Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum Jadi Arang Bernilai Ekonomi

2 hours ago 2
Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum Jadi Arang Bernilai Ekonomi Masyarakat diedukasi tentang cara mengolah limbah sorgum.(BPH)

Universitas Bakti Tunas Husada (BTH) mendorong masyarakat di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengolah limbah batang sorgum menjadi arang dan briket. Inisiatif tersebut dijalankan melalui program hibah pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Program ini menyasar Kelompok Tani Cahaya Harapan di Desa Karangkamulyan. Pengolahan batang sorgum diharapkan tidak hanya mengurangi limbah pertanian yang berpotensi menumpuk, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan bahan baku lokal sebagai sumber energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas BTH sekaligus Ketua Tim Hibah, Ummy Mardiana, mengatakan pengelolaan limbah pertanian perlu dilakukan agar keberadaannya tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

“Batang sorgum yang selama ini berpotensi dibuang atau dibakar dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bernilai, salah satunya sebagai bahan baku arang dan briket. Ini menjadi bagian dari upaya kita mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih berkelanjutan,” kata Ummy.

Melalui kegiatan pendampingan, petani diperkenalkan pada teknik karbonisasi batang sorgum dengan kondisi oksigen terbatas untuk menghasilkan arang. Hasil karbonisasi tersebut selanjutnya diolah sebagai bahan baku dan dicetak menjadi briket menggunakan peralatan yang dirancang agar dapat dioperasikan oleh kelompok masyarakat.

Pendampingan teknis terkait karbonisasi dan produksi briket diberikan Hadi Yusuf Faturochman. Ia menjelaskan, kualitas arang menjadi salah satu aspek penting yang menentukan hasil akhir briket.

“Kunci awal pembuatan briket adalah menghasilkan arang yang baik melalui proses karbonisasi yang tepat. Setelah arang diperoleh, bahan kemudian dipersiapkan untuk proses pencetakan menjadi briket,” ujar Hadi.

Untuk mendukung keberlanjutan produksi, Universitas BTH turut menyerahkan mesin atau alat cetak briket kepada Kelompok Tani Cahaya Harapan. Peralatan tersebut diharapkan memungkinkan masyarakat meneruskan kegiatan produksi secara mandiri setelah program pendampingan berakhir.

Teknologi yang diperkenalkan dalam program tersebut juga memiliki produk samping berupa asap dari proses karbonisasi. Dalam rancangan teknologinya, asap tersebut dapat dikondensasikan menjadi asap cair nonpangan yang berpotensi dimanfaatkan untuk keperluan tertentu, antara lain sebagai bahan pendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman maupun pengawet kayu nonpangan.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mencakup strategi pengembangan dan pemasaran produk. Dosen bidang Bisnis Digital Universitas BTH, Hana Diana Maria, memberikan materi mengenai branding, literasi digital, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana memperkenalkan produk kepada calon konsumen. Menurut Hana, kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk perlu dibarengi dengan strategi pemasaran yang tepat agar produk lokal dapat memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Ketika masyarakat sudah mampu menghasilkan produk, tahap berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dapat dikenal dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Pengolahan batang sorgum menjadi arang dan briket menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan konsep ekonomi sirkular di tingkat desa. Limbah pertanian yang sebelumnya berpotensi tidak termanfaatkan diarahkan menjadi produk yang memiliki fungsi sekaligus nilai guna. (E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |