Kemenhut melanjutkan proses pendinginan di TNBTS setelah kebakaran sejak 3 Agustus 2026 terkendali.(Dok. MI)
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) melanjutkan proses pendinginan dan penyisiran area bekas terbakar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, pada Senin (17/8). Langkah ini diambil setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan tersebut sejak 3 Agustus 2026 dinyatakan berhasil dikendalikan.
Tahapan pendinginan atau mopping up dilakukan secara intensif untuk memastikan tidak ada sisa bara maupun titik panas tersembunyi yang berpotensi memicu api kembali. Operasi ini melibatkan tim gabungan dari Manggala Agni Balai Dalkarhut Jabalnusra, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD Jawa Timur, serta dukungan penuh dari relawan dan masyarakat setempat.
Kemenhut menekankan bahwa kewaspadaan tinggi masih diperlukan mengingat karakteristik vegetasi yang terbakar meliputi savana, cemara gunung, pakis, hingga semak belukar dengan lapisan serasah yang tebal. Kondisi serasah yang dalam memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan meskipun kobaran api di atas lahan sudah tidak terlihat.
Selain faktor vegetasi, tim di lapangan juga mewaspadai kemunculan pusaran angin lokal atau dust devil. Fenomena ini dinilai berbahaya karena dapat mengangkat material ringan yang masih mengandung bara dan menerbangkannya ke area hijau yang belum terdampak, sehingga memicu titik api baru.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa terkendalinya api bukan berarti ancaman karhutla telah usai.
"Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali tetapi ancaman karhutla belum selesai," ujar Dwi dalam keterangan tertulisnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, menyatakan bahwa fokus saat ini adalah memastikan keamanan total di area bekas terbakar. Ia mengapresiasi kerja keras personel yang telah berjuang selama hampir dua pekan menghadapi medan yang sulit dan kondisi cuaca ekstrem.
Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menambahkan bahwa keberhasilan pengendalian api di Bromo merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor. Dukungan masyarakat dalam hal suplai logistik, informasi lapangan, dan akses air menjadi faktor krusial dalam mempercepat penanganan di tingkat tapak.
Penanganan kebakaran di Bromo ini akan menjadi bahan evaluasi besar bagi Kemenhut untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau 2026. Pemerintah berkomitmen meningkatkan deteksi dini, intensitas patroli, serta koordinasi lintas sektor guna mencegah kerusakan ekologis yang lebih luas di masa mendatang. (Z-10)


















































