Pakar militer Beni Sukadis menilai ricuh pengibaran bendera Bulan Bintang di Aceh sebagai alarm politik.(Dok. Antara)
KERICUHAN yang terjadi di Aceh dalam beberapa hari terakhir kembali menyoroti sensitivitas pengibaran bendera Bulan Bintang, simbol yang memiliki sejarah kuat dalam dinamika konflik Aceh dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Peristiwa ini memuncak saat peringatan Hari Damai Aceh 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8), yang diwarnai tembakan peringatan oleh aparat.
Pakar militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, menilai kemunculan kembali simbol tersebut lebih tepat dipahami sebagai "alarm politik" ketimbang indikasi kebangkitan gerakan separatis. Menurutnya, pemerintah perlu membaca fenomena ini secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi persoalan keamanan yang lebih luas.
“Menurut opini saya, kemunculan kembali simbol bendera Bulan Bintang lebih tepat dibaca sebagai alarm politik daripada suatu isu pertahanan atau militer,” ujar Beni kepada Media Indonesia, Selasa (18/8).
Beni menjelaskan bahwa setelah 21 tahun perdamaian Aceh, penggunaan simbol tersebut merupakan bentuk ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah pusat. Kekecewaan ini disinyalir menguat pascabencana besar pada akhir 2025 yang mengakibatkan ratusan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur masif di Aceh.
Ia menekankan agar pemerintah menghindari respons berlebihan melalui pendekatan keamanan. Sebaliknya, ruang dialog harus dibuka lebar untuk memperbaiki penanganan pascabencana serta menjawab persoalan ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat di Serambi Mekkah tersebut.
“Pemerintah sebaiknya tidak merespons secara berlebihan dengan pendekatan keamanan, tetapi membuka dialog, memperbaiki penanganan dan pemulihan pascabencana, serta menjawab persoalan ekonomi dan sosial,” tambahnya.
Meski demikian, Beni mengingatkan aparat untuk tetap waspada terhadap potensi kekerasan atau gerakan separatisme. Namun, kewaspadaan tersebut harus dibarengi dengan upaya bijak dalam menyelesaikan akar persoalan yang memicu kekecewaan publik.
Kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman sendiri bermula ketika massa hendak memasang bendera Bulan Bintang di kompleks masjid, namun dilarang oleh aparat TNI yang berjaga. Situasi sempat memanas dan terjadi bentrokan setelah beberapa kali tembakan peringatan dilepaskan ke udara, memaksa massa untuk tiarap secara spontan. (Z-10)


















































