Memasuki Usia 48 Tahun, AHY Terus Perkuat Kepemimpinan Adaptif

1 week ago 3
Memasuki Usia 48 Tahun, AHY Terus Perkuat Kepemimpinan Adaptif Ilustrasi(Dok Istimewa)

MEMASUKI usia 48 tahun pada 10 Agustus 2026, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai berada pada fase penting perjalanan pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Pengalaman di dunia militer, politik hingga pemerintahan menjadi modal menghadapi tanggung jawab yang semakin luas di tengah tantangan nasional.

Direktur Eksekutif Partai Demokrat Sigit Raditya mengatakan transformasi menjadi bagian penting dari proses kepemimpinan AHY.
"Menjadi saksi perjalanan hidup AHY selama lebih dari tiga dekade, saya menyaksikan langsung transformasi menjadi jalan yang dipilihnya dalam setiap fase pengabdian kepada bangsa dan negara," terang Sigit, Senin (10/8/2026).

Menurut dia, usia 48 tahun menjadi momentum refleksi dan memasuki fase baru. Dalam tradisi Tionghoa, usia tersebut bertepatan dengan Ben Ming Nian, saat seseorang kembali memasuki shio kelahirannya. AHY lahir pada Tahun Kuda, sementara 2026 juga merupakan Tahun Kuda.

Momentum itu, kata Sigit, bukan untuk dimaknai sebagai tahun sial, melainkan simbol siklus baru dengan bekal pengalaman lebih matang.
"Usia 48 tahun bisa dimaknai sebagai awal siklus baru yang dibangun di atas hampir lima dekade pengalaman dan perjalanan hidup. Sebuah titik transformasi menuju pencapaian lebih besar dan bermakna," kata Sigit yang juga pemerhati kebijakan publik, pembangunan infrastruktur dan tata kelola pemerintahan.

Sigit melihat refleksi serupa dalam perjalanan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada usia 48 tahun, SBY dipercaya menjadi Kepala Staf Sosial Politik ABRI dengan pangkat Letnan Jenderal sebelum memasuki panggung politik nasional.

Setelah melewati dinamika politik pada 2001 yang membuatnya gagal melaju dalam pencalonan wakil presiden, SBY kemudian memenangkan Pilpres 2004 dan menjadi presiden pertama Indonesia yang dipilih langsung oleh rakyat.

"Sejarah rupanya sering menyiapkan seseorang melalui berbagai ujian dan tempaan sebelum memasuki tanggung jawab lebih besar," ujar Sigit.

Sigit telah mengenal AHY sejak keduanya menjadi siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang pada 1994. Ia menyaksikan perjalanan AHY dari remaja, perwira TNI hingga memasuki politik dan pemerintahan.
"Karakter dan kepribadian AHY yang saya kenal sejak masa sekolah pun tidak banyak berubah hingga hari ini. Ia tetap sosok yang sama seperti yang saya kenal lebih dari tiga dekade lalu," katanya.

Sigit mengenang saat dirinya menginap di rumah AHY ketika mengikuti seminar nasional pelajar. Menjelang subuh, Sigit dan AHY dibangunkan almarhumah Ani Yudhoyono untuk menunaikan salat. "Saya menyadari salah satu sumber kekuatan AHY hingga kini adalah doa, perhatian, dan kasih sayang yang luar biasa dari seorang ibu," ujarnya.

Setelah lulus SMA Taruna Nusantara, AHY dan Sigit memilih jalan pengabdian sebagai prajurit. AHY menempuh pendidikan di Akademi Militer, sedangkan Sigit belajar di Norwich University Corps of Cadets, Amerika Serikat, sebelum bergabung dengan TNI.
Pada 2016, AHY meninggalkan karier militer untuk memasuki politik. 

Menurut Sigit, keputusan tersebut membutuhkan keberanian dan kemampuan beradaptasi. "Meninggalkan profesi yang jadi bagian dari jati diri untuk memasuki arena politik yang penuh dinamika dan ketidakpastian tentu bukanlah keputusan mudah," katanya.

Tiga tahun kemudian, Sigit mengikuti langkah tersebut dengan mengakhiri karier militer dan memasuki politik. "Transformasi adalah keberanian menemukan cara baru lebih luas dan berdampak dalam mengabdi kepada bangsa dan negara. Bagi saya, AHY adalah inspirasi sekaligus sahabat dalam setiap musim pengabdian yang saya jalani," ujarnya.

Sigit menilai kemampuan beradaptasi menjadi kualitas penting bagi pemimpin nasional di tengah perubahan teknologi, ekonomi, geopolitik dan persoalan sosial.

Ia mengaitkan perjalanan AHY dengan konsep transformational leadership James MacGregor Burns dan Adaptive Leadership Ronald Heifetz yang menekankan pentingnya kemampuan pemimpin untuk terus belajar menghadapi tantangan baru.

"Justru melalui proses transformasi terus-menerus itulah kepemimpinan AHY tumbuh semakin matang, adaptif dan relevan dalam menjawab tantangan zaman yang kian kompleks dan dinamis," kata Sigit.

Menurutnya, perjalanan AHY menunjukkan perluasan ruang pengabdian, dari perwira militer, memasuki politik, memimpin partai, menjadi menteri hingga dipercaya sebagai menteri koordinator. "Setiap fase ini menunjukkan sebuah proses transformasi yang memiliki tujuan jelas yaitu berkontribusi semakin luas dan berdampak bagi bangsa dan negara," ujarnya.

Sigit menegaskan kepemimpinan tidak semata diukur dari jabatan, tetapi dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat."Kepemimpinan sejati tercermin dari seberapa besar dampak dan seberapa luas manfaat yang dapat dihadirkan dari praktik kepemimpinan itu sendiri," tutur Sigit. Di usia 48 tahun, Sigit berharap AHY terus menjalani setiap musim pengabdian dengan kematangan dan keberanian menghadapi tantangan baru. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |