Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat

9 hours ago 1
Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat Prevalensi stunting di Kubu Raya mencapai 30,2%.(Dok. MI)

PREVELENSI stunting pada balita di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, masih mencapai 30,2%, lebih tinggi dibandingkan angka Kalimantan Barat sebesar 26,8% dan rata-rata nasional 19,8% berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah desa di Kubu Raya mulai mengembangkan model pencegahan berbasis masyarakat, mulai dari pendampingan keluarga berisiko, pemanfaatan pangan lokal, hingga pelibatan remaja yang diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain.

Bupati Kubu Raya H. Sujiwo, mengatakan penguatan intervensi hingga tingkat desa menjadi penting agar praktik yang terbukti efektif tidak berhenti pada satu wilayah, tetapi dapat diperluas ke desa-desa lainnya.

“Kami harap dampak yang dihasilkan oleh Program PASTI nantinya dapat kami replikasi di wilayah-wilayah lain, sehingga dapat semakin menurunkan angka stunting di seluruh Kabupaten Kubu Raya,” ujar Sujiwo di Kubu Raya.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pembentukan empat desa model yang menggabungkan edukasi gizi, pendampingan keluarga berisiko stunting, penguatan kader, keterlibatan remaja, serta pemanfaatan sumber pangan yang tersedia di desa.

Di tingkat keluarga, intervensi dilakukan antara lain melalui Pos Gizi DASHAT (PGD) di 20 desa dan kelurahan. Program tersebut menyasar bayi di bawah dua tahun dan ibu hamil berisiko melalui pemberian makanan bergizi, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan bahan pangan lokal.

Pada semester I 2026, Pos Gizi DASHAT telah melibatkan 290 baduta serta 159 ibu hamil berisiko Kurang Energi Kronis (KEK) maupun ibu hamil KEK.

Salah satu peserta Pos Gizi DASHAT di Kubu Raya, Susanti (24), mengatakan perubahan pola pemberian makan yang dipelajarinya selama mengikuti kegiatan berdampak pada pertumbuhan anaknya.

“Saya senang sekali ikut PGD. Setelah mengikuti kegiatan ini, berat anak saya naik hingga 800 gram. Sebelumnya, berat anak saya sulit naik karena nafsu makannya kurang. Setelah ikut PGD dan belajar berbagai menu, saya mencoba mempraktikkannya di rumah dan ternyata anak saya suka. Sekarang nafsu makan anak saya meningkat,” kata Susanti.

Selain pendampingan langsung kepada keluarga, penguatan dilakukan terhadap Tim Pendamping Keluarga (TPK). Sebanyak 67 kader TPK dilatih pada 2025, kemudian 52 kader mengikuti penyegaran pada semester I 2026. Mereka bertugas melanjutkan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga yang memiliki risiko stunting.

Pendekatan tersebut merupakan bagian dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), kemitraan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA, yang diimplementasikan Wahana Visi Indonesia.

Berdasarkan monitoring program sepanjang 2025 hingga semester I 2026, sebanyak 1.188 orang tua baduta dan ibu hamil di Kubu Raya telah mengikuti komunikasi, informasi, dan edukasi bagi keluarga berisiko stunting serta keluarga dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dari jumlah tersebut, 1.137 orang atau 95,7 persen tercatat memiliki pemahaman yang baik mengenai stunting.

Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Michael Susanto, menilai pencegahan sejak periode 1.000 HPK menjadi krusial karena periode tersebut menentukan perkembangan anak dalam jangka panjang.

“Masa depan seorang anak ditentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ketika otak membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf setiap detik sebagai fondasi kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitasnya. Karena itu, stunting harus dicegah sedini mungkin,” kata Michael.

Ia mengatakan keberhasilan empat desa model di Kubu Raya diharapkan dapat membuka peluang replikasi pendekatan serupa ke daerah lain.

“Jika empat desa model di Kubu Raya berhasil, kami optimistis praktik baik ini dapat direplikasi, tidak hanya di 27 desa model Program PASTI, tetapi juga di lebih banyak desa di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Upaya pencegahan juga diperluas kepada kelompok remaja. Sebanyak 33 Duta Generasi Berencana (GenRe) tingkat desa dan kecamatan mendapat edukasi mengenai gizi dan pencegahan anemia untuk menjalankan peran sebagai peer educator. Kampanye yang mereka lakukan kemudian menjangkau 460 remaja berusia 15-19 tahun.

Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Nurizky Permanajati, mengatakan keterlibatan generasi muda penting karena pencegahan stunting perlu dilakukan bahkan sebelum seseorang memasuki fase menjadi orang tua.

“Para anak muda inilah yang nantinya menjadi calon orang tua bagi anak-anak, dan keterlibatan mereka memastikan risiko stunting tidak diturunkan ke generasi selanjutnya,” ujar Nurizky.

Menurut dia, kementerian juga membuka dukungan akses data untuk memperluas replikasi program ke daerah lain.

Di tingkat desa, pendekatan pencegahan juga mulai diarahkan pada persoalan akses terhadap sumber pangan bergizi. Salah satunya dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan untuk kebun gizi serta budidaya ayam petelur.

Kebun tersebut menghasilkan sejumlah bahan pangan seperti terong, kangkung, kacang panjang, bayam, gambas, dan cabai. Sementara budidaya ayam petelur menghasilkan rata-rata 17-20 butir telur per hari yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan keluarga.

Program Manager PASTI Hotmianida Panjaitan mengatakan persoalan stunting tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah di dalam keluarga karena dipengaruhi pula oleh kondisi di sekitar keluarga.

“Pengentasan stunting bukan sekadar permasalahan internal keluarga. Selain latar belakang ekonomi dan edukasi, faktor-faktor eksternal turut menjadi penyebab masalah kegagalan tumbuh kembang anak ini. Dua di antaranya adalah akses ke bahan pangan bergizi dan isu pernikahan anak,” kata Hotmianida.

Penguatan pencegahan berbasis desa juga mencakup tata kelola data. Pada 2025, sebanyak 46 perwakilan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) desa/kelurahan dan empat perwakilan TPPS kecamatan mengikuti penguatan kapasitas pemanfaatan data untuk mendukung intervensi di wilayah masing-masing.

Model intervensi di Kubu Raya kini menjadi salah satu upaya untuk menguji bagaimana pencegahan stunting dapat dijalankan dari tingkat keluarga dan desa dengan menggabungkan pendampingan, perubahan perilaku, ketersediaan pangan bergizi, keterlibatan remaja, serta penguatan tata kelola.

Dengan prevalensi stunting Kubu Raya yang masih berada di atas angka provinsi maupun nasional, keberhasilan pendekatan di desa-desa model akan menjadi salah satu indikator penting apakah pola pencegahan berbasis masyarakat tersebut dapat diperluas ke wilayah lain. (Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |