Siti Aminah, pemilik Es Dawet Ireng sekaligus UMKM Binaan Amartha menjajakan dagangannya dengan gentong tanah liat yang menjadi ciri khasnya.(Dok Istimewa)
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia masih berada di jalur positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Pertumbuhan tersebut turut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen dan tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Bagi banyak pengusaha ultra-mikro di desa, pertumbuhan ekonomi nasional tidak selalu hadir dalam bentuk angka. Melainkan sering terasa dalam hal-hal yang dekat dengan keseharian, seperti harga bahan baku, jumlah pelanggan, perubahan selera konsumen, hingga kebutuhan modal ketika usaha mulai berkembang.
Seperti halnya yang dialami oleh Siti Aminah, pemilik usaha Es Dawet Ireng Pawon Jiwandono di Bogor, ia memulai usahanya pada 2018 dengan modal Rp5 juta dari sang adik. Berbekal resep keluarga dan melihat peluang di daerahnya, ia mulai berjualan untuk membantu perekonomian keluarga. Dari usaha sederhana itu, Siti kini mampu mencatat omzet lebih dari Rp7 juta per bulan pada periode penjualan terbaik.
Namun, menjaga usaha tetap berjalan bukan perkara mudah. Harga bahan baku seperti gula aren, santan, dan sagu beberapa kali meningkat dan menekan biaya produksi. Pada saat yang sama, tren minuman kekinian seperti boba turut mengubah preferensi konsumen.
Tekanan biaya tersebut memiliki pengaruh yang lebih luas, BPS mencatat Indeks Harga Produsen (IHP) sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum pada triwulan II-2026 naik 2,65 persen secara tahunan. Secara kuartalan, indeks sektor tersebut juga meningkat 1,11 persen .
Bagi Siti, perubahan tersebut dihadapi dengan beradaptasi tanpa meninggalkan identitas produknya. Dawet ireng tetap menjadi produk utama, tetapi ia menambahkan pilihan topping seperti durian, keju, dan nangka agar lebih dekat dengan selera pasar. Ia juga memperluas sumber pendapatannya dengan menerima pesanan untuk arisan, syukuran, hingga ulang tahun.
“Yang kami jaga adalah kualitas rasa. Pembeli percaya dan terus kembali. Dawet ireng memang minuman tradisional, tetapi bisa dikemas lebih kekinian tanpa menghilangkan cita rasanya.” ujar Siti.
Saat memasuki musim hujan membuat penjualan minuman cenderung menurun, ia memutar otak untuk memproduksi peyek sebagai produk pelengkap untuk menjaga arus kas usaha.
Tahun berlalu, tantangan silih berganti. Pandemi menghantam semua sektor kala itu, aktivitas berjualannya sempat berhenti total dan pemasukan keluarga ikut terdampak. Kesempatan mengikuti bazar UMKM kemudian menjadi salah satu titik balik untuk kembali membangun usaha.
Dari Bertahan Hingga Berkembang
Seiring meningkatnya permintaan, Siti mulai membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha. Dalam sekitar tiga tahun terakhir, pembiayaan dari Amartha digunakannya untuk memperluas jangkauan usahanya. “Alhamdulillah usaha semakin berkembang, semakin banyak yang mengenal produk kami. Modal usaha dari Amartha membantu saya menyewa kedai, menambah karyawan dan memperluas usaha sampai pengiriman di luar Bogor,” kata Siti.
Bagi UMKM, akses pembiayaan menjadi semakin penting karena sektor ini berkontribusi sekitar 61 persen terhadap PDB dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional. Menurut Siti, pembiayaan tersebut menjadi bagian dari proses memperbesar usaha hingga menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.
Cerita Siti menjadi salah satu gambaran bagaimana akses pembiayaan dapat memberi ruang bagi usaha mikro untuk berkembang. Berdasarkan Sustainability Report Amartha 2025, 89 persen UMKM binaan mengalami peningkatan pendapatan, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah memperoleh akses pembiayaan.
Pertumbuhan usaha juga dapat membuka lapangan kerja, Amartha mencatat lebih dari 90 ribu mitranya berhasil merekrut karyawan pertama, terlebih 96 persen di antaranya merupakan perempuan. Apa yang terjadi pada Siti menjadi contoh konkret keberhasilan UMKM dapat menghidupkan perekonomian desa secara berkelanjutan.
Di balik angka pertumbuhan ekonomi nasional, ada banyak usaha kecil yang terus bergerak dengan caranya masing-masing. Tidak selalu besar, tapi nyata dan dari sanalah aktivitas ekonomi terus berjalan. (H-2)


















































