Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.(Anadolu)
PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelensky secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya telah menyampaikan usulan strategis kepada Amerika Serikat (AS) guna mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Rusia. Langkah diplomasi ini diambil di tengah situasi medan perang yang semakin kompleks dan memasuki tahun kelima.
Dalam pidatonya pada Selasa malam, Zelenskyy menekankan peran krusial Washington dalam mengubah peta konflik. Menurutnya, dukungan AS tidak hanya terbatas pada bantuan fisik, tetapi juga tekanan politik yang mampu memaksa Kremlin untuk duduk di meja perundingan.
Zelenskyy menggarisbawahi dua poin utama dalam usulannya kepada pihak Amerika. Pertama, penguatan sistem pertahanan udara Ukraina untuk melindungi infrastruktur kritis dan warga sipil. Kedua, penggunaan pengaruh AS untuk menekan Rusia agar mengubah orientasi strategis mereka.
"Amerika dapat membantu memperkuat pertahanan kami, terutama melalui pertahanan udara, dan dapat menekan Rusia agar mengubah rencananya, dari memperpanjang perang menjadi mempersiapkan diri untuk mengakhirinya," ujar Zelensky.
Upaya ini muncul setelah serangkaian mediasi yang dipimpin AS pada awal tahun ini mengalami kebuntuan. Tercatat, Rusia dan Ukraina sempat menggelar tiga putaran perundingan pada Januari dan Februari. Namun, fokus global yang terpecah akibat konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari disebut menjadi salah satu pemicu terhentinya dialog tersebut.
Peringatan Intelijen: Mobilisasi Massal Rusia
Selain isu perdamaian, Zelensky mengungkapkan data intelijen terbaru mengenai rencana militer Moskow. Ia mengeklaim bahwa Presiden Vladimir Putin tengah mempersiapkan gelombang rekrutmen pasukan besar-besaran yang dijadwalkan setelah pemilu pada September mendatang.
Zelenskyy memprediksi Rusia akan melakukan mobilisasi cepat terhadap ratusan ribu warga hingga akhir tahun ini, dengan jumlah serupa yang direncanakan untuk tahun depan. Langkah ini dinilai sebagai upaya Putin untuk menciptakan narasi bahwa rakyat Rusia mendukung penuh kelanjutan perang.
Catatan Sejarah Mobilisasi Rusia:
- 2022: Putin menyetujui mobilisasi parsial yang merekrut 300.000 personel.
- Skema Saat Ini: Rusia mengandalkan perekrutan melalui wajib militer kontrak.
- Klaim Ukraina: Rusia diprediksi merekrut ratusan ribu orang tambahan pasca-pemilu September.
Respons Kremlin: Bantahan dan Tudingan Propaganda
Di sisi lain, pihak Rusia secara konsisten membantah klaim mengenai rencana mobilisasi baru tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan pada Maret lalu bahwa isu tambahan pasukan tidak masuk dalam agenda pemerintah.
Senada dengan Peskov, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyatakan bahwa saat ini tidak ada kebutuhan mendesak untuk mobilisasi tambahan. Medvedev bahkan melabeli pernyataan Ukraina sebagai "provokasi palsu" dan bagian dari mesin propaganda Kiev.
| Usulan Perdamaian | Mengajukan proposal baru melalui mediasi AS. | Belum memberikan respons resmi terhadap usulan terbaru. |
| Mobilisasi Militer | Memperingatkan rekrutmen ratusan ribu pasukan baru. | Membantah dan menyebutnya sebagai propaganda. |
| Peran AS | Meminta penguatan pertahanan udara dan tekanan politik. | Menilai keterlibatan Barat memperpanjang konflik. |
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya diplomatik di balik layar, ketegangan di lapangan dan perang narasi antara Kiev dan Moskow tetap berada pada level tertinggi. Keberhasilan usulan Zelenskyy kini sangat bergantung pada respons strategis dari Gedung Putih dalam beberapa pekan mendatang. (Anadolu/Ant/I-1)


















































