PASAR tidak lagi hanya menjadi tempat transaksi jual beli barang. Di The Hallway Space yang terletak di lantai dua Pasar Kosambi Bandung, sekitar 40 orang dari usia bocah hingga lanjut usia mengisi waktunya di akhir pekan untuk menggambar bersama komunitas Pensil Kertas secara gratis. Peserta lama dan baru mengerahkan imajinasi dan kemampuan menggambarnya selama 2,5 jam.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Komunitas yang mewadahi kreativitas warga Bandung dan sekitarnya itu rutin menggelar aktivitas Sabtu Menggambar di dalam pasar setiap pekan sejak 2025. Pada Sabtu, 11 Juli 2026 misalnya, dengan tema Dunia di Balik Objek, peserta gambar diajak mengembangkan bentuk lampu duduk dengan cerita masing-masing pada karyanya mulai pukul 13.00–15.30 WIB. Selain Sabtu, terkadang aktivitas menggambar bareng itu digeser waktunya sesuai tajuk yakni Drawing on Sunday yang lokasinya di luar pasar, seperti kafe, area Balaikota Bandung atau di hutan kota Babakan Siliwangi.
Sebelum hadir, peserta biasanya mendaftar dulu lewat akun Instagram komunitas beberapa hari sebelum acara. “Sekarang biasanya minimal 20 orang, maksimal kami batasi 50 peserta,” kata pendiri komunitas Taufik Apuk saat ditemui Tempo, Sabtu, 11 Juli 2026. Setelah semua gambar terkumpul, setiap peserta berhak memilih karya yang menurutnya bagus atau disukai lewat tempelan stiker. Beberapa peserta yang gambarnya banyak dipilih mendapat penghargaan seperti gantungan kunci atau buku gambar.
Peserta seperti Felis Septa Laraina, sejak April lalu rutin ikut menggambar sambil ditemani ibunya. “Kalau gambar sendiri sepi tapi kalau bareng terasa seru bisa ketawa gembira,” kata pelajar kelas 1 Sekolah Menengah Pertama berusia 12 tahun itu. Selain untuk bersosialisasi, Felis juga mendapatkan manfaat yaitu bisa belajar menggambar dari orang lain.
Sementara M.Kusni yang sudah tujuh kali bergabung mengaku tertarik ikut untuk mengisi waktu. “Sambil cari klien dan relasi siapa tahu bisa usaha bareng,” kata lulusan Desain Grafis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu yang telah pensiun dari pabrik tekstil. Beberapa peserta lain berstatus mahasiswa dari berbagai jurusan dan kampus di Bandung serta pelajar sekolah. Mereka membawa alat gambarnya sendiri dari kertas atau buku, pensil, pena, cat atau spidol warna. Selain memakai tema tertentu, ada juga sesi menggambar bebas, serta latihan dasar menggambar dan anatomi tubuh.
Menurut Taufik, sebagian kreasi gambar anggota komunitas dipakai untuk dibuat menjadi produk seperti gantungan kunci, stiker, tas, kaos, syal, art print, serta gambar potret. Semua barang itu dijual di toko komunitas dengan sistem pembagian yang adil. Omzet yang diperoleh komunitas digunakan untuk keperluan operasional kegiatan seperti makan, minum, serta membayar honor penjaga stand saat bertugas di acara pameran. Kas komunitas dan saku anggota juga bisa terisi dari les privat menggambar.
Dibentuk sejak 2009, sekitar 20 dari 108 anggota biasanya terlibat aktif dalam kegiatan. Sempat vakum selama pandemi Covid-19, komunitas Pensil Kertas sejak awal 2025 berkegiatan menggambar di Pasar Kosambi dari sebelumnya berlokasi nomaden. Rencananya mereka akan menghelat pameran bersama untuk mengapresiasi karya anggota komunitas dan masyarakat umum.
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)















