Ilustrasi.(Magnific)
PEMERINTAHAN Donald Trump resmi mengumumkan regulasi baru yang membatasi durasi tinggal pelajar asing di Amerika Serikat. Kebijakan ini menambah hambatan signifikan bagi mahasiswa internasional serta kemampuan universitas dalam merekrut talenta global.
Kebijakan baru yang dikenal sebagai aturan duration of status ini akan membatasi masa berlaku visa pelajar sesuai dengan jumlah tahun masa studi dalam program tertentu, dengan batas maksimal empat tahun. Jika mahasiswa ingin tinggal lebih lama untuk menyelesaikan studinya, mereka wajib mengajukan permohonan perpanjangan status.
Perubahan Drastis setelah Lima Dekade
Selama kurang lebih lima dekade terakhir, visa pelajar diberikan berdasarkan durasi program mereka. Artinya, visa tetap valid selama program pendidikan berlangsung, ditambah masa Optional Practical Training (OPT) atau program imigrasi yang memungkinkan lulusan asing bekerja di AS hingga tiga tahun setelah lulus.
Aturan baru ini membawa dampak besar bagi kelompok berikut:
- Mahasiswa Ph.D.: Program doktoral biasanya memakan waktu enam tahun. Dengan aturan baru, mereka harus mengajukan perpanjangan di tengah masa studi dan menghadapi risiko penolakan.
- Pengguna OPT: Untuk pertama kalinya, hampir semua mahasiswa harus mengajukan perpanjangan status secara terpisah agar dapat menggunakan hak kerja OPT mereka.
- Waktu Persiapan Kepulangan: Masa tenggang untuk meninggalkan AS, pindah sekolah, atau mengubah status setelah kelulusan dipangkas dari 60 hari menjadi hanya 30 hari.
"Selama puluhan tahun, pelajar asing diizinkan masuk ke AS tanpa batas waktu yang pasti, memungkinkan ribuan orang menyalahgunakan sistem imigrasi kita dengan terus-menerus mendaftar kursus demi menghindari keharusan meninggalkan AS," ujar Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri, Markwayne Mullin, dalam suatu pernyataan.
Dampak pada Sektor Teknologi dan Media
Para pembatas imigrasi (restrictionists) telah lama mengincar program OPT. Mereka berpendapat bahwa program ini memungkinkan perusahaan AS mempekerjakan lulusan asing tanpa regulasi ketat yang memastikan mereka tidak dibayar lebih rendah dari lulusan kelahiran Amerika.
Perusahaan di Silicon Valley dan Wall Street sering kali mengandalkan OPT untuk mempekerjakan lulusan baru sebelum mensponsori mereka untuk visa jangka panjang seperti H-1B. Jika akses terhadap OPT dipersulit, peluang mahasiswa asing untuk menetap jangka panjang di AS akan berkurang drastis.
Selain pelajar, aturan ini juga menyasar media asing yang menggunakan visa I. Sebelumnya, jurnalis media Barat bisa mendapatkan visa hingga lima tahun. Kini, sebagian besar visa tersebut dibatasi maksimal 240 hari, sementara bagi warga negara Tiongkok, batasnya hanya 90 hari.
Kritik dari Institusi Pendidikan
American Council on Education memperingatkan bahwa penetapan periode penerimaan yang tetap dan batas waktu yang tidak masuk akal akan berdampak buruk bagi institusi pendidikan, mahasiswa internasional, dan ekonomi AS secara keseluruhan.
Meskipun pemerintah berargumen bahwa langkah ini diperlukan untuk pengawasan dan penyaringan individu di dalam perbatasan, para ahli menilai ketidakpastian ini akan membuat mahasiswa asing, terutama di tingkat pascasarjana, enggan memilih Amerika Serikat sebagai tujuan studi mereka. (Wall Street Journal/I-2)


















































