Ilustrasi(Dok Setpres)
KINERJA positif sejumlah BUMN sepanjang semester pertama tahun ini menjadi salah satu prestasi yang paling disorot dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program konsolidasi dan transformasi BUMN yang dijalankan Danantara sejak awal pembentukannya mulai menunjukkan hasil yang konkret. Hal ini tercermin dari lonjakan laba bersih di hampir seluruh sektor strategis BUMM.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto mengatakan kinerja positif terlihat pada BUMN papan atas yang menunjukkan kinerja stabil.
"Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto di Jakarta, Selasa (11/8).
Menurut Toto, kinerja BUMN di bawah Danantara masih sangat berpotensi semakin meroket. Ini seiring langkah streamlining BUMN yang mendorong efisiensi jumlah perusahaan negara akan semakin efektif dan efisien. Toto menilai perbaikan kinerja BUMN perlu terus didorong melalui proses streamlining atau penataan dan konsolidasi perusahaan negara.
"Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," lanjut Toto.
Lonjakan Laba Tertinggi
PT Timah memimpin daftar dengan pertumbuhan laba paling tajam. Perusahaan tambang ini mencatatkan laba sebesar Rp2,71 triliun, melonjak 804,7% dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp300 miliar. Di posisi kedua, PT Pupuk Indonesia membukukan laba Rp8,51 triliun, naik 253% dari sebelumnya Rp2,41 triliun.
Sektor industri dasar dan perkebunan juga menunjukkan performa impresif:
- PT Semen Indonesia: Laba naik 196,5% menjadi Rp193,46 miliar.
- PT Agrinas Palma Nusantara: Mencatatkan kenaikan 150% dengan laba Rp890 miliar.
- PTPN IV PalmCo: Tumbuh 54% dengan perolehan laba Rp3,23 triliun.
Kinerja Sektor Keuangan dan Logistik
Lembaga keuangan BUMN tetap menjadi penopang utama profitabilitas negara. Bank Mandiri mencatatkan laba bersih terbesar secara nominal mencapai Rp30,41 triliun (naik 24,3%). Sementara itu, PT Pegadaian menunjukkan efisiensi tinggi dengan kenaikan laba 84,6% menjadi Rp6,59 triliun.
| PT Pelindo | Rp1,60 Triliun | Rp2,57 Triliun | 60,4% |
| BTN | Rp1,70 Triliun | Rp2,40 Triliun | 40,8% |
| Pertamina Geothermal | US$ 68,93 Juta | US$ 79,61 Juta | 15,5% |
Tren Pemulihan: Berbalik Laba (Turnaround)
Kabar positif juga datang dari entitas yang sebelumnya mengalami kerugian. PT Krakatau Steel berhasil melakukan turnaround dengan mencetak laba di kisaran Rp150–185 miliar, setelah pada periode yang sama tahun lalu merugi hingga Rp1,74 triliun. Langkah serupa diikuti oleh PT Kimia Farma yang kini membukukan laba Rp54,07 miliar, berbalik dari posisi rugi Rp135,61 miliar pada Semester I 2025. (RO/E-4)

















































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)
