Ilustrasi.(Magnific)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak pada Kamis (16/7/2026) setelah kedua negara terlibat dalam aksi saling serang yang sengit. Pertempuran ini berpusat di jalur vital Selat Hormuz, memicu kekhawatiran global meskipun mediator Pakistan menyerukan dimulai kembali pembicaraan damai.
Eskalasi terbaru ini terjadi hanya satu bulan setelah penandatanganan kesepakatan pendahuluan yang seharusnya mengakhiri konflik yang pecah sejak Februari lalu. Namun, gencatan senjata tersebut runtuh seiring dengan serangan udara masif AS yang dibalas dengan rudal balistik oleh Teheran.
Saling Balas Serangan Udara dan Rudal
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan dua gelombang serangan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Yordania. Teheran mengeklaim serangan ini merupakan balasan atas serangan Amerika yang menghantam area dekat rumah sakit kanker anak di Ahvaz, Iran barat daya.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa rumah sakit tersebut harus dievakuasi dan pasien dipindahkan ke pusat medis lain. Juru bicara kementerian luar negeri, Esmaeil Baqaei, mengecam tindakan tersebut sebagai aksi biadab. Saksi mata di Ahvaz melaporkan mendengar belasan ledakan intens yang mengguncang kota.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa pasukannya menghantam target militer Iran di beberapa lokasi, termasuk Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Serangan ini bertujuan melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz. Centcom juga menargetkan situs pertahanan pesisir dan rudal jelajah di Pulau Tunb Besar.
Blokade Selat Hormuz dan Ancaman Infrastruktur
Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial bagi pasokan minyak dan gas dunia, kembali menjadi titik panas. Iran telah memblokade selat tersebut dan menyatakan tidak akan membukanya sampai agresi AS berakhir. Sebagai respons, Amerika Serikat juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras melalui Fox News, mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan. "Minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka," ujar Trump.
Menanggapi ancaman tersebut, markas militer Iran memperingatkan bahwa jika AS merealisasikan ancamannya, seluruh infrastruktur di kawasan tersebut akan dihancurkan di bawah pukulan baja angkatan bersenjata Iran.
Dampak Regional:
- Kuwait & Bahrain: Kuwait mencegat drone Iran, sementara Bahrain mengaktifkan sirine serangan udara.
- Irak: Pasukan Kurdi di Erbil menjatuhkan delapan drone bermuatan peledak yang menargetkan konsulat AS.
- Korban Jiwa: Pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 30 orang tewas akibat serangan AS sejak pekan lalu.
Diplomasi di Ambang Kehancuran
Pakistan, melalui juru bicara kantor luar negerinya Tahir Andrabi, terus mendorong semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan melanjutkan pembicaraan teknis berdasarkan nota kesepahaman bulan lalu. Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan kesepakatan tersebut tidak lagi memiliki arti jika Iran tidak mendapatkan manfaat nyata darinya.
Di tengah pertempuran, terdapat sedikit titik terang diplomatik ketika Trump mengonfirmasi pembebasan warga negara AS, Dena Karari, yang ditahan di Iran sejak Desember 2024. Trump menyebut pembebasan ini sebagai "isyarat niat baik" dari Iran, meskipun hal itu belum mampu meredam dentuman meriam di Teluk. (AFP/I-2)


















































