Wisatawan menunggu kapal seusai Trekking atau menaiki perbukitan menuju puncak untuk menikmati panorama tiga teluk ikonik di Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (28/6/2026).(MI/Ramdani)
SEJUMLAH destinasi wisata unggulan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditutup sementara setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut. Penutupan dilakukan untuk memastikan keamanan wisatawan sekaligus memberi waktu bagi petugas memeriksa kondisi infrastruktur di lokasi terdampak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan beberapa destinasi masih memerlukan pemeriksaan dan pemulihan sebelum dinyatakan aman untuk kembali menerima pengunjung.
"Beberapa tempat wisata saat ini masih ditutup untuk sementara, seperti Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende," kata Berton, Selasa (18/8).
Menurut Berton, pemerintah daerah melalui otoritas pariwisata akan menyampaikan perkembangan terbaru terkait pembukaan kembali destinasi yang ditutup. Pembukaan akan dilakukan setelah pemeriksaan serta verifikasi terhadap aspek keselamatan dan kelayakan fasilitas di lapangan rampung.
Di sisi lain, kegiatan wisata di kawasan Taman Nasional (TN) Komodo dan wilayah sekitarnya masih berjalan normal. Wisatawan domestik maupun mancanegara tetap dapat mengakses kawasan tersebut dan tidak dilaporkan mengalami insiden.
Data sementara BNPB menunjukkan delapan objek daya tarik wisata mengalami kerusakan ringan akibat gempa. Dampak juga tercatat pada sektor akomodasi pariwisata.
Sebanyak dua hotel dan tiga homestay dilaporkan mengalami kerusakan berat. Selain itu, 10 hotel dan lima homestay mengalami kerusakan ringan di sejumlah kabupaten terdampak, termasuk Kabupaten Nagekeo.
"Memastikan keselamatan dan keamanan seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta kelayakan infrastruktur pariwisata adalah prioritas," kata Berton.
Ribuan Warga Mengungsi
BNPB sebelumnya menyampaikan lebih dari 5.000 warga mengungsi, baik secara mandiri maupun di posko pengungsian. Sebagian besar warga meninggalkan rumah karena bangunan tempat tinggal mereka mengalami kerusakan akibat guncangan gempa M7,7.
Pendataan sementara oleh tim gabungan di lapangan mencatat 914 rumah mengalami kerusakan berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan.
Gempa juga berdampak pada sejumlah fasilitas publik. Kerusakan tercatat pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.
Hingga Senin (17/8), BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Korban berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak 26 orang, Manggarai Timur 24 orang, Nagekeo delapan orang, Sikka empat orang, Ende dua orang, Manggarai Barat dua orang, dan Ngada dua orang. (Ant/E-4)


















































