokus ini disorot dalam peta yang dibagikan oleh Departemen Perang. Peta tersebut menunjukkan perkiraan lokasi serangan AS selama 100 jam pertama perang, termasuk serangan di sekitar Minab.
Diketahui pula bahwa serangan awal AS di daerah ini melibatkan rudal Tomahawk yang ditembakkan dari kapal Angkatan Laut AS. Satu video yang dibagikan oleh Departemen Perang menunjukkan salah satu kapal, USS Spruance, menembakkan rudal Tomahawk pada tanggal 28 Februari, hari serangan tersebut.
USS Spruance adalah salah satu dari tiga kapal perusak Angkatan Laut AS yang mampu menembakkan Tomahawk yang berlayar bersama dengan kapal induk USS Abraham Lincoln. Mereka ialah satu-satunya kelompok serang kapal induk AS di wilayah tersebut pada saat itu.
Citra satelit ini menunjukkan keempat kapal tersebut di Laut Arab hanya tiga hari sebelum serangan. Sky News dapat menentukan lokasi USS Abraham Lincoln pada hari serangan menggunakan data yang ditampilkan pada konsol kapal dalam satu foto. Data ini pertama kali ditemukan oleh pengguna X IntelWalrus.
Hal ini menempatkan kelompok penyerang hanya 716 km dari Minab, masih dalam jangkauan Tomahawk yang mencapai 1.850 km.
Pada saat serangan kedua, sudah banyak dilaporkan di Iran bahwa suatu sekolah telah terkena serangan.
Forensic Architecture menentukan bahwa serangan kedua terjadi sekitar pukul 14.30 dengan membandingkan bayangan yang terlihat dalam rekaman serangan dengan bayangan dalam model 3D mereka. Ini hampir satu jam setelah berita tentang serangan yang mengenai sekolah pertama kali diberitakan oleh kantor berita resmi Iran.
Serangan tersebut dilaporkan secara luas sejak pukul 13.36, ketika diberitakan oleh kantor berita negara Iran. Masih belum jelas apakah AS memantau laporan-laporan ini, tetapi ini hanyalah serangkaian peluang yang terlewatkan.
Hingga tahun 2015, bangunan tersebut merupakan bagian dari kompleks militer di sekitarnya. Kompleks tersebut, menurut direktori lokal dan situs web sekolah itu sendiri, terkait dengan Brigade Asef, unit rudal di Angkatan Laut IRGC Iran yang bertanggung jawab untuk mempertahankan Selat Hormuz.
Citra satelit dari Mei 2015 menunjukkan tembok perimeter yang aman di sekitar seluruh kompleks, termasuk bangunan yang kemudian menjadi sekolah. Terdapat menara pengawas di setiap sudut dan antena di atap bangunan.
Namun pada Oktober tahun itu, tembok telah dibangun yang secara fisik memisahkan bangunan dari bagian kompleks lain. Salah satu menara pengawas dihilangkan dan tiga pintu masuk baru, tanpa fasilitas untuk pos pemeriksaan atau penjaga, menghubungkan bangunan tersebut ke jalan umum.
Selama beberapa tahun berikutnya, menara pengawas lain dihilangkan. Tanda kapur dan mural muncul di taman bermain. Satu-satunya sisa peninggalan masa lalu militer bangunan itu ialah antena yang masih tersisa di atap.
Pada beberapa hari, satelit bahkan menangkap gambar anak-anak di taman bermain. Sky News dan Forensic Architecture secara independen memverifikasi bahwa itu ialah anak-anak, berdasarkan panjang bayangan mereka.
Semua hal ini dapat dilihat oleh analis intelijen yang memeriksa bangunan tersebut sebagai target. Sekolah itu bukan satu-satunya bangunan yang diubah fungsinya untuk penggunaan sipil.
Sky News mengidentifikasi sembilan struktur lain di kompleks tersebut yang digunakan oleh warga sipil, empat di antaranya juga hancur dalam serangan AS. Citra satelit menunjukkan bahwa pada September 2024 terjadi perubahan signifikan di sudut selatan kompleks tersebut, termasuk empat pintu masuk baru dan penghapusan menara pengawas.
Salah satu pintu masuk ini mengarah ke Persian Gulf Car Wash, yang memiliki halaman Instagram aktif. Pintu masuk lain mengarah ke Kompleks Kebudayaan dan Pendidikan Sayyid Al Shohada.
Tiga bangunannya menampung satu toko, area bermain anak-anak, dan auditorium. Sky News menemukan dan melacak lokasi rekaman dari situs web sekolah yang menunjukkan siswa menggunakan area bermain dan auditorium serta lapangan sepak bola di dekatnya.
Pada tahun 2025, pintu masuk lain ditambahkan untuk klinik medis baru. Pembukaan klinik tersebut dipublikasikan secara luas di media lokal dan termasuk apotek dengan kehadiran media sosial yang aktif.
Klinik dan pusat kardiologi di dekatnya sama-sama terkena serangan, menewaskan pekerja apotek Edris Gharibzadeh dan menghancurkan taman bermain di dekatnya. Dua bangunan di pusat kebudayaan--area bermain dan auditorium--juga hancur.
Seperti banyak infrastruktur sipil di Iran, sekolah dan klinik tersebut berafiliasi dengan IRGC, tetapi Sky News mengonfirmasi melalui kesaksian penduduk setempat, laporan berita kontemporer, dan rekaman yang terverifikasi bahwa keduanya juga digunakan oleh keluarga nonmiliter.
Sky News belum melihat bukti yang menunjukkan bahwa keduanya digunakan untuk tujuan militer. Sekolah dan fasilitas medis dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional.
