Serangan udara ke pangkalan militer Suriah.(Media Sosial X)
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya memecah keheningan dan mengakui pihaknya telah melancarkan serangan udara terhadap sebuah pangkalan militer di wilayah barat laut Suriah pada Selasa. Langkah militer ini langsung memicu kritik tajam dari pemerintah Amerika Serikat yang menilai aksi tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak perlu.
Netanyahu mengonfirmasi Israel menyerang Pangkalan Udara Abu al-Duhur di dekat Aleppo menyusul tuduhan adanya rencana penempatan pasukan Turki di fasilitas militer tersebut dalam waktu dekat. Menurutnya, potensi masuknya militer Turki telah mengancam kesepakatan keamanan yang selama ini berjalan di wilayah tersebut.
"Israel berulang kali memperingatkan Suriah bahwa penempatan seperti itu akan menimbulkan ancaman bagi keamanan Israel," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan di platform X. "Israel tidak akan mentolerir ancaman terhadap keamanannya, dan akan menyambut baik kembalinya status quo."
Netanyahu menegaskan Israel dan Suriah, meski tidak memiliki hubungan diplomatik formal namun sempat terlibat pembicaraan di bawah naungan pemerintah Donald Trump, selama ini mempertahankan apa yang ia sebut sebagai "status quo dalam masalah keamanan." Namun, potensi pengerjaan fasilitas udara bersama Turki dinilai dapat merusak tatanan keamanan yang ada.
Hubungan antara Netanyahu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sendiri dikenal terus memanas melalui perselisihan publik yang panjang. Netanyahu kerap menuduh Erdogan mendukung kelompok Hamas serta secara terbuka menentang penjualan jet tempur F-35 buatan AS ke Ankara. Sebaliknya, pejabat Turki mengkritik keras Israel dan menyebut negara tersebut sebagai "beban yang tidak lagi dapat ditanggung oleh kemanusiaan."
Sebelum pengakuan resmi Netanyahu keluar, utusan khusus Amerika Serikat Tom Barrack telah menyampaikan keprihatinan mendalam atas laporan serangan udara yang menghantam bandara militer Abu al-Duhur tersebut.
"Kami sangat prihatin bahwa serangan udara Israel yang dikonfirmasi di Pangkalan Udara Abu al-Duhur merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak mendorong stabilitas regional," kata Barrack.
Barrack menambahkan bahwa pihak Washington terus mendorong seluruh pihak yang terlibat untuk memprioritaskan "diskusi yang logis" ketimbang melanjutkan insiden militer yang berisiko memperluas konflik kawasan. (CNN/Z-2)


















































