Wilayah Cueta.(Dok. Google Maps)
SEBAGIAN besar migran yang memasuki wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Afrika Utara, mulai meninggalkan kawasan tersebut. Langkah ini diambil di tengah pengetatan pengawasan perbatasan yang dilakukan oleh sejumlah negara Uni Eropa menyusul lonjakan kedatangan migran yang signifikan.
Hingga Sabtu (1/8/2026), sebagian besar dari sekitar 60.000 migran yang sempat memasuki Ceuta dilaporkan telah kembali meninggalkan wilayah tersebut. Presiden wilayah Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengonfirmasi bahwa puluhan ribu orang tersebut masuk dari Maroko hanya dalam hitungan hari.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat lebih dari 48.000 orang telah kembali hingga Jumat (31/7) malam. Berdasarkan pantauan di lapangan, para migran terus menyeberang kembali ke Maroko di bawah pengawasan ketat tentara dan polisi Spanyol. Petugas segera mengarahkan mereka yang bertahan terlalu lama di jalur pesisir untuk kembali ke perbatasan.
Risiko Nyawa demi Peluang Ekonomi
Upaya memasuki Ceuta dilakukan dengan cara yang sangat berisiko. Banyak migran nekat berenang melewati pagar perbatasan yang menjorok ke Laut Mediterania. Insiden ini memakan korban jiwa, dengan sedikitnya 34 orang dilaporkan meninggal dunia dalam upaya penyeberangan tersebut.
"Kami berharap bisa pergi ke Eropa untuk bekerja dan mencari nafkah. Hanya itu. Kami semua tahu bahwa di Afrika tidak banyak peluang," ujar Souleil Boyan, migran asal Senegal berusia 19 tahun.
Motivasi serupa diungkapkan Soufian, warga Maroko yang mencoba menemui ibunya di Madrid. Ia mengaku memanfaatkan celah akses yang sempat terbuka. "Meskipun tidak ada makanan dan tidak ada apa-apa, saya akan bertahan demi bisa menemui ibu saya," katanya.
Reaksi Keras Uni Eropa
Lonjakan arus migran ini memicu reaksi cepat dari negara-negara tetangga. Prancis telah memperketat pemeriksaan di perbatasan Spanyol dengan mengerahkan 334 personel keamanan tambahan. Sementara itu, Italia mengambil langkah ekstrem dengan menangguhkan penerapan Perjanjian Schengen dengan Spanyol selama satu bulan.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengkritik keras reaksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan "egois". Sanchez menyerukan agar para menteri dalam negeri Uni Eropa segera menggelar pertemuan virtual untuk membahas solusi bersama.
Hingga saat ini, penyebab pasti lonjakan arus migran yang tiba-tiba ini belum diketahui secara resmi, dan otoritas Maroko belum memberikan pernyataan terkait peristiwa tersebut. Ceuta dan Melilla tetap menjadi titik krusial karena merupakan satu-satunya perbatasan darat langsung antara Uni Eropa dan Benua Afrika. (AFP/H-3)

















































