Teknologi Pascapanen Diperkuat, Petani Kopi Kintamani Tekan Risiko Gagal Fermentasi

2 hours ago 2
 Teknologi Pascapanen Diperkuat, Petani Kopi Kintamani Tekan Risiko Gagal Fermentasi Perwakilan petani kopi arabika Desa Belantih menerima bantuan alat fermentasi.(MI/Arnoldus Dhae)

PETANI kopi arabika di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, mulai memperkuat proses pascapanen dengan teknologi tepat guna. Penggunaan teknologi tersebut diarahkan untuk menekan risiko kegagalan fermentasi sekaligus meningkatkan konsistensi mutu dan cita rasa kopi.

Teknologi pascapanen disalurkan tim kolaborasi Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan (PDB) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan Universitas Warmadewa kepada dua unit usaha kopi di Desa Belantih.

Ketua Tim PDB I Wayan Lasmawan mengatakan pengendalian mutu menjadi salah satu tantangan petani kopi di tingkat hulu dan menengah. Standar pengolahan yang belum seragam dapat memengaruhi kualitas hasil akhir.

“Teknologi yang dihadirkan tidak boleh sekadar menjadi pajangan seremonial, tetapi harus benar-benar berdaya guna secara operasional. Kami ingin memastikan petani memiliki alat yang presisi agar setiap gilingan kopi yang dihasilkan memiliki standar mutu yang stabil dan berdaya saing pasar,” kata Lasmawan di Desa Belantih, Rabu (19/8/2026).

Belantih Coffee Farm menerima empat unit tabung fermentasi Kegland FermZilla Gen3 Tri-Conical dengan kapasitas total 220 liter. Peralatan tersebut dilengkapi fitur pemantauan visual, dump valve, dan sambungan Tri-Clover untuk membantu proses fermentasi berlangsung lebih higienis dan terukur.

Pengelola Belantih Coffee Farm I Wayan Tunas Wijaya mengatakan teknologi tersebut membantu mengatasi kendala pengolahan yang sebelumnya menggunakan wadah konvensional.

“Selama ini kami fermentasi pakai wadah seadanya, jadi suhu dan tingkat keasamannya sulit diprediksi. Kadang hasilnya bagus, kadang justru rasa kopinya anjlok karena fermentasi yang tidak terkontrol,” ujar Tunas.

KADAR AIR
Selain fermentasi, program tersebut menyasar pengukuran kadar air biji kopi atau green bean. Kelompok Tani Dharma Kriya menerima satu unit Wile Coffee & Cocoa Moisture Meter dengan rentang pengukuran 6-27 persen.

Ketua Kelompok Tani Dharma Kriya I Wayan Selamat mengatakan alat tersebut membantu petani menentukan waktu pengeringan secara lebih akurat. Sebelumnya, petani lebih banyak mengandalkan pengamatan visual dan intuisi.

“Dulu kami mengira kopi sudah kering cuma dari warna atau bila digigit. Padahal kalau kadar airnya belum pas 12 persen, kopi rawan berjamur saat disimpan di gudang,” kata Selamat.

Dengan alat pengukur digital, petani dapat mengetahui kadar air biji secara lebih pasti sebelum kopi dikemas dan dipasarkan. Pengendalian kadar air juga diharapkan dapat menjaga kualitas biji selama penyimpanan.

Tim PDB menyatakan seluruh rangkaian penyerahan dan pendampingan teknologi pascapanen telah terealisasi 100 persen. Program tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi manajemen usaha berbasis digital di sentra industri kopi Bali. (E-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |