Kelurahan Sukamiskin di Kota Bandung Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

13 hours ago 2
Kelurahan Sukamiskin di Kota Bandung Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Ilustrasi(Dok Diskominfo Kota Bandung )

KELURAHAN Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan. Berbagai metode telah berjalan, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot dan komposter, hingga pengolahan sampah non-organik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket.

Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail kemarin menyatakan pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, serta berbagai unsur lembaga kemasyarakatan. Salah satu pengolahan yang sudah berjalan adalah budi daya maggot untuk mengurai sampah organik. Saat ini, pengolahan tersebut memiliki kapasitas sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari, meski ke depan ditargetkan dapat mencapai 1 ton per hari.

"Maggot kapasitasnya sekitar 400 sampai 500 kilogram sehari. Targetnya satu ton, tetapi karena maggot merupakan makhluk hidup, tentu dipengaruhi suhu dan faktor lainnya," terangnya.

Menurut Sofian, selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui program pemilahan sampah dari sumbernya. Tercatat sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi organik, non-organik, dan residu. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya atau kurang lebih 250 rumah tangga mulai melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri. Upaya tersebut diperkuat dengan penyediaan sarana pengolahan di setiap RW. Dari total 17 RW, masing-masing minimal memiliki dua unit tempat pengolahan berbasis komposter, sementara sejumlah RW memiliki hingga lima unit.

"Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat mengolah sampah organik secara langsung tanpa harus dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS).
Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah," paparnya.

Selain itu lanjut Sofian, Kelurahan Sukamiskin mengembangkan pengolahan sampah lainnya melalui peyeumisasi sampah. Fasilitas tersebut saat ini didukung enam unit mesin yang digunakan untuk mengolah sampah non-organik menjadi briket. Prosesnya dimulai dengan memasukkan sampah non-organik ke dalam wadah pengolahan. Sampah kemudian ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator. Proses tersebut dilakukan berulang hingga tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.

"Setelah dikeringkan selama sedikitnya tujuh hari, sampah kemudian digiling menggunakan mesin. Terdapat tahapan penggilingan kasar, penggilingan halus, hingga pencampuran bahan perekat berupa kanji sebelum dicetak menjadi briket. Apabila seluruh fasilitas berjalan optimal, kapasitas pengolahan sampah nonorganik tersebut diproyeksikan mencapai 6 ton per hari," tandasnya.

Sofian menyebut, Kelurahan Sukamiskin juga disiapkan sebagai laboratorium pengelolaan sampah, tempat komunitas, RT, RW, lembaga swadaya masyarakat, maupun daerah lain yang ingin melakukan studi tiru dapat melihat langsung proses pengelolaan sampah.

Pengembangan pengolahan briket juga direncanakan diperluas hingga tingkat RW. RW 13, telah menyatakan kesiapan untuk menjadi lokasi produksi. Lahan sekitar 200 meter persegi telah disiapkan, dengan pembagian untuk mesin produksi, penjemuran, dan penyimpanan.

"Rencananya, briket hasil produksi akan dikumpulkan dan diangkut untuk kemudian dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri, seperti pabrik semen, pabrik genteng di Majalengka, maupun industri tekstil," tambahnya.

Selain pengolahan di tingkat kelurahan, lanjut Sofian, Sukamiskin juga mengembangkan kerja sama dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) melalui teknologi plasma dingin untuk mengolah sampah non-organik. Fasilitas tersebut sebelumnya mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah non-organik per hari dalam tahap awal pengoperasiannya. Namun, saat ini mesin sedang mengalami kendala dan masih menunggu komponen pengganti yang harus didatangkan dari luar negeri.

"Kami  berharap, fasilitas tersebut dapat kembali beroperasi dalam waktu dekat sehingga kapasitas pengolahan sampah Sukamiskin semakin besar. Dan jika seluruh fasilitas pengolahan berjalan, Sukamiskin bahkan berpotensi menerima sampah dari wilayah lain karena kapasitas pengolahannya diproyeksikan melampaui timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat setempat," imbuhnya.

Saat ini, timbulan sampah di Kelurahan Sukamiskin diperkirakan mencapai 4 hingga 6 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen masih harus dibawa ke TPS, sedangkan sisanya secara bertahap diarahkan untuk diolah melalui berbagai fasilitas yang tersedia. Pengelolaan sampah dari sumber juga diperkuat melalui program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Di Sukamiskin terdapat sekitar 17 petugas yang bertugas membantu pengelolaan sampah di masing-masing RW.

Petugas tersebut tidak hanya mengambil sampah dari rumah warga, tetapi juga mendorong proses pemilahan sebelum sampah dibawa ke titik pengolahan. Mereka memilah organik. Target dari DLH sekitar 25 kilogram sehari, dan itu sudah terlampaui. Ada yang 60 kilogram bahkan lebih dari 100 kilogram. Di tingkat RT, pengambilan sampah dari rumah warga juga tetap berjalan. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dibawa ke titik Gaslah untuk dipilah. Sampah organik diarahkan ke fasilitas pengolahan seperti komposter maupun maggot, sedangkan sampah nonorganik masuk ke tahap pengolahan berikutnya. (AN/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |