Nyeri Lutut Saat Naik Tangga tidak Selalu Sekadar Faktor Usia

6 hours ago 4
Nyeri Lutut Saat Naik Tangga tidak Selalu Sekadar Faktor Usia Ilustrasi(magnific)

NYERI lutut sering kali muncul secara perlahan dan kerap diabaikan. Awalnya, rasa tidak nyaman mungkin hanya terasa saat menaiki tangga, bangkit dari kursi, atau setelah berjalan jauh. Karena intensitasnya yang masih bisa ditahan, banyak orang tanpa sadar mulai mengubah kebiasaan mereka, seperti lebih memilih lift daripada tangga atau mengurangi aktivitas fisik tertentu.

Padahal, perubahan perilaku ini merupakan sinyal penting dari tubuh. Sebuah studi pada 2025 memberikan gambaran mengenai prevalensi masalah ini di tanah air.

Parameter Studi (2025) Detail Data
Jumlah Peserta 3.597 orang dewasa
Cakupan Wilayah 15 Kota di Indonesia
Temuan Osteoartritis Lutut Sekitar 15 persen peserta

Meski angka osteoartritis cukup signifikan, tidak semua nyeri lutut disebabkan oleh pengapuran sendi tersebut. Masalah lain seperti cedera ligamen, meniskus, peradangan, hingga gangguan otot juga dapat menimbulkan keluhan serupa.

Mi/HO--Dokter spesialis ortopedi konsultan di RS Medistra, Prof. Nicolaas C. Budhiparama, MD, PhD (LUMC,NL), PhD (UGM,ID), Sp.OT(K), FICS

Prof. Nicolaas C. Budhiparama, MD, PhD (LUMC,NL), PhD (UGM,ID), Sp.OT(K), FICS, dokter spesialis ortopedi konsultan di RS Medistra sekaligus President of Asia Pacific Orthopaedic Association (APOA) 2025-2026, menekankan pentingnya memperhatikan perubahan fungsi gerak.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sakit lutut terasa, tetapi apakah keluhan tersebut sudah mulai mengubah cara seseorang bergerak. Kalau sebelumnya bisa naik tangga atau berjalan jauh lalu perlahan mulai menghindarinya, itu sudah menjadi informasi penting bagi dokter untuk mencari tahu penyebabnya,” ujar Nicolaas.

Diagnosis dan Penanganan Non-Bedah

Pemeriksaan medis biasanya dimulai dengan memahami pola keluhan, riwayat cedera, dan dampak nyeri terhadap mobilitas. Meski rontgen atau MRI sering digunakan, Prof. Nicolaas mengingatkan bahwa hasil pencitraan harus dibaca selaras dengan kondisi klinis pasien, karena apa yang tampak di gambar belum tentu mencerminkan tingkat nyeri yang dirasakan.

Pada banyak kasus, operasi bukanlah jalan pertama. Penanganan dapat dimulai dengan:

  • Penyesuaian aktivitas harian.
  • Latihan penguatan otot dan fisioterapi.
  • Pengelolaan berat badan.
  • Pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan.

Kapan Operasi Penggantian Sendi Diperlukan?

Keputusan untuk melakukan Total Knee Replacement (TKR) tidak diambil secara terburu-buru. Tindakan ini biasanya dipertimbangkan ketika gangguan sendi sudah berat dan memengaruhi fungsi hidup secara signifikan. Berikut adalah beberapa indikator klinisnya:

Kondisi Pertimbangan Operasi Deskripsi
Intensitas Nyeri Muncul setiap hari dan membatasi aktivitas.
Kekakuan & Stabilitas Sendi kaku signifikan atau terasa tidak stabil saat berjalan.
Deformitas Perubahan bentuk kaki menjadi O atau X.

Peran Teknologi Robotik dan Presisi Dokter

Dalam prosedur TKR, permukaan sendi yang rusak diganti dengan komponen metal dan bantalan khusus. Saat ini, teknologi robotik telah membantu dokter melakukan perencanaan secara virtual sebelum pemotongan tulang dilakukan. Teknologi ini memungkinkan penentuan posisi implan dan keseimbangan ligamen yang lebih akurat.

Namun, Nicolaas menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat bantu. “Operasi penggantian sendi lutut membutuhkan presisi yang tinggi, tetapi teknologi saja tidak cukup. Semua informasi (dari robotik) tetap harus diterjemahkan oleh dokter berdasarkan anatomi dan kondisi setiap pasien. Pengalaman dan kemampuan operator tetap menjadi bagian yang sangat penting,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Hospital Director RS Medistra, Dr. Adhitya Wardhana, MARS, menyatakan bahwa teknologi harus mendukung keputusan klinis yang tepat, komunikasi yang baik dengan pasien, serta proses rehabilitasi yang konsisten.

Pemulihan Pascaoperasi

Proses pemulihan kini berlangsung jauh lebih cepat. Sekitar lima jam setelah operasi, pasien umumnya sudah mulai berlatih berdiri dan berjalan secara bertahap. Penggunaan alat bantu seperti tongkat biasanya hanya diperlukan selama tiga hingga lima hari, diikuti dengan fisioterapi rutin untuk mengembalikan kekuatan dan rentang gerak lutut.

Masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan jika nyeri lutut terus berulang, menyebabkan pembengkakan, atau membuat sendi terasa terkunci. Deteksi dini memberikan peluang penanganan yang lebih beragam sebelum gangguan fungsi menjadi semakin berat. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |