Kekeringan di Tasikmalaya, 4.000 Hektare Lahan Pertanian Gagal Tanam

11 hours ago 2
Kekeringan di Tasikmalaya, 4.000 Hektare Lahan Pertanian Gagal Tanam Ekskavator tengah melakukan revitalisasi pengerukan lumpur dilakukan di Sungai Cikunir dan telah berdampak pada lahan pertanian di wilayah Kota, Kabupaten Tasikmalaya pada musim kemarau.(MI/Kristiadi)

MUSIM kemarau yang melanda sejumlah wilayah mulai berdampak serius pada sektor pertanian di Priangan Timur. Kekeringan ekstrem menyebabkan sedikitnya 4.000 hektare lahan pertanian di wilayah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami gagal tanam akibat ketiadaan pasokan air.

Kondisi ini memaksa para petani membiarkan lahan mereka terbengkalai karena tanah yang mengeras dan sumber air yang menyusut drastis tidak memungkinkan untuk diolah.

Hanhan, seorang petani di Tamansari, mengungkapkan bahwa di wilayah Kota Tasikmalaya saja, lahan seluas 1.850 hektare yang tersebar di Kecamatan Kawalu, Tamansari, Indihiang, Purbaratu, Cibeureum, Cipedes, Bungursari, Tawang, Mangkubumi, hingga Cihideung dipastikan gagal tanam.

"Lahan pertanian tidak bisa terselamatkan karena tidak ada suplai air dari aliran Sungai Cikunir yang saat ini tengah dalam perbaikan di tengah musim kemarau. Petani terpaksa meninggalkan lahan dan hanya bisa menunggu hujan turun," ujar Hanhan, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, fenomena El Nino tahun ini membuat banyak petani menyerah. Meski demikian, ia mencatat masih ada sekitar 1.500 hektare lahan yang terancam namun berpotensi diselamatkan jika dilakukan langkah hilirisasi air secara cepat.

Krisis air ini diperparah dengan adanya proyek perbaikan aliran Sungai Cikunteun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Perbaikan yang dilakukan bersamaan dengan musim kemarau membuat distribusi air ke sawah-sawah terhenti total. Kondisi diperburuk dengan menyusutnya debit air di Situ Gede dan Situ Cibeureum.

Senada dengan Hanhan, Suhendar, petani asal Cikunir, menyebutkan bahwa dampak revitalisasi sungai di musim kering sangat memukul produktivitas petani. Di wilayahnya, tercatat sekitar 2.150 hektare lahan mengalami gagal tanam hingga gagal panen.

"Sebelum ada revitalisasi Sungai Cikunteun, pada musim kemarau tahun lalu kami masih bisa mengolah lahan. Namun setelah ada proyek ini, banyak lahan yang gagal. Aliran sungai menyusut dan suplai air ke sawah sangat berat," pungkas Suhendar.

Kini, para petani di Tasikmalaya hanya bisa berharap pemerintah segera memberikan solusi jangka pendek agar dampak kekeringan tidak semakin meluas dan mengancam ketahanan pangan daerah. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |