Air Telaga Merdada Makin Kritis, Petani Terus Sedot untuk Selamatkan Tanaman Kentang

5 hours ago 1
Air Telaga Merdada Makin Kritis, Petani Terus Sedot untuk Selamatkan Tanaman Kentang Air Telaga Merdada di Dieng terus menyusut akibat kemarau. Ratusan petani terpaksa menyedot air dengan pompa untuk menjaga tanaman kentang.(MI/Lilik Darmawan)

VOLUME air Telaga Merdada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino Godzilla. Kondisi tersebut mulai mengancam pengairan lahan pertanian ratusan petani di sekitar kawasan telaga.

Sedikitnya 200 petani dari Desa Karangtengah, Buntu, dan Bakal mengandalkan air Telaga Merdada untuk mengairi tanaman pertanian, terutama kentang. Seiring sumber air lain mulai mengering, para petani terpaksa menggunakan pompa untuk menyedot air dari telaga.

Zaenuri, petani asal Desa Karangtengah, mengatakan kondisi air Telaga Merdada mulai mengalami penurunan dalam sekitar dua bulan terakhir. Ia menyebut penyusutan volume air cukup mengkhawatirkan karena kebutuhan air untuk tanaman kentang tetap tinggi. "Sudah sekitar dua bulan menyedot air dari Telaga Merdada karena untuk pertanian sudah kering," kata Zaenuri.

Untuk mengairi lahan kentang seluas sekitar 2.500 meter persegi, Zaenuri harus menggunakan pompa yang membutuhkan bahan bakar sekitar tujuh liter per hari. Dengan harga bahan bakar (BBM) jenis pertalite sekitar Rp11.000 per liter, kebutuhan biaya operasional pompa menjadi beban tambahan bagi petani.

Dalam sebulan, kebutuhan bahan bakar untuk pengairan mencapai sekitar 50 liter. Sementara untuk lahan yang lebih luas, kebutuhan bahan bakar dapat mencapai 100 liter hingga tanaman memasuki masa panen.

Menurut Zaenuri, petani dari tiga desa, yakni Karangtengah, Buntu, dan Bakal, saat ini sama-sama mengandalkan Telaga Merdada. Jika kondisi kemarau terus berlangsung, volume air telaga diperkirakan semakin kritis dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Petani lainnya dari Desa Buntu, Hanif, mengatakan aktivitas penyedotan air dari Telaga Merdada telah dilakukan selama sekitar dua bulan. Pompa digunakan untuk menjaga tanaman kentang tetap mendapatkan pasokan air. "Sudah dua bulan menyedot, harus pakai air. Kalau kondisi telaga masih mencukupi, mungkin untuk satu bulan lagi masih aman," ujar Hanif.

Kondisi permukaan telaga juga mulai ditumbuhi tanaman air, di antaranya eceng gondok. Meski demikian, air Telaga Merdada masih menjadi tumpuan petani untuk mempertahankan tanaman mereka selama musim kemarau.

Farid, petani asal Desa Karangtengah, mengatakan dirinya mulai menggunakan air Telaga Merdada sejak Mei untuk mengairi tanaman kentang dengan luas lahan lebih dari satu ha.

Pengoperasian Pompa

Ia mengoperasikan tiga mesin pompa dengan kebutuhan bahan bakar sekitar 15 liter per hari. Masing-masing mesin membutuhkan sekitar lima liter bahan bakar. "Kalau kebutuhan solar sekitar 15 liter. Ada tiga mesin, rata-rata satu mesin lima liter. Kami menyedot setiap hari," katanya.

Menurut Farid, kebutuhan pengairan tersebut diperkirakan berlangsung hingga sekitar empat bulan. Ia berharap musim kemarau tidak berlangsung terlalu panjang karena kondisi telaga diperkirakan akan semakin surut. "Airnya masih cukup. Kalau musim kemaraunya tidak panjang. Kalau dua bulan lagi, sepertinya sudah surut," ujarnya.

Biaya bahan bakar juga menjadi salah satu persoalan yang harus ditanggung petani. Farid menyebut harga solar yang digunakan sekitar Rp6.800 per liter. Di sisi lain, harga kentang di tingkat petani saat ini berkisar Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram.

Petani lainnya, Kasno, 43, mengatakan penyedotan air dari Telaga Merdada menjadi pilihan karena tanaman kentang membutuhkan pasokan air yang cukup, terutama pada musim kemarau.

Menurut dia, kondisi kekeringan membuat petani tidak bisa hanya mengandalkan sumber air alami. Jika tanaman tidak mendapatkan penyiraman secara rutin, pertumbuhan kentang dapat terganggu dan berpotensi menurunkan hasil panen.

"Kami mulai menyedot air pada pertengahan Juli. Saya mengalirkan air dari Telaga Merdada ke areal kentang milik saya sejauh sekitar satu kilometer," ujar Kasno.

Biaya Bahan Bakar

Untuk mengoperasikan pompa, Kasno harus menyiapkan bahan bakar solar. Dalam sekali pengoperasian, ia membutuhkan sekitar lima liter solar dengan harga Rp10.000 per liter.

Ia biasanya menghidupkan pompa setiap dua hingga tiga hari sekali. Penyiraman dilakukan sejak tanaman kentang mulai ditanam hingga memasuki masa panen.

"Saya memompa air dari Telaga Merdada dua sampai tiga hari sekali, mulai tanaman kentang usia nol hari," katanya.

Kasno mengatakan kebutuhan air yang tinggi membuat biaya produksi pada musim kemarau meningkat dibandingkan saat musim penghujan. Untuk lahan kentang seluas sekitar 5.000 meter persegi atau 0,5 hektare, sedikitnya diperlukan 15 kali penyiraman hingga tanaman siap dipanen.

Setiap kali penyiraman, petani harus memperhitungkan biaya bahan bakar untuk menjalankan pompa serta biaya operasional lainnya. Kondisi tersebut membuat pengeluaran petani bertambah di tengah ketidakpastian hasil panen.

"Pada musim kemarau memang harus mengeluarkan ongkos produksi lebih tinggi dibandingkan dengan musim penghujan," ujar Kasno.

Hal serupa dialami Solikin, 52, petani asal Desa Bakal, Kecamatan Batur. Ia mengatakan kekeringan membuat penyedotan air dari Telaga Merdada menjadi kebutuhan untuk menjaga tanaman kentang agar tidak kekurangan air.

Solikin mengaku harus menyiapkan sekitar Rp100.000 untuk membeli solar setiap tiga hari. Pompa digunakan untuk mengalirkan air dari telaga menuju lahan kentangnya yang luasnya sekitar satu hektare.

"Saya membutuhkan biaya Rp100 ribu untuk membeli solar. Setiap tiga hari sekali harus menyedot air untuk menyelamatkan tanaman kentang dengan luas sekitar satu hektare," kata Solikin.

Bagi petani di kawasan Dieng, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman hortikultura. Saat musim kemarau berlangsung, kebutuhan tersebut mendorong petani memanfaatkan sumber air yang masih tersedia, termasuk Telaga Merdada.

Namun, penggunaan pompa juga berarti petani harus menanggung tambahan biaya produksi. Semakin panjang musim kemarau dan semakin jarang hujan turun, semakin sering pula pompa harus dioperasikan untuk mempertahankan tanaman. 

"Inilah yang meningkatkan beban biaya yang harus ditanggung petani kentang di kawasan dataran tinggi Dieng,"tambahnya. (Z-2)
 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |