Profil Nasirun (1965-2026), maestro seni rupa Indonesia asal Yogyakarta.(Dok. YouTube)
DUNIA seni rupa Indonesia berduka. Nasirun, maestro pelukis dan perupa yang dikenal dengan bahasa visual berbasis kebudayaan Jawa, meninggal dunia pada Sabtu (1/8). Seniman berusia 60 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta dan dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul.
Lahir di Cilacap pada 1 Oktober 1965, Nasirun menempuh pendidikan formal di SMSR Yogyakarta sebelum melanjutkan ke Jurusan Seni Lukis FSR ISI Yogyakarta dan lulus pada 1994.
Perjalanan kariernya dimulai dari pameran tunggal di Mirota Kampus pada 1993, yang kemudian membawanya ke panggung internasional melalui berbagai ajang bergengsi seperti Singapore Biennale, Beijing International Art Biennale, hingga pameran tunggal di Tokyo, Jepang.
Bahasa Visual dan Spiritualitas Jawa
Karya-karya Nasirun identik dengan elemen mitologi Jawa, tokoh pewayangan, aksara, dan ornamen tradisional yang dideformasi secara ekspresif. Ia tidak sekadar menyalin tradisi, tetapi mengolahnya menjadi komposisi personal yang padat dan berlapis.
Spiritualitas dalam karyanya bersifat inklusif, mencerminkan ketulusan manusia terhadap kekuatan transenden tanpa terjebak dalam doktrin agama tertentu.
Selain kanvas, Nasirun dikenal karena keberaniannya merespons berbagai medium non-konvensional. Ia melukis di atas kayu, furnitur, kemasan produk, surat undangan, hingga benda pusaka seperti blawong (penyangga keris). Praktik ini menempatkannya sebagai seniman kontemporer yang tetap memegang teguh identitas lokal.
Kolektor dan Pengarsip Kebudayaan
Di luar aktivitas melukis, Nasirun memiliki peran vital sebagai kolektor dan pengarsip seni. Di studionya yang terletak di Bayeman, Yogyakarta, ia menyimpan ribuan karya dan dokumen penting seniman Indonesia, termasuk arsip Emiria Soenassa dan Danarto. Upaya ini dianggap sebagai bentuk penyelamatan sejarah seni rupa Indonesia yang sering kali tercecer dari narasi institusional.
Data Utama Nasirun:
- Lahir: 1 Oktober 1965, Cilacap, Jawa Tengah.
- Wafat: 1 Agustus 2026, Yogyakarta.
- Pendidikan: ISI Yogyakarta (Lulus 1994).
- Penghargaan: McDonald Award (1994), Philip Morris Award (1997).
- Karya Ikonik: Arjuna Memanah (2013), Sultan Seni Rupa (2014), Ibu Pertiwi #1 (2015).
Kepergian Nasirun meninggalkan warisan artistik yang mendalam. Ia berhasil menjembatani tradisi seni lukis modern Yogyakarta dengan dinamika seni kontemporer global, menjadikan kebudayaan Jawa sebagai sumber imajinasi yang tak pernah kering bagi generasi mendatang. (Z-10)

















































