Jared Kushner.(Al Jazeera)
JARED Kushner, menantu sekaligus penasihat dekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dilaporkan melakukan pertemuan dengan para pemimpin Hamas di Mesir pada Minggu (16/8). Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik intensif untuk memajukan rencana pemerintahan Trump terkait masa depan Jalur Gaza, Palestina.
Kabar pertemuan tersebut dikonfirmasi oleh dua pejabat Hamas dan seorang pejabat lain yang mengetahui jalannya diskusi tersebut. Seorang pejabat AS juga membenarkan keberadaan Kushner di Mesir untuk pembicaraan mengenai Gaza, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut. Semua sumber berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas isu tersebut.
Mendobrak Tabu Diplomasi
Kunjungan Kushner ke Timur Tengah terjadi di tengah kebuntuan rencana pelucutan senjata Hamas yang didukung AS. Bulan lalu, Presiden Trump mengumumkan bahwa Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukannya mencapai kesepakatan dengan Hamas yang bertujuan melucuti persenjataan kelompok tersebut.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian menyatakan penolakannya terhadap kesepakatan itu, yang secara efektif membekukan kemajuan negosiasi. Setelah bertemu dengan pihak Hamas di Mesir, Kushner dijadwalkan segera bertolak ke Israel untuk menemui Netanyahu guna membahas situasi terkini di Gaza.
Dialog langsung antara pemerintah AS dan Hamas merupakan langkah yang sangat jarang terjadi sebelumnya, mengingat AS menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris. Namun, pemerintahan Trump mendobrak tabu tersebut dengan mengadakan beberapa putaran negosiasi guna membebaskan sandera dan mengakhiri kampanye militer Israel di Gaza.
Peran Kushner dan Tantangan Politik
Meskipun tidak memegang jabatan resmi di pemerintahan, Kushner dipercaya oleh Trump bersama pengembang real estat Steve Witkoff untuk memimpin diplomasi dalam berbagai isu strategis, mulai dari invasi Rusia di Ukraina hingga perang Israel-Hamas.
Pelucutan senjata Hamas adalah komponen kunci dari 20 poin rencana Trump untuk wilayah kantong Palestina tersebut. Namun, sebagian besar poin rencana itu belum terealisasi hampir setahun setelah gencatan senjata awal dicapai.
Analis menilai sikap keras Netanyahu mencerminkan pergeseran haluan politik Israel yang semakin konservatif pascaserangan 7 Oktober 2023. Selain itu, upaya Netanyahu untuk menarik simpati pemilih menjelang pemilihan nasional musim gugur ini juga dianggap sebagai faktor penentu penolakannya terhadap kesepakatan damai tersebut.
Tanggapan Hamas dan Mesir
Hamas menyatakan bahwa delegasi pejabat senior yang dipimpin oleh kepala politik Khalil al-Hayya tiba di Mesir untuk bertemu dengan mediator dan penjamin pembicaraan gencatan senjata. Kelompok tersebut menegaskan komitmen mereka terhadap kerangka perdamaian Trump, tetapi menuduh Israel merusak proses tersebut dengan terus membombardir Gaza meskipun ada gencatan senjata.
"Israel meningkatkan eskalasi militer di lapangan dan memperdalam bencana kemanusiaan, bahkan ketika mereka secara eksplisit menolak peta jalan (road map) tersebut," tulis Hamas dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi juga bertemu dengan Kushner. Kantor kepresidenan Mesir mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut membahas proses perdamaian Gaza dan sejumlah isu regional lain. (New York Times/I-2)


















