Sebagai bagian dari investigasi, Sky News berusaha memahami bagaimana analis intelijen dapat melewatkan semua tanda-tanda ini. AS telah lama merencanakan potensi perang dengan Iran dan sebagian dari rencana itu ialah mengumpulkan dan memverifikasi informasi tentang instalasi militer Iran.
Satu dokumen CIA yang dideklasifikasi dari tahun 1987 menunjukkan bahwa bahkan saat itu AS menggunakan citra satelit untuk memantau fasilitas pendukung militer yang mungkin di Minab. AS menyimpan informasi tentang fasilitas militer musuh dalam basis data bernama MIDB yang dikelola dan diperbarui oleh Badan Intelijen Pertahanan Pentagon (DIA).
Komando tempur seperti Centcom kemudian akan menggunakan basis data ini untuk membuat daftar target yang dikembangkan untuk digunakan dalam pertempuran dan seharusnya melakukan verifikasi sendiri. Seorang sumber internal militer AS mengatakan bahwa DIA seharusnya melakukan verifikasi target yang dikembangkan setiap tiga hingga lima tahun.
"Hal itu tidak sering terjadi," katanya. Ia meminta untuk tetap anonim karena takut diadili di pengadilan militer.
"Dulu saya melihat angkanya. Saya pikir DIA mungkin melakukan verifikasi 100 hingga 200 fasilitas per tahun. Kita semua tahu itu tidak cukup, tetapi pimpinan di DIA menganggapnya baik-baik saja."
Ia mengatakan bahwa ia berulang kali memperingatkan pimpinan DIA bahwa analis mereka mengabaikan basis data tersebut demi pekerjaan yang lebih glamor yaitu menulis laporan intelijen, tetapi peringatan ini diabaikan. Keterangannya dikuatkan oleh seorang informan militer AS kedua yang juga meminta untuk tetap anonim.
Kedua pria tersebut mengatakan bahwa badan intelijen AS kehilangan keahlian yang signifikan dalam memantau fasilitas militer sejak berakhirnya Perang Dingin, karena relevansinya yang terbatas dalam operasi kontrapemberontakan AS di Afghanistan, Irak, dan Suriah. "Tidak ada yang mengira kita benar-benar akan menggunakan basis data tersebut dalam skenario operasional," kata informan pertama. "Dan jika kita melakukannya, mereka mengira mereka akan memiliki cukup waktu untuk masuk dan memperbarui secepat mungkin."
Jessica Dorsey, seorang ahli dalam penargetan militer dan teknologi pertahanan, menggambarkan hal ini sebagai sangat bermasalah. "Anda menggunakan informasi yang sudah usang untuk melakukan serangan mematikan," katanya. "Fakta bahwa mereka tahu bahwa ini adalah masalah sistemik menimbulkan begitu banyak masalah."
Sebagai lapisan pertahanan terakhir, Centcom seharusnya memeriksa setiap target terhadap daftar larangan serangan bangunan yang dilindungi seperti sekolah dan rumah sakit. Wes Bryant mengatakan timnya di Pentagon, Pusat Keunggulan Perlindungan Sipil, secara aktif berupaya untuk menciptakan sistem yang lebih baik guna memperbarui daftar-daftar ini ketika Trump menjabat.
"Pada hari yang sama, satu memo diedarkan untuk membubarkan sepenuhnya (Pusat Keunggulan Perlindungan Sipil)," katanya. Dari hampir 40 spesialis dalam tim tersebut, kata Bryant, hanya tujuh yang tersisa.
"Mereka tidak terlibat secara operasional (atau) mengambil bagian dalam investigasi kerugian sipil apa pun," katanya. "Mereka hanya duduk di sana sebagai pusat yang masih ada di atas kertas tetapi mereka sebenarnya tidak melakukan apa pun."
"Kesalahan-kesalahan ini bukan hanya kesalahan," kata Oona Hathaway, profesor hukum internasional di Universitas Yale.
"Ini adalah pilihan tentang bagaimana kita akan memastikan bahwa targetnya sesuai yang kita pikirkan."
Hampir lima bulan kemudian, masih belum ada indikasi kapan--atau apakah--AS akan pernah merilis temuan investigasi resminya. Pada bulan Juni, Trump ditanya oleh Sky News apakah ada orang di pemerintahannya yang akan dimintai pertanggungjawaban. "Pertanyaan itu sangat aneh untuk diajukan pada saat ini, karena Anda berbicara tentang waktu yang sudah lama berlalu," katanya.
Bagi keluarga yang ditinggalkan di Minab, duka cita tak kunjung usai. Selama dua bulan Parastesh keluar masuk rumah sakit, kata ayahnya.
Sekarang keluarga jarang keluar rumah kecuali untuk mengunjungi makam saudara laki-lakinya, Ali Asghar. "Kami hanya pergi ke pemakaman sampai jam 1 atau 2 pagi, lalu kembali," katanya.
"Kami hanya ingin tidur, itu saja. Itulah yang telah kami alami."
Sky News meminta Gedung Putih, Komando Pusat AS (Centcom), Departemen Perang, dan Badan Intelijen Pertahanan (DIA) untuk menanggapi tuduhan yang diangkat dalam investigasi ini. DIA menyuruh kami untuk berbicara dengan Departemen Perang.
Departemen Perang menyuruh Sky News untuk berbicara dengan Centcom. Centcom dan Gedung Putih tidak memberikan tanggapan. (I-2)


















































