Strategi Militer Iran Dapat Ditiru Tiongkok untuk Kalahkan AS

5 days ago 4
Strategi Militer Iran Dapat Ditiru Tiongkok untuk Kalahkan AS Ilustrasi.(Magnific)

PERANG antara Amerika Serikat dan Iran pada 2026 menyajikan hasil geopolitik yang luar biasa sekaligus membingungkan. Terlepas dari segala kekuatan keras (hard power) yang dimilikinya, AS terbukti tidak mampu memaksakan hasil yang menentukan terhadap Iran.

Saat ini, Presiden Donald Trump tampaknya akan menerima kesepakatan pengakhiran perang yang hampir tidak mencakup satu pun dari tujuan perang yang ia canangkan sebelumnya.

Batas Kekuatan Udara dan Keengganan Invasi

Penyebab utama dari kebuntuan ini adalah ketidaksediaan Trump untuk melakukan invasi darat guna memaksa Iran menyerah secara total. Selain itu, terdapat keterbatasan pada aset udara AS--baik rudal maupun pencegat rudal--yang secara drastis mengurangi opsi serangan udara setelah berbulan-bulan melancarkan serangan yang tidak membuahkan hasil signifikan.

Kondisi ini menjadi pelajaran kritis bagi AS dan sekutunya. Masalahnya, AS berencana menggunakan pola serupa jika harus menghadapi Tiongkok di Asia Timur. Iran berhasil menggunakan teknologi anti-access/area-denial (A2/AD) untuk membatasi ruang gerak Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.

Kekuatan udara dan laut Iran yang relatif murah--seperti drone, ranjau, dan rudal--membuat risiko terlalu besar bagi Angkatan Laut AS untuk membuka Selat Hormuz atau beroperasi di dekat pantai Iran.

Catatan Strategis: Tiongkok, dengan sumber daya dan kecanggihan yang jauh lebih besar, hampir dipastikan dapat menerapkan strategi serupa dengan efektivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan Iran.

Iran Dianggap tidak Sebanding dengan Risikonya

AS dinilai tengah menghamburkan stok senjata berharga dalam konflik yang sulit dimenangkan dan tidak mendesak. Kekuatan udara memiliki batas koersif yang terbukti berulang kali dalam sejarah. Trump tidak akan bisa memaksakan kemenangan hanya melalui serangan udara, tetapi ia juga tidak akan menginvasi Iran.

Invasi darat untuk menghancurkan kapasitas pemerintah Iran berisiko tinggi menjerumuskan AS ke dalam perang abadi (forever war) seperti di Irak. Hal tersebut berpotensi menghancurkan kepresidenan dan warisan politik Trump, sebagaimana kegagalan di Vietnam menghancurkan Lyndon Johnson.

Bagi Trump, taruhan di Iran tergolong rendah. Kemenangan Iran bukan merupakan kerugian eksistensial bagi AS, meski harga bensin mungkin akan naik akibat kontrol Iran atas selat tersebut.

Meskipun taruhannya sangat tinggi bagi mitra lokal seperti Israel, Arab Saudi, dan Kuwait, Trump sebagai Presiden AS tampaknya enggan mengambil risiko besar (invasi) demi kepentingan pihak asing.

Ancaman Hegemoni Tiongkok di Eurasia

Berbeda dengan Iran, persaingan dengan Tiongkok dianggap jauh lebih bernilai dan krusial. Dominasi regional Tiongkok di Asia Timur akan jauh lebih mengancam kepentingan AS dibandingkan hegemoni Iran di Teluk Persia. Strategi besar AS sejak era Nicholas Spykman adalah mencegah munculnya hegemon di kedua ujung Eurasia.

Dominasi di zona industri yang kaya ini dapat menciptakan pesaing setara (peer competitor) yang cukup besar untuk mengancam daratan AS. Saat ini, Rusia tidak lagi dianggap sebagai ancaman hegemonik di Barat karena Uni Eropa memiliki sumber daya untuk membendungnya. Namun di Timur, sekutu AS lebih sedikit, lebih kecil, dan sering berselisih.

Sinyal Kelemahan bagi Sekutu

Di bawah kepemimpinan Trump, sekutu-sekutu AS di Asia mulai meragukan kapabilitas dan tekad Washington. Serangan retoris Trump terhadap sekutu dan pelanggaran perjanjian dagang melalui tarif memberikan sinyal bahwa AS tidak dapat diandalkan. Kekalahan strategis dalam perang Iran semakin memperkuat persepsi bahwa AS mungkin tidak memiliki kemampuan teknis untuk bertindak, bahkan jika mereka memiliki kemauan.

Tiongkok diprediksi akan meniru buku panduan Iran: menggunakan aset udara dan laut otomatis yang murah tetapi masif untuk memukul mundur atau menenggelamkan armada permukaan AS yang besar dan lambat. Penggunaan aset-aset canggih AS yang berlebihan di Teluk Persia menunjukkan betapa tidak siapnya Pentagon menghadapi era baru peperangan drone yang murah ini. (19FortyFive/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |