Enam Sastra Klasik Indonesia, Diterjemahkan

3 hours ago 2

Kementerian Kebudayaan meluncurkan terjemahan enam karya sastra klasik karangan sastrawan Indonesia pada 2 Juli 2026. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris ini agar karya sastra klasik lebih mendunia. Peluncuran ini juga untuk memperingati hari Sastra ke-13 yang diperingati pada 3 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Keenam karya sastra klasik yang diterjemahkan merupakan tonggak penting dalam kesusastraan Indonesia. Keenam karya sastra yang diterjemahkan berasal dari berbagai periode, genre dan latar yang berbeda. Keenam karya klasik tersebut adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterjemahkan oleh Annie Tucker; Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais terjemahan Syarafina Vidyadhana; Tanah Gersang karya Mochtar Lubis terjemahan Zoe McLaughlin; Dua Dunia karya NH Dini terjemahan Saut Situmorang; kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra penerjemah Lara Norgaard; serta Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang yang diterjemahkan oleh Suzan Piper. Terjemahan karya sastra klasik yang baru ini, menyusul 15 karya sastra kontemporer yang telah diterjemahkan sebelumnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan Indonesia kaya dengan ragam budaya dengan cerita kearifan lokalnya. Ia menilai sastra dapat menjadi elemen penting bagi etalase budaya Indonesia seperti seni yang lain. Menurutnya banyak sekali karya-karya sastra Indonesia yang berkualitas, tetapi sulit diakses oleh para pembaca internasional. Salah satu persoalannya adalah kurangnya buku-buku sastra dalam bahasa asing.

“Dengan penerjemahan ini karya sastra Indonesia menjadi lebih terlihat, dan lebih mudah diakses,” ujar Fadli di Gedung Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2 Juli 2026 saat acara peluncuran buku bertajuk “Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia”.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan enam buku terjemahan sastra klasik dalam acara Sasana Sastra: Membaca Karya Klasik Indonesia di Graha Utama, Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, 2 Juli 2026. Tempo/Dian

Penerjemahan ini, kata Fadli, merupakan langkah penting untuk mengenalkan karya klasik sastra Indonesia di panggung mancanegara. Ia juga menyebutkan penerjemahan karya sastra klasik bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan menghadirkan pengalaman manusia Indonesia kepada pembaca lintas bangsa. Dalam menerjemahkan pun tak mudah karena harus mengetahui frasa, rasa, latar, dan konteks saat penulisan.

Karya terjemahan ini nantinya akan dibawa ke Abu Dhabi International Book Fair di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan pada akhir tahun nanti. Terjemahan karya klasik ini juga akan didistribusikan melalui kedutaan-kedutaan asing di Indonesia dan acara lainnya. Ia juga menyebut karya sastra ini menjadi perkembangan ekosistem bersama Manajemen Talenta Nasional, yang akan berkembang dari hulu ke hilir.

Dimulai dari penciptaan karya, penerjemahan, promosi, hingga pembangunan komunitas sastra. Guna melestarikan ekosistem tersebut, Kementerian Kebudayaan telah menggandeng 18 festival sastra penting di Indonesia, mendorong regenerasi 7.500 talenta sastra melalui mekanisme Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, hingga internasionalisasi sastra Indonesia melalui penerjemahan karya dan Translation Funding Program (TFP) untuk penerbit asing yang membeli hak cipta karya

Nukilan Karya Sastra di Panggung

Sebelum peluncuran terjemahan karya klasik ini, juga disajikan enam pentas teater dan pembacaan puisi pendek berselang seling dari enam karya yang diterjemahkan. Pentas sepotong adegan dari nukilan karya-karya yang disulihbahasakan. Mereka menampilkan potongan adegan yang dinilai cukup kuat, dramatis dan mewakili masing-masing karya. Saat mereka mendialogkan kalimat dari karya-karya ini, di layar turut disajikan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Selain pentas dari nukilan karya, acara yang dihadiri para tokoh sastra, sastrawan dan penerbit ini juga mendapatkan suguhan puisi dari sastrawan senior Taufiq Ismail dan Putu Wijaya. Taufiq di usia sepuhnya masih bersemangat untuk membacakan puisinya, demikian juga dengan sastrawan Putu Wijaya. Ia duduk di kursi roda dengan sangat bersemangat menyampaikan karyanya berjudul Merdeka. Ia bahkan mengajak hadirin ikut berinteraksi dalam karyanya. Ia menyampaikan sajak yang menceritakan kebebasan. Dari seorang lelaki tua yang membebaskan seorang burung perkutut. Namun perkututnya memilih mati. Dari sana sang lelaki belajar tentang arti sebuah kebebasan.

Sastrawan sekaligus dramawan senior Putu Wijaya turut hadir dalam acara Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia di Graha Utama, Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, 2 Juli 2026. Tempo/Dian

Pilihan Editor:

Kembara Kata-Kata, Dunia Sastra Asrul Sani

Penerjemahan Buku Sastra Agar Terus Lakukan

Salah satu sastrawan yang hadir, Kurnia Effendi mengatakan menghargai upaya dan pelaksanan lembaga yang menerjemahkan karya klasik Indonesia ke bahasa asing, setidaknya Bahasa Inggris,  setelah banyak karya dari negara asing diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Menurutnya para pembaca dan sastrawan Indonesia sudah cukup menikmati karya dari negara lain, terlebih di era kini dengan kemajuan teknologi.

“Giliran seperti ini yang dinantikan, melanjutkan kerja Yayasan Lontar, Komite Buku Nasional, dan Badan Bahasa, Kementerian Kebudayaan atau kementerian lain yang menjadi payungnya. Perlu ditambah lagi,” ujar Kurnia kepada Tempo, 3 Juli 2026. 

Menurutnya akan lebih baik jika ada dana sosial perusahaan besar yang turut mendukung sastra Indonesia sebagai bagian penting peradaban. “Jangan hanya mendukung olahraga dan musik saja, sastra juga penting,”ujarnya.

Dengan kerapnya Indonesia menjadi tamu kehormatan international book fair di sejumlah negara, kata dia, karya sastra Indonesia harus hadir membanjiri dengan banyak karya. Dalam hal ini tentunya dengan karya yang sudah beralih bahasa akan menarik minat penerbit luar membeli/membayar hak cipta untuk beredar lebih luas.

Menurutnya pilihan sastrawan dan karyanya pasti sudah dipertimbangkan dan kini giliran karya sastra klasik. Setelah novel, bentuk karya sastra seperti puisi, prosa atau kumpulan cerpen merupakan komposisi yang tepat. ”Lain kali saya kira boleh juga naskah drama diterjemahkan,” ujar salah satu penulis novel sejarah Pangeran dari Timur (2020). Ia menulis novel ini bersama Iksaka Banu.

Ia juga mengapresiasi 15 karya sastra kontemporer yang diterjemahkan sebelumnya. Menurutnya hal ini mewakili generasi baru penulis cerpen dan novel. Para pengarang mewakili geografis Indonesia, juga memiliki reputasi bagus dalam kariernya. Rupa-rupa gaya penulisannya juga menunjukkan kekayaan varian. Ia berharap ikhtiar dan program seperti ini bukan sekadar kebijakan periodik. Selayaknya dipelihara konsisten sebagai tradisi perluasan sastra Indonesia ke pembaca dunia.

Pilihan Editor:

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |