Olivia Zalianti (ketiga dari kiri) saat konferensi pers pertunjukan Meradjoet Sendja(MI/HO)
SENJA bukanlah akhir, melainkan sebuah peralihan menuju fajar yang baru. Semangat filosofis inilah yang melandasi pementasan orkestrasi kebangsaan spesial bertajuk Meradjoet Sendja. Pertunjukan monumental ini digelar sebagai puncak dari program Bakti Seniman Nusantara, sebuah inisiatif untuk menghormati warisan para pendiri bangsa sekaligus memberikan ruang bagi para pekerja seni.
Diproduseri dan disutradarai langsung oleh aktris Olivia Zalianty, Meradjoet Sendja merupakan persembahan cinta untuk Republik Indonesia. Olivia mengungkapkan bahwa proyek ini adalah panggilan hati untuk menyambungkan kembali benang-benang perjuangan yang mungkin mulai terputus di tengah arus zaman.
"Saya ingin penonton merasakan bahwa nilai-nilai para pendiri bangsa dan seniman masih hidup dan perlu dibawa ke masa depan. Ini adalah persembahan cinta saya dan suami saya, KGPH Ndaru Kusumo, untuk Indonesia," ujar Olivia.
Makna di Balik Ejaan Kuno "Sendja"
Pemilihan ejaan lama "Sendja" dilakukan bukan tanpa alasan artistik. Menurut Olivia, ejaan ini membawa nuansa visual dan emosional ke era awal kemerdekaan.
Kata "Meradjoet" dimaknai sebagai upaya menyatukan kembali pemikiran yang terpisah, sementara "Sendja" memiliki makna ganda: fase penghujung kehidupan para tokoh bangsa dan seniman, sekaligus pintu menuju hari baru. Tujuannya agar gagasan besar para pendahulu tidak tenggelam bersama senja, melainkan diteruskan kepada generasi penerus.
Kolaborasi Kemanusiaan dan Budaya
Pertunjukan yang akan berlangsung pada Rabu, 26 Agustus di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) ini didukung penuh oleh PARFI 56 dan bekerja sama dengan Dompet Dhuafa melalui program Social Funds of Art & Culture. Marcella Zalianty, selaku Produser Eksekutif sekaligus Ketua Umum PARFI 56, menegaskan bahwa acara ini adalah bukti nyata kepedulian terhadap kondisi seniman senior di Indonesia.
“PARFI hadir sebagai penggerak utama untuk memastikan seniman memiliki ruang berkarya dan dihormati. 'Meradjoet Sendja' adalah bukti bahwa cinta pada profesi dan bangsa harus diperjuangkan bersama,” tegas Marcella.
Sinergi ini juga mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Yudi Latif. Ia menilai kolaborasi ini sebagai perpaduan jiwa antara pemberdayaan dan budaya. Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan sepenuhnya untuk mendanai kegiatan sosial bagi seniman senior dan kaum dhuafa.
Struktur Pertunjukan dan Daftar Pemain
Pementasan ini akan dibagi ke dalam empat babak naratif yang sarat sejarah, mulai dari kelahiran Nusantara hingga refleksi akhir hayat Soekarno. Berikut adalah detail babak pertunjukan dan daftar talenta yang terlibat:
| Babak I | Fajar Nusantara: Kelahiran alam Nusantara dan dialog Soekarno-Hatta. |
| Babak II | Tanah Pengasingan: Perenungan di masa pembuangan yang melahirkan Pancasila. |
| Babak III | Bahasa Keberanian: Monolog Siti Soendari tentang penggunaan Bahasa Indonesia. |
| Babak IV | Pertemuan Satu Malam: Dialog Soekarno dan Tan Malaka, ditutup monolog senja usia Soekarno. |
| Aktor & Penyanyi | Arswendy Bening Swara, Tanta Ginting, Fryda Lucyana, Isyana Sarasvati, Lutfi Ardiansyah, Edopaha, Jane Callista, Shanna Shannon, Ridho Rokhanah. |
| Pendukung Teknis | 200 Paduan Suara dan 500 Pelajar untuk sesi Finale lagu "Pancasila". |
Aktor senior Arswendy Bening Swara, yang memerankan tokoh sejarah dalam pementasan ini, menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat para pendiri bangsa di hadapan generasi muda. "Ini adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah," ujarnya. (Z-1)


















































