Lifelong Learning Dorong Kemampuan Anak Belajar dan Beradaptasi

4 hours ago 1
Lifelong Learning Dorong Kemampuan Anak Belajar dan Beradaptasi Ilustrasi(Dok Istimewa)

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mengubah lanskap dunia kerja membuat kemampuan belajar sepanjang hayat atau lifelong learning semakin dibutuhkan.

Di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, anak-anak tidak lagi cukup hanya mengejar prestasi akademik, tapi juga harus memiliki pola pikir adaptif, kreatif, dan siap terus belajar sepanjang hidup. CEO & Founder Gentem Lifelong Learning Group Kish Gill mengatakan tantangan masa depan menuntut sistem pendidikan untuk bertransformasi. Menurutnya, keberhasilan seseorang di masa depan tak hanya ditentukan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.

"Genstarkids hadir membantu anak usia 2,5 hingga 12 tahun mencintai proses belajar itu sendiri. Saat rasa ingin tahu, kreativitas, dan semangat terus berkembang tumbuh secara alami, fondasi itu akan jadi bekal penting bagi kesuksesan mereka, baik di dunia pendidikan maupun ketika memasuki dunia kerja di masa depan," ujar Kish dalam peluncuran Genstarkids.

Program pembelajaran tersebut diperkenalkan bersamaan dengan peresmian Gentem Center ke-12 di Living World Kota Wisata, Cibubur. Kehadiran Genstarkids menjadi bagian dari komitmen Gentem membangun ekosistem pendidikan yang menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan global melalui pendekatan lifelong learning.

Peluncuran itu juga diisi dengan talk show bertajuk Thriving in Uncertainty: The Lifelong Learning Advantage yang menghadirkan Kish Gill, Pritta Tyas, Gisela Thesa, dan Dr Schott. Diskusi ini menyoroti pentingnya budaya belajar sepanjang hayat sebagai bekal menghadapi dunia yang semakin dinamis.

Kish menjelaskan urgensi lifelong learning semakin nyata seiring transformasi dunia kerja akibat perkembangan AI. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), diperkirakan sekitar 170 juta lapangan kerja baru akan tercipta hingga 2030. Namun, pada saat sama sekitar 92 juta pekerjaan diproyeksikan tergantikan, sementara 40% keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja akan berubah.

Laporan tersebut juga memperkirakan sekitar 66% pekerjaan pada 2030 akan melibatkan kolaborasi antara manusia dan teknologi. Kondisi itu membuat keterampilan seperti komunikasi, berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi semakin penting.

"Perubahan tidak bisa dihindari. Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan hanya pengetahuan anak hari ini, tetapi juga kemampuan mereka untuk terus belajar ketika dunia berubah. Itulah esensi lifelong learning," kata Kish.

Ia menambahkan tantangan itu juga tercermin dari kondisi pendidikan di Indonesia. Berdasarkan hasil PISA 2022 yang dikutip UNICEF Indonesia, hanya 26% siswa berusia 15 tahun yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dasar, sedangkan yang mencapai tingkat tinggi hanya sekitar 5%.
Menurut Kish, kondisi itu menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir dan karakter sejak usia dini.

Atas dasar itu, Genstarkids mengembangkan kurikulum yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni komunikasi, karakter, dan perkembangan kognitif. Anak didorong menguasai bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi lingkungan global, membangun karakter melalui resiliensi dan kolaborasi, serta mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inisiatif.

Proses pembelajarannya menggabungkan berbagai metode seperti project-based learning, experiential learning, cross-curricular integration, hingga inquiry-based learning.

Kurikulum ini pun mengacu pada standar internasional seperti Cambridge English Assessment dan CEFR, serta memanfaatkan berbagai platform pembelajaran global, termasuk Oxford Reading Tree, Code.org, Canva for Education, hingga integrasi AI sebagai bagian dari proses belajar.

Founder Sekolah Bumi Nusantara Montessori Pritta Tyas menilai pendekatan tersebut mampu menjawab kebutuhan pendidikan masa depan karena menempatkan perkembangan anak sebagai fokus utama.

"Yang menarik dari Genstarkids adalah program ini dibangun berdasarkan kebutuhan anak, bukan hanya mengejar hasil akademik. Komunikasi, karakter, dan pertumbuhan kognitif merupakan fondasi penting bagi generasi masa depan," ujarnya.

Melalui Genstarkids, Gentem berharap semakin banyak keluarga Indonesia memahami kemampuan belajar sepanjang hayat merupakan modal utama menghadapi era disrupsi teknologi. Dengan menanamkan kecintaan pada proses belajar sejak dini, anak diharapkan tumbuh jadi pribadi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan dunia yang terus berubah. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |