Febrie Adriansyah Diduga Beri Perintah "Dinginkan Uang"

3 hours ago 1

SERANGKAIAN penggeledahan yang dilakukan aparat kepolisian pada 8-10 Juli menguak kembali hubungan antara mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, dengan pengusaha Ferry Yanto Hongkiriwang alias Ferry Boboho. Setelah melakukan gelar perkara, polisi menetapkan Febrie sebagai tersangka dalam tiga kasus korupsi.

"Kami telah melaksanakan gelar perkara dan menetapkan dua tersangka, yaitu saudara DR dan saudara FA," kata Kepala Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Polri Inspektur Jenderal Totok Suharyanto, Sabtu, 11 Juli 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Polisi menduga Febrie terlibat dalam korupsi PT Asabri, PT Krakatau Steel, dan penyimpangan pengadaan pasokan batu bara. 

Penyidikan terhadap Febrie berkaitan dengan penangkapan Ferry Boboho pada 29 Juli 2026. Polisi menangkapnya atas tuduhan penganiayaan terhadap anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Penganiayaan itu terjadi saat Ferry memergoki dua anggota Densus 88 yang memata-matainya di Hotel Borobudur empat hari sebelumnya.

Saat memeriksa Ferry, penyidik juga menggali soal Febrie Adriansyah. Ferry dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan mantan Jampidsus itu.

Pemeriksaan Ferry mengungkap dugaan pemerasan terhadap pengusaha properti, Tan Kian, dalam penanganan korupsi PT Asabri oleh Kejaksaan Agung. Febrie menjabat sebagai Direktur Penyidikan Jampidsus pada 2022 dan mundur pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Tan Kian diduga ditakut-takuti akan turut dijadikan tersangka dalam kasus PT Asabri. Laporan majalah Tempo edisi Ahad, 12 Juli 2026 berjudul  Peran Elite di Sekitar Presiden dalam Konflik Polisi-Jaksa mengulas peristiwa ini. Singkatnya, Febrie diduga meminta sejumlah uang kepada Tan Kian agar tidak menetapkannya sebagai tersangka. Ferry menjadi perantaranya.

Pada 2022, Ferry menerima uang Sin$ 5 juta yang dibungkus tas merah dari sekretaris Tan Kian. Penyerahan uang terjadi di hotel bintang lima di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dengan kurs saat itu, nilainya sekitar Rp 55 miliar. Ferry mengambil jatah Rp 5 miliar. 

Setelah menerima uang dari sektretaris Tan Kian, Ferry meluncur ke kediaman Febrie di Jalan Radio, Kramat Pela, Jakarta Selatan. Namun, Febrie enggan menerima langsung uang itu. “'Pegang dulu, dinginkan',” ujar Ferry kepada penyidik menirukan perintah Febrie. Saat itu persidangan kasus Asabri masih berlangsung. 

Saat persidangan beres, Ferry menghubungi Febrie untuk menyerahkan duit Rp 50 miliar dari Tan Kian. Febrie mengatakan uang itu bakal diterima oleh utusannya di depan salah satu restoran ayam cepat saji di Cipete, Jakarta Selatan.

Utusan itu diketahui bernama Nurman Herin. Setelah menerima duit dari Ferry, Nurman berjalan menuju Koin Money Changer yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari lokasi pertemuan. Lokasi Money Changer ini tepat bersebelahan dengan kafe d’Clan Signature. Kedua tempat itu juga turut digeledah polisi dalam kasus yang menyeret Febrie.

Polisi menyita uang Rp 7,2 miliar dari tempat penukaran uang itu dan Rp 60 miliar dari kafe de'Clan Signature. Kafe itu dulu bernama restoran Gontran Cherrier. Saat itu Ferry adalah pengelolanya. Kafe itu juga jadi tempat penguntitan Febrie oleh anggota Detasemen Khusus Antiteror atau Densus 88 pada 19 Mei 2024, dua bulan sebelum penguntitan Ferry Hongkiriwang.

Kafe de'Clan kini diduga dikelola oleh Nurman dan advokat bernama Don Ritto. Ferry menawarkan lisensi tempat makan itu kepada Febrie. Febrie setuju dan menyerahkan pengelolaannya pada Nurman dan Don. Dalam tiga kasus ini, Don Ritto turut ditetapkan sebagai tersangka. Don membantah uang yang disita dari kafenya terkait dengan kejahatan.

Febrie juga membantah terlibat dalam tiga korupsi. Ia membenarkan pernah menangani korupsi PT Asabri, tapi dia berdalih semua prosesnya transparan. "Tinggal dicek," katanya, Kamis pekan lalu.

Soal kafe de'ClanSignature, ia membantah memiliki keterlibatan dengan bisnis itu. Ia juga membentah soal kepemilikan 74 kg emas dan uang senilai Rp 282 miliar di rumahnya di Sentul yang digeledah polisi. "Semua kami yakin dapat dipertanggungjawabkan dengan benar,” kata dia.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |