Tak Lagi Andalkan Utang, Pengusaha Bangun Bisnis Lebih Sehat

1 day ago 8
Tak Lagi Andalkan Utang, Pengusaha Bangun Bisnis Lebih Sehat Ilustrasi(Dok Istimewa)

UTANG kerap jadi bahan bakar ekspansi bisnis. Namun, saat pertumbuhan terlalu bergantung pada kewajiban, modal yang semula menjadi mesin pertumbuhan dapat berubah menjadi beban yang mengancam keberlangsungan usaha.

Hal itu tercermin dari pengalaman sejumlah pengusaha Indonesia yang pernah menghadapi persoalan ekstrem, mulai dari utang Rp350 miliar, 800 cek kosong, pembiayaan Rp140 miliar hingga piutang US$15 juta. Menariknya, persoalan tersebut tidak selalu berujung kebangkrutan. 

Setelah mengurangi atau menghentikan ketergantungan pada utang, mereka membangun kembali bisnis melalui efisiensi, penjualan aset, penguatan produksi, kepercayaan pasar, kemitraan dan pembiayaan lebih terukur. Pengalaman itu mengemuka dalam sebuah talk show di Surabaya, Jatim, yang dipandu pengusaha sekaligus mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Salah seorang narasumber, Tri Dawang, pengusaha sistem teknologi informasi, pernah meyakini utang diperlukan agar bisnis berkembang. 

Namun setelah seluruh kewajibannya dilunasi, ia menemukan bisnis tetap tumbuh dengan pengelolaan lebih disiplin tanpa terus menambah utang.
Pengalaman serupa dialami oleh Mulyono, pengusaha asal Sragen yang menjalankan Turrima Agrobiotech. Selama sekitar 17 tahun, bisnisnya terlihat berkembang, tetapi sebenarnya sangat bergantung pada utang.

Setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World pada 2017 dan mengikuti coaching syariah, utangnya lunas pada 2018. Bisnisnya tetap berkembang dan bahkan menembus pasar Afrika serta Timur Tengah. Di Afrika, Mulyono menghabiskan sekitar Rp2 miliar untuk uji coba pupuk selama dua tahun tanpa pembayaran. Setelah produknya terbukti meningkatkan produksi padi hingga 40%, kepercayaan pasar tumbuh dan membuka peluang bisnis baru.

Syaikhul Hadi, pengusaha sarana produksi pertanian asal Ponorogo, pernah memegang distribusi produk dari sekitar 55 perusahaan dan membuka cabang di berbagai wilayah. Ekspansi itu membuat kewajibannya membengkak hingga pada masa terberat ia menerbitkan 800 cek kosong. Pada 2018, Syaikhul menghentikan ketergantungan pada perbankan dan mulai menyelesaikan kewajiban. Ia menjual produk di gudang serta menawarkan aset untuk membayar tagihan secara bertahap.

Setelah utang selesai, pengalaman sebagai distributor menjadi modal untuk beralih menjadi produsen pupuk sekaligus penjual.
Kisah tersebut menunjukkan keluar dari utang tidak selalu berarti mundur. Deleveraging justru dapat menjadi titik awal membangun model bisnis yang lebih sehat.

Eka Nugraha, pengusaha telekomunikasi asal Bogor, pernah memiliki utang hingga Rp350 miliar. Setahun setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World, utangnya berkurang sekitar setengahnya dan bisnis perlahan berkembang tanpa kembali bergantung pada utang perbankan. Sementara itu, Fauzi Priambodo, pengusaha asal Surabaya, menghadapi pembiayaan yang meningkat dari sekitar Rp2 miliar jadi Rp140 miliar. Untuk memutus siklus tersebut, ia menjual 20 gerai minimarket yang merupakan aset produktif.

Dahlan Iskan menilai keputusan tersebut merupakan bagian penting dari penyelamatan bisnis. “Seperti mobil yang sedang ngebut, harus direm. Kalau tidak direm, bisa masuk jurang,” ujar Dahlan.

Menurutnya, pengusaha harus berani memilih antara mempertahankan skala bisnis atau menyelamatkan kesehatan usaha. Zainur Nurochman pernah menghadapi piutang sekitar US$15 juta yang sulit ditagih. Alih-alih menghabiskan semua energi untuk mengejarnya, ia memilih mengalihkan fokus membangun kembali bisnis kontraktor dan usaha pertanian. Sebagian kerugian ia relakan. “Tugas manusia sebatas ikhtiar,” ujarnya.

Menurut Zainur, kemampuan menerima kerugian dan kembali membangun bisnis merupakan bagian dari daya tahan pengusaha.
Pengalaman itu bukan berarti semua pembiayaan harus dihindari. Khalid Bawazier, pengusaha asal Surabaya, menyampaikan pembiayaan tetap bisa digunakan selama struktur transaksi, akad, kemampuan pembayaran, dan risiko diperhitungkan dengan baik.

Menurutnya, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya pembiayaan, tetapi apakah transaksi dilakukan melalui mekanisme benar dan sesuai prinsip syariah. “Modal pertama pengusaha hebat bukan uang, tetapi ketenangan dan kepercayaan,” tegasnya.

Berbagai pengalaman itu menunjukkan pertumbuhan bisnis tidak selalu identik dengan kesehatan bisnis. Omzet, jumlah cabang, aset dan proyek yang meningkat belum tentu menunjukkan bisnis sehat jika tidak diikuti arus kas yang mampu memenuhi kewajiban.

Pada akhirnya, bisnis tidak hanya dinilai dari seberapa cepat tumbuh, tetapi dari seberapa sehat mampu bertahan, serta melewati krisis dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |