PT Samuel Sekuritas Indonesia mengungkap sederet tantangan pasar keuangan Indonesia pada Semester II 2026. Rupiah yang melemah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, hingga arah kebijakan pemerintah masih menjadi perhatian investor.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menjelaskan rintangan yang akan muncul. “Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan,” ujar Shim dalam paparan Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Adapun imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang kini naik 108 basis poin dari 6,05 persen menjadi 7,13 persen sejak awal tahun atau secara year-to-date. Di saat yang sama, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan alias BI rate sebesar 100 basis poin ke level 5,75 persen, menandakan masuknya Indonesia ke dalam siklus kenaikan suku bunga.
Menurut Shim, fokus utama Bank Sentral saat ini lebih tertuju pada stabilisasi rupiah. Kenaikan suku bunga acuan saat ini dilakukan untuk menjaga daya tarik nilai tukar yang melemah. "Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan. Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas," ucapnya.
PT Samuel Tumbuh Bersama mencatat nilai rupiah melemah dari 16.690 per dolar Amerika Serikat menjadi 17.882 per dolar AS, merosot sekitar 7,1 persen dibandingkan awal tahun atau secara year to date (YTD). Dampak kenaikan suku bunga terhadap rupiah ini memiliki kemiripan dengan kondisi di 2018 lalu.
Shim memaparkan pada periode April sampai November 2018, BI rate telah naik dari 4,25 persen ke 6 persen, mendorong pelemahan rupiah dari 13.913 per dolar AS menjadi 15.238 per dolar AS. Pada 2026, BI rate telah naik dari 4,75 persen pada Maret 2026 menjadi 5,75 persen pada Juni 2026. Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah bergerak dari 16.995 menjadi 17.848 per dolar AS.
Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot dari level 7.048 menjadi 5.821. “Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan tersebut. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko,” kata Shim.
Dari sisi kebijakan ia menyoroti tekanan fiskal dan defisit anggaran negara yang terus bertambah. Shim menilai kebijakan tampak semakin bersifat reaktif, dengan disiplin yang terbatas serta sistem check and balances politik dan administratif yang tidak memadai.
Sementara itu, Prasetya Gunadi menilai sektor perbankan masih menunjukkan kinerja yang relatif resilien. “Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan,” ujarnya.
Suku bunga tinggi juga dapat mendorong kenaikan biaya dana atau cost of fund perbankan. Samuel Sekuritas Indonesia telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan agregat laba sektor perbankan 2026 menjadi 1,8 persen dari sebelumnya 4,6 persen. Seiring tekanan margin dan biaya kredit.
Ia menilai pertumbuhan laba masih ada, terutama dari bank-bank yang mampu menjaga pendapatan bunga dan pendapatan non-bunga. “Namun, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank menjaga margin, mengelola biaya dana, dan mempertahankan kualitas aset di tengah kondisi makro yang lebih ketat,” ucap Prasetya.






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)









:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)







