Produksi Padi di Pidie Aceh Menurun akibat Hama Wereng Cokelat

2 hours ago 4
Produksi Padi di Pidie Aceh Menurun akibat Hama Wereng Cokelat Petani sedang memanen padi di kawasan Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

MUSIM panen padi gadu atau musim tanam kedua bagi petani di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, telah tiba. Namun, kegembiraan masa panen kali ini dibayangi oleh penurunan hasil produksi gabah yang cukup signifikan dibandingkan musim sebelumnya.

Penurunan ini dipicu oleh serangan hama wereng cokelat yang melanda sebagian lahan sawah di wilayah pesisir Selat Malaka tersebut dalam sebulan terakhir. Akibatnya, produktivitas lahan sawah di sejumlah titik dilaporkan anjlok berkisar antara 20% hingga 30% per hektare (ha).

Wilayah Terdampak dan Penurunan Output

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa lokasi yang sudah mulai memasuki masa panen gadu meliputi Kecamatan Peukan Baro dan Kecamatan Indrajaya. Di wilayah-wilayah tersebut, penurunan hasil produksi sangat terasa bagi para petani.

Data menunjukkan bahwa perolehan hasil panen yang biasanya mencapai 7 hingga 8 ton per hektare, kini merosot menjadi hanya 5 hingga 6 ton per hektare. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan petani setempat.

"Secara umum, lahan sawah yang sudah pernah terserang hama wereng itu hasil panennya anjlok sampai 20% hingga 30%. Ini menjadi bumerang bagi petani, apalagi bagi mereka yang menyewa lahan milik orang lain. Tentu akan sulit untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan," ujar M. Nasir, tokoh masyarakat petani di Kecamatan Peukan Baro, Senin (17/8).

Beban Modal Tambahan dan Kualitas Beras

M. Nasir menambahkan bahwa serangan hama tidak hanya memangkas kuantitas hasil panen, tetapi juga memaksa petani mengeluarkan modal ekstra. Biaya tambahan diperlukan untuk pengadaan sarana produksi padi (saprodi) serta biaya penyemprotan guna mengatasi gangguan hama.

Ironisnya, meski modal telah ditambah, hasil yang diperoleh tetap tidak maksimal. Selain jumlah produksi yang menurun, kualitas beras yang dihasilkan juga dilaporkan berkurang akibat kesehatan tanaman yang terganggu selama masa pertumbuhan.

Dugaan Peredaran Benih Galur Ilegal

Serangan hama yang kerap berulang setiap musim tanam di Aceh diduga berkaitan erat dengan maraknya peredaran dan penjualan benih galur atau benih ilegal. Benih-benih ini umumnya tidak melalui uji laboratorium dan tidak memiliki sertifikasi resmi dari pemerintah.

Penggunaan benih tanpa izin sebar ini dinilai merugikan petani karena diproduksi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab tanpa standar penangkaran yang jelas serta di luar pengawasan instansi terkait.

"Entah apa saja merek dagang ilegal yang ditempel pada kantong kemasan benih galur itu. Umumnya petani menjadi korban iklan yang menjanjikan hasil melimpah. Padahal, standar ketahanan terhadap hama penyakit belum pernah diuji dan sering kali tidak memiliki kekebalan," tutur Yusri, pemerhati masalah pertanian tanaman pangan di Kabupaten Pidie. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |