Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Madiun menyerahkan alat produksi kepada Kelompok Pengrajin Sapu Kipas Pak Slamet.(Dok.Istimewa)
TIM Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Madiun (PNM) menyerahkan satu unit perangkat Alat Mesin Penyisir dan Perapih Serat kepada Kelompok Pengrajin Sapu Kipas "Pak Slamet". Serah terima berlangsung di rumah produksi home industry Sapu Kipas di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian bertajuk "Penerapan Teknologi Tepat Guna Alat Produksi untuk Meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas UMKM Home Industri Sapu Kipas" yang dilaksanakan pada 2026.
Sasaran program adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kerajinan sapu kipas yang selama ini masih mengandalkan proses penyisiran dan perapihan serat secara manual. Proses manual tersebut dinilai memakan waktu, menuntut tenaga besar, dan menghasilkan kerapian serat yang kurang seragam.
Melalui alat yang diserahkan, tim pengabdian menargetkan proses produksi menjadi lebih cepat dan hasil serat lebih rapi serta seragam. Dengan demikian, kapasitas produksi kelompok pengrajin diharapkan meningkat tanpa harus menambah beban kerja perajin.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat PNM, Budi Artono, menyatakan bahwa penerapan teknologi tepat guna menjadi kunci untuk mengangkat daya saing UMKM lokal.
"Kami ingin memastikan hasil riset di kampus benar-benar sampai dan berguna di lapangan. Mesin penyisir dan perapih serat ini kami rancang sesuai kebutuhan perajin agar mudah dioperasikan, sehingga waktu produksi lebih efisien dan kualitas sapu kipas semakin konsisten," ujar Budi dalam keterangannya, Selasa (18/8).
Ia menambahkan, pendampingan tidak berhenti pada serah terima alat. "Kami akan mengawal pemanfaatan mesin ini agar mitra dapat mengoperasikannya secara mandiri dan merawatnya dengan baik, sehingga manfaatnya berkelanjutan," katanya.
Sesuai ketentuan dalam BAST, alat sepenuhnya dapat digunakan oleh kelompok pengrajin untuk keperluan produksi. Alat diserahkan dalam kondisi baik dan siap dioperasikan sejak berita acara ditandatangani kedua belah pihak.
DUKUNGAN NYATA
Pemilik usaha sekaligus Ketua Kelompok Pengrajin Sapu Kipas, Slamet, menyambut baik bantuan tersebut sebagai dukungan nyata bagi keberlangsungan usaha rumahan yang ia jalankan. Ia mengaku merasakan langsung perubahan sejak alat itu digunakan.
"Setelah ada alat ini, pekerjaan kami jadi lebih mudah dan lebih cepat. Bahan juga tidak boros seperti dulu," ujar Slamet.
Program ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi vokasi dan pelaku UMKM, di mana kampus berperan menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif untuk menjawab persoalan produksi di tengah masyarakat. (E-2)


















































