Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dudi Gardesi usai meninjau pusat penggemukan sapi untuk menopang ketahanan pangan ibu kota. Proyek senilai sekitar Rp1 triliun i(Dok. Dharma Jaya)
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mengembangkan kawasan peternakan terpadu di Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai pusat penggemukan sapi untuk menopang ketahanan pangan ibu kota. Proyek senilai sekitar Rp1 triliun itu ditargetkan mulai dibangun pada November 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan lahan seluas sekitar 20 hektare milik Pemprov DKI tersebut akan dimanfaatkan sebagai kawasan produksi pangan terpadu. Selain peternakan sapi, kawasan itu juga akan dikembangkan untuk budi daya ayam, perikanan, hingga urban farming.
“Ketahanan pangan yang akan dikembangkan di sini salah satunya adalah peternakan sapi, kemudian juga untuk ayam, ikan, dan sebagainya,” kata Pramono saat meninjau lokasi, Jumat (31/7).
Pramono menegaskan kawasan Ciangir tidak akan dijadikan lokasi alternatif pengelolaan sampah pengganti TPST Bantargebang.
Menurutnya, seluruh lahan diproyeksikan menjadi kawasan peternakan dan pertanian modern untuk memperkuat pasokan pangan Jakarta.
“Sepenuhnya tempat ini bukan seperti yang dipikirkan orang akan menjadi tempat alternatif Bantargebang, sama sekali tidak,” tegasnya.
Ia menjelaskan pembangunan infrastruktur akan dimulai pada November 2026 dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun. Namun, persiapan dapat dilakukan lebih awal.
Pramono telah menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP), serta Badan Pengelolaan Aset Daerah agar segera menuntaskan pekerjaan yang menjadi kewenangan Pemprov DKI.
“Saya sudah memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas KPKP, dan Badan Aset agar pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah DKI bisa dimulai lebih awal,” ujarnya.
Sementara, Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengatakan pengembangan kawasan tersebut merupakan tindak lanjut atas persetujuan penggunaan Barang Milik Daerah (BMD) dari Badan Pengelolaan Aset Daerah DKI Jakarta.
Nantinya, kawasan akan dikelola Dharma Jaya sebagai pusat penggemukan sapi modern untuk menjaga pasokan daging bagi masyarakat Jakarta.
Menurut Raditya, kawasan peternakan terpadu itu dirancang dengan konsep hulu hingga hilir. Fasilitas yang disiapkan meliputi kandang penggemukan dan karantina sapi, gudang pakan, bunker silase, laboratorium, jembatan timbang, rumah potong hewan, fasilitas pengolahan daging, cold storage, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga lahan hijauan pakan ternak.
Selain memperkuat pasokan daging, proyek tersebut diharapkan membuka lapangan kerja baru, mendorong kemitraan dengan petani penyedia hijauan pakan, serta menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.
Saat ini proyek masih memasuki tahap koordinasi lintas instansi, sosialisasi, dan perizinan, dengan pembangunan tahap pertama ditargetkan dimulai pada akhir 2026. (Z-10)

















































