KitaBesti, Digitalisasi dari STIKes Respati Guna Mendukung Pencegahan Stunting di Desa Cikunir

19 hours ago 3
KitaBesti, Digitalisasi dari STIKes Respati Guna Mendukung Pencegahan Stunting di Desa Cikunir Para peneliti dari STIK Respati melakukan pendataan kesehatan balita di Desa Desa Cikunir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk penerapan platform Kita Besti(MI/KRISTIADI)

TELEPON pintar memiliki fungsi baru bagi kader Posyandu di Desa Cikunir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Melalui platform "Kita Besti" mereka dapat membuka materi gizi, mencatat hasil pengukuran dan memantau pertumbuhan balita.

Kita Besti dirancang untuk mendukung pencegahan stunting berbasis keluarga. Kita Besti singkatan dari Kita Bersama Edukasi Stunting Integratif dikembangkan melalui Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) pada 2026.

Platform berbasis web dan android tersebut telah diterapkan di salah satu desa lokus stunting, yakni di Desa Cikunir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.

"Kader dan keluarga dapat membuka kembali materi edukasi gizi, memantau tumbuh kembang balita, berkonsultasi kapan saja melalui telepon pintar," ujar Ketua Tim PMP Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Respati, Tupriliany Danefi, dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi kegiatan di Desa Cikunir, Selasa (18/8).

Menurut Tupriliany, edukasi gizi bisa dibuka kapan saja melalui "Kita Besti" yang memiliki tiga tingkat akses. Di antaranya ialah oleh pengelola program, kader posyandu, serta keluarga sasaran, yang  terdiri atas ibu hamil dan ibu balita. Setiap pengguna memperoleh fitur sesuai kebutuhannya.

Fitur utama mencakup edukasi visual, grafik pertumbuhan balita, kalkulator status gizi, panduan MP-ASI, pengingat konsumsi tablet tambah darah dan ruang konsultasi kader "Tanya Besti".

"Keluarga dapat mempelajari kembali informasi gizi tanpa harus menunggu jadwal posyandu berikutnya. Karena, dari pelatihan menjadi data nyata sosialisasi dan pendampingan melibatkan Puskesmas Singaparna, Pemerintah Desa Cikunir, serta 12 kader dari 12 posyandu binaan. Pada akhir pelatihan seluruh kader mampu masuk ke aplikasi dengan menginput data dan membaca rekap dashboard secara mandiri," katanya.

Menurut dia, akhir pelaksanaan dashboard sampai dengan Juli memuat data 279 balita, 6 ibu hamil dan 283 catatan pemantauan. Rekaman membantu kader melihat perubahan dari waktu ke waktu serta mengenali data yang perlu ditindaklanjuti bersama tenaga kesehatan.

Kita Besti, tegasnya, menjadi alat bantu pemantauan dan deteksi dini, bukan pengganti pemeriksaan tenaga kesehatan.

Tim Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) merupakan  Program Pengabdian Kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026. Tim ini diketuai Tupriliany Danefi, dengan anggota Ade Ifah Latifah dan Lilis Lisnawati, mahasiswa Nurazizah, dan Meliani.

Mereka terlibat dalam melakukan input data, dokumentasi, penyusunan konten edukasi. Program didukung Puskesmas Singaparna, Pemerintah Desa Cikunir, dan kelompok kader posyandu dipimpin Milah Jamilah.


MENJAGA PROGRAM TETAP HIDUP


kelengkapan input status gizi masih perlu diperkuat karena pemutakhiran data di sejumlah posyandu terus berjalan. Ke depan, pengelolaan platform akan diserahkan sepenuhnya kepada kader posyandu.

"Kami tetap membuka kolaborasi dengan Puskesmas Singaparna agar program tetap hidup dan berkelanjutan, sehingga dapat direplikasi di wilayah lain. Kita Besti menunjukkan bahwa teknologi menjadi berarti ketika mudah digunakan dan menjawab kebutuhan warga. Saat dikelola bersama posyandu, ruang keluarga, informasi dalam genggaman ini diharapkan membantu setiap anak tumbuh lebih sehat," pungkasnya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |