Mimpi Emas di Sangihe, Membangun Kesejahteraan hingga Pariwisata

2 weeks ago 3
Mimpi Emas di Sangihe, Membangun Kesejahteraan hingga Pariwisata Aksi para pekerja di PT Tambang Mas Sangihe (TMS) di Sangihe, Sulawesi Utara.(Dok.TMS)

DI Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, emas bukanlah temuan baru. Kandungan logam mulia itu telah lama menjadi bagian dari cerita tentang pulau di bibir utara Indonesia. Namun, di tengah kekayaan tersebut, masyarakat masih bergulat dengan persoalan klasik, lapangan kerja yang terbatas, pasokan listrik yang belum sepenuhnya andal, serta kesempatan ekonomi yang belum berkembang secepat potensi alamnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan lain ikut membayangi. Aktivitas pertambangan ilegal berkembang dan menyisakan kerusakan lingkungan di sejumlah kawasan. Nilai ekonomi yang dihasilkan mengalir keluar, sementara manfaat bagi masyarakat lokal dinilai masih terbatas.

Di tengah situasi itu, PT Tambang Mas Sangihe (TMS) menawarkan narasi berbeda. Perusahaan yang masih menunggu kepastian operasional ini menyatakan ingin menjadikan pertambangan sebagai pintu masuk bagi pembangunan ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar menambang emas, tetapi menanam benih kemakmuran.

"Jika masyarakat Sangihe sejahtera, maka kami juga akan sejahtera. Kami memperkirakan berada di Sangihe sekitar 20 tahun. Karena itu, menjadi kepentingan kami membantu pulau ini berkembang," ujar Chief Executive Officer PT TMS, Terrence Filbert.

Bagi Filbert, ukuran keberhasilan tambang tidak hanya dihitung dari produksi emas, tetapi juga dari dampak ekonomi yang tercipta di luar pagar konsesi. Ia membayangkan pendapatan pekerja akan berputar di pasar tradisional, warung, jasa transportasi, hingga usaha mikro yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

LAPANGAN KERJA
Perusahaan memperkirakan akan merekrut sekitar 100 pekerja pada tahap awal operasi. Jumlah itu ditargetkan meningkat hingga mendekati 1.000 orang ketika tambang beroperasi penuh. PT TMS juga menyatakan akan memprioritaskan tenaga kerja lokal dan menyiapkan pelatihan bagi warga yang belum memiliki pengalaman di sektor pertambangan.

"Kami tidak hanya menciptakan lapangan kerja secara langsung. Akan ada pula pekerjaan tidak langsung yang muncul melalui sektor jasa, perdagangan, dan rantai pasok operasional perusahaan," katanya.

Berbeda dengan banyak proyek pertambangan yang bergantung pada tenaga kerja dari luar daerah, PT TMS menyatakan akan memprioritaskan perekrutan masyarakat lokal. 

Menurut Filbert, banyak warga Sangihe telah memiliki pengalaman bekerja di industri pertambangan setelah sebelumnya bekerja di berbagai proyek pertambangan di Sulawesi maupun Papua. Ketersediaan tenaga kerja berpengalaman tersebut menjadi keuntungan tersendiri karena mengurangi kebutuhan perusahaan untuk merekrut pekerja dari luar pulau.

PENAMBANG RAKYAT
Namun, rencana perusahaan tidak berhenti pada sektor tambang. Filbert mengatakan TMS tengah mengkaji kemungkinan mendukung pembentukan kawasan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di area konsesi yang tidak digunakan perusahaan. Melalui skema tersebut, masyarakat diharapkan dapat menambang secara legal dengan pendampingan teknis dan akses terhadap fasilitas pengolahan emas.

"Setelah TMS memasuki tahap produksi dan menyelesaikan seluruh proses regulasi yang diperlukan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perusahaan bermaksud membentuk kawasan-kawasan yang sesuai sehingga para penambang lokal dapat beroperasi secara legal melalui skema IPR," ujar Filbert.

Langkah ini diharapkan mampu mengatasi pertambangan ilegal sekaligus memberdayakan masyarakat setempat dengan pendekatan yang terukur dan ramah lingkungan.

ENERGI DAN WISATA
Di sisi lain, perusahaan juga melihat potensi ekonomi Sangihe berada di luar kandungan mineralnya. Gugusan pulau yang berada di kawasan Coral Triangle itu dinilai memiliki daya tarik wisata selam yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Filbert, kendala utama bukan pada kualitas destinasi, melainkan akses transportasi yang masih terbatas. Karena itu, perusahaan membuka peluang bekerja sama dengan pelaku pariwisata dan maskapai penerbangan untuk meningkatkan konektivitas menuju Sangihe. "Sangihe memiliki potensi wisata selam yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana orang lebih mudah datang ke sini," katanya.

PEMBANGKIT LISTRIK
Rencana lain yang diungkapkan perusahaan adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di sekitar Gunung Awu. Menurut Filbert, pasokan listrik yang lebih murah dan stabil akan menjadi fondasi bagi tumbuhnya sektor lain, mulai dari perikanan, industri pengolahan, hingga usaha berbasis rantai dingin. Listrik yang terjangkau bukan hanya kebutuhan operasional, tetapi investasi bagi daya saing ekonomi jangka panjang," ujarnya.

Bagi masyarakat Sangihe, seluruh rencana itu masih berada di atas kertas. Realisasinya bergantung pada proses perizinan, investasi, dukungan pemerintah, serta kemampuan perusahaan membangun kepercayaan dengan masyarakat.

Pulau Sangihe hari ini berada di persimpangan. Di satu sisi, kekayaan emasnya terus menjadi sumber perdebatan. Di sisi lain, muncul harapan bahwa sumber daya alam dapat menjadi titik awal lahirnya ekonomi yang lebih beragam, bukan sekadar menghasilkan logam mulia.

Filbert meyakini visi tersebut akan terwujud dalam 20 tahun ke depan. Sementara, bagi masyarakat di pulau perbatasan ini, ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya emas yang diangkat dari perut bumi, melainkan seberapa besar manfaatnya benar-benar tinggal dan dirasakan di tanah tempat emas itu berasal.

"Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah sejauh mana PT TMS mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, penyediaan energi, pengembangan pariwisata, pertumbuhan usaha lokal, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat Sangihe secara keseluruhan," pungkasnya. (E-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |