Mengintip Takdir Akhir Matahari Melalui Daur Ulang Bintang Mati di Nebula Helix

19 hours ago 3
Mengintip Takdir Akhir Matahari Melalui Daur Ulang Bintang Mati di Nebula Helix Ilustrasi(NASA/ESA/C. R. O'Dell (Universitas Vanderbilt) dan M. Meixner, P. McCullough dan G. Bacon (Institut Sains Teleskop Luar Angkasa)/Andrew McCarthy.))

Bintang-bintang di jagat raya memang mampu bertahan hingga miliaran tahun, tetapi keberadaan mereka tidaklah abadi. Melalui pengamatan terhadap Nebula Helix, para astronom kini berhasil menyaksikan secara langsung momen langka ketika sebuah bintang yang telah mati hancur dan terserap kembali ke dalam medium antarbintang (interstellar medium). Fenomena daur ulang kosmik ini memberikan gambaran jelas mengenai takdir akhir Matahari kita di masa depan.

Nebula Helix, yang berjarak sekitar 650 tahun cahaya dari Bumi di rasi bintang Aquarius, merupakan contoh dari nebula planet. Bintang di pusat nebula ini telah kehabisan bahan bakar hidrogen untuk reaksi fusi nuklir di intinya. Kondisi tersebut menyulut reaksi di lapisan luar hingga membuat bintang membengkak menjadi raksasa merah. Seiring waktu, lapisan luar tersebut terlepas ke angkasa membentuk Nebula Helix, sementara intinya menyusut menjadi kerdil putih (white dwarf).

Saat nebula mengembang, materialnya perlahan menyebar dan menyatu dengan awan gas antarbintang. Material inilah yang nantinya menjadi bahan baku pembentukan generasi bintang baru. Meskipun teori ini sudah lama diyakini, para ilmuwan sebelumnya belum pernah menyaksikan secara langsung titik persis ketika sisa-sisa bintang mati tersebut terserap kembali oleh galaksi.

"Kami melihat material yang dilepaskan di akhir hayat sebuah bintang hancur dan dikembalikan ke galaksi," ujar Pieter van Dokkum dari Yale University, pimpinan penelitian yang terbit di jurnal Nature pada 12 Agustus tersebut. "Peralihan dari serpihan bintang yang terlihat jelas menjadi gas tipis di antara bintang-bintang selama ini sangat sulit diamati."

Penemuan mendasar ini sejatinya terjadi tanpa disengaja. Tim van Dokkum sedang melakukan kalibrasi rutin untuk instrumen astronomi baru bernama MOTHRA (Modular Optical Telephoto Hyperspectral Robotic Array) di Observatorium El Sauce, Chile. Saat mengarahkan lensa ke Nebula Helix yang sudah sangat dikenal, mereka justru menemukan jaringan struktur melengkung (bow shocks) di area terluar nebula.

Para astronom menemukan 22 gumpalan gas berbentuk busur di halo luar nebula. Gumpalan ini terbentuk akibat material yang terlontar menabrak gas antarbintang. Semakin jauh jaraknya dari pusat bintang, gelombang kejut tersebut tampak kian terkikis dan terfragmentasi. Tim memperkirakan material dari nebula planet ini hanya mampu bertahan sekitar 10.000 tahun setelah berbenturan dengan medium antarbintang sebelum akhirnya hancur total dan terserap sepenuhnya.

Fenomena ini menjadi cermin bagi masa depan Bumi dan sistem tata surya. Tata surya kita sendiri terbentuk 4,6 miliar tahun lalu dari elemen yang dilepaskan oleh bintang-bintang mati terdahulu. Dalam waktu sekitar lima miliar tahun ke depan, Matahari juga akan kehabisan hidrogen, membengkak, dan akhirnya melepaskan lapisan luarnya menjadi nebula planet.

"Di masa depan yang jauh, Matahari akan mengalami proses serupa dan materialnya akan memasuki siklus yang sama," kata van Dokkum. Seluruh elemen yang membentuk Bumi dan kehidupan di atasnya pada akhirnya akan dikembalikan ke Bima Sakta untuk melahirkan sistem bintang yang baru. (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |