Jared Kushner.(Al Jazeera)
JARED Kushner, menantu mantan Presiden AS Donald Trump, menyerukan perombakan radikal terhadap sistem dukungan finansial untuk Jalur Gaza, Palestina. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan tertutup dengan para menteri Eropa dan Arab yang meluncurkan paket pemulihan senilai hampir €900 juta (sekitar Rp15,6 triliun) untuk wilayah tersebut.
Berbicara melalui konferensi video, Kushner menolak inisiatif bantuan Gaza yang selama ini berjalan. Ia menilai sistem tersebut, "Dirancang selangkah demi selangkah oleh LSM dan teroris." Ia mendesak ada pergeseran fundamental untuk mengubah keadaan di lapangan.
Kritik terhadap Sistem Bantuan dan Sinyal Sampingkan UNRWA
Meski tidak menyebutkan UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) secara eksplisit, pernyataan Kushner dianggap sebagai sinyal kuat untuk menyampingkan organisasi tersebut. Posisi ini berpotensi memicu ketegangan dengan Uni Eropa yang merupakan donor terbesar UNRWA.
Kushner menggambarkan situasi di Gaza sebagai liabilitas abadi yang tidak terbatas yaitu kondisi kehidupan gagal membaik meskipun dana terus mengalir. "Perubahan itu seperti surga: semua orang ingin ke sana, tetapi tidak ada yang mau mati," ujar Kushner dalam pertemuan tersebut, menggambarkan keengganan para pihak untuk melakukan perubahan drastis.
Ia juga menuding sistem bantuan kemanusiaan saat ini menjadi saluran pembiayaan tidak langsung bagi Hamas. Menurutnya, aliran uang yang konsisten telah jatuh ke tangan Hamas untuk membeli senjata dan membangun infrastruktur militer seperti terowongan dan roket.
Syarat Rekonstruksi: Demiliterisasi Hamas
Tema sentral dalam pidato Kushner ialah pelucutan senjata Hamas. Ia menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza tidak akan berhasil selama kelompok bersenjata masih memiliki kapabilitas militer. Ia menekankan prinsip satu pemerintah dengan satu senjata (one government with one gun).
Kushner berargumen bahwa upaya membangun kembali Gaza akan sia-sia kecuali Hamas didemiliterisasi sepenuhnya. Ia bahkan menyindir para peserta konferensi dengan menyatakan bahwa tujuan akhir seharusnya ialah memastikan tidak perlu lagi ada pertemuan donor internasional untuk Gaza di masa depan.
Peran Strategis dalam Board of Peace
Kushner kini muncul sebagai tokoh kunci dalam upaya mengamankan paket pendanaan internasional untuk Gaza, meskipun ia tidak memegang posisi formal di kabinet. Selain sebagai utusan Trump, ia menjabat di Board of Peace, badan kontroversial yang diketuai oleh Presiden AS yang diharapkan akan mengawasi rekonstruksi Gaza.
Kehadirannya dalam pertemuan tersebut dinilai memiliki bobot signifikan karena hubungan langsungnya dengan Israel. Meski melontarkan kritik tajam, para diplomat menyebut nada bicara Kushner tetap konsiliatoris dengan penekanan pada kerja sama dengan Uni Eropa dan mitra regional.
Ia secara khusus memuji negara-negara Arab, Mesir, dan Turki atas pengalaman mereka dalam membangun kota dengan cepat dan menilai mereka sebagai pihak yang paling tepat untuk membantu membayangkan masa depan bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Kontroversi Keterlibatan AS
Undangan terhadap Kushner datang dari Komisioner Uni Eropa untuk Mediterania, Dubravka Šuica. Langkah ini sempat menuai kritik dari beberapa negara anggota Uni Eropa yang berpendapat bahwa PBB, bukan Board of Peace, yang seharusnya memimpin pembicaraan tersebut.
"Hanya upaya kolektif yang dapat membantu membangun kembali Gaza," ujar Šuica setelah pertemuan, tanpa memberikan komentar langsung mengenai peran spesifik Kushner dalam sesi tertutup tersebut. (Africanews/I-2)


















































