LAGA melawan Meksiko pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Inggris. Pertandingan di Stadion Azteca, Mexico City, Senin, 6 Juli 2026, pukul 07.00 WIB, bukan hanya menentukan langkah menuju perempat final, tetapi juga menguji kemampuan pelatih Thomas Tuchel menyelesaikan persoalan yang masih membayangi permainan Three Lions, terutama di lini pertahanan.
Inggris memang melaju ke babak 16 besar setelah menyingkirkan Republik Demokratik Kongo dengan skor 2-1 pada babak 32 besar. Namun, kemenangan itu tidak diraih dengan meyakinkan. Tim asuhan Tuchel bahkan sempat tertinggal lebih dulu setelah Brian Cipenga membobol gawang Jordan Pickford pada menit ketujuh di Stadion Atlanta, Kamis dinihari, 2 Juli lalu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dua gol Harry Kane membalikkan keadaan sekaligus memastikan Inggris lolos. Akan tetapi, gol cepat Kongo kembali menyoroti rapuhnya organisasi pertahanan Inggris, sesuatu yang harus segera dibenahi sebelum menghadapi Meksiko.
Lini Belakang Masih Menjadi Persoalan
Media Inggris Sky Sports menilai keberhasilan lolos ke babak berikutnya memang menjadi hal terpenting. Namun, menurut media tersebut, Tuchel tentu menyadari masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Gol Cipenga disebut berawal dari buruknya koordinasi lini belakang. Ezri Konsa dan Marc Guehi dinilai berdiri terlalu rapat sehingga memaksa Djed Spence keluar dari posisinya. Di sisi lain, Noni Madueke gagal membantu pertahanan, sementara Jordan Pickford dinilai terlalu mudah ditembus.
Kelemahan itu membuat Kongo leluasa menemukan ruang di lini tengah. Sky Sports juga menilai Inggris masih terlalu terbuka terhadap serangan balik meskipun Declan Rice kembali dimainkan sebagai starter. Gelandang Arsenal itu bahkan harus digeser menjadi bek kanan pada babak kedua demi menutup kelemahan di sisi kanan pertahanan.
Posisi bek kanan kini menjadi salah satu teka-teki terbesar bagi Tuchel. Selain persoalan itu, Inggris juga membutuhkan kontribusi lebih besar dari para pemain pendukung Harry Kane apabila ingin melangkah lebih jauh di turnamen.
Perubahan yang dilakukan Tuchel pada babak kedua terbukti memberi dampak. Anthony Gordon menciptakan assist untuk dua gol Kane setelah masuk menggantikan Marcus Rashford. Eberechi Eze juga memberikan dimensi baru di sisi kanan permainan Inggris.
"Kami mendapatkan koneksi yang lebih baik dari Ebs (Eberechi Eze) karena dia bermain melebar di sisi kanan dan membantu Bukayo Saka membangun kombinasi permainan. Declan kemudian bermain sebagai bek sayap sehingga kami bisa melepaskan umpan silang melengkung ke dalam yang sangat berbahaya," kata Tuchel seperti dikutip The Guardian.
Azteca Menjadi Tantangan Baru
Selain persoalan teknis, Inggris juga harus menghadapi tantangan alam. Stadion Azteca berada di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut, kondisi yang diyakini akan menguras fisik para pemain. Tuchel mengakui timnya tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi. "Ketinggian akan menjadi kerugian besar karena kami tidak mungkin beradaptasi secara fisik terhadap kondisi itu. Dalam empat hari, hal itu mustahil," ujar mantan pelatih Chelsea tersebut.
Meski demikian, ia tetap optimistis para pemainnya siap menghadapi tantangan tersebut. "Mungkin masih akan ada rintangan lainnya, tetapi kami siap menghadapinya. Kami membutuhkan tantangan seperti itu," kata Tuchel.
Persoalan Inggris semakin rumit karena badai cedera di sektor bek kanan. Tino Livramento, Reece James, dan Jarell Quansah tidak dalam kondisi bugar sehingga Djed Spence kembali dipercaya mengisi posisi tersebut. Dalam empat pertandingan Piala Dunia, Spence menjadi pemain ketiga yang dimainkan sebagai bek kanan.
Opta Analyst menilai Spence memang bukan satu-satunya penyebab gol Kongo. Namun, situasi itu memperlihatkan rapuhnya organisasi pertahanan Inggris. Kontribusinya dalam membantu serangan juga belum maksimal sehingga Rice akhirnya dimainkan sebagai bek kanan darurat.
Menurut Opta Analyst, absennya pemain seperti Trent Alexander-Arnold maupun Ben White kini terasa semakin merugikan Inggris. Opsi lain adalah menggeser Ezri Konsa ke sisi kanan dan memasangkan John Stones bersama Marc Guéhi di jantung pertahanan. Namun, pilihan itu berarti Tuchel kembali harus mengubah kombinasi bek tengahnya.
Tekanan Publik dan Kelelahan Fisik
Pengamat sepak bola Supriyono Prima menilai Inggris tidak hanya menghadapi persoalan teknis, tetapi juga tekanan atmosfer Stadion Azteca. Menurut dia, bermain di ketinggian sekitar 2.200 meter dengan kadar oksigen yang lebih tipis akan membuat pemain Inggris lebih cepat kehilangan stamina.
Selain itu, Meksiko akan mendapat keuntungan besar karena tampil di depan pendukungnya sendiri. "Atmosfer Azteca sangat intimidatif dan akan memberikan tekanan mental luar biasa bagi pemain Inggris selama 90 menit," kata komentator Piala Dunia TVRI itu kepada Tempo, Kamis, 2 Juli 2026.
Supriyono juga menyoroti keuntungan waktu pemulihan yang dimiliki Meksiko. El Tri memainkan laga babak 32 besar sehari lebih awal dibanding Inggris. "Keunggulan masa pemulihan ini sangat krusial dalam turnamen seketat Piala Dunia," ujarnya.
Dari sisi taktik, ia menilai gol cepat Kongo memperlihatkan kelemahan Inggris dalam mengantisipasi serangan silang diagonal. "Koordinasi lini belakang saat transisi bertahan masih sangat rapuh," katanya.
Menurut dia, sektor kanan pertahanan Inggris menjadi sasaran empuk lawan. Cedera sejumlah bek kanan membuat Spence kerap terlambat menutup ruang sehingga lebih dari separuh serangan Kongo pada babak pertama datang dari sisi tersebut. Ia menilai Tuchel meningkatkan perlindungan di area itu dengan meminta Declan Rice lebih disiplin menutup celah pertahanan atau mempertimbangkan penggunaan formasi tiga bek.
Meksiko Datang dengan Modal Kuat
Jika Inggris masih mencari keseimbangan permainan, Meksiko justru tampil sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik di turnamen. Duet Johan Vasquez dan Cesar Montes belum kebobolan sepanjang Piala Dunia 2026. Di lini depan, Julian Quinones sedang berada dalam performa terbaik setelah menjadi top skor Liga Arab Saudi dengan 33 gol. Penyerang naturalisasi itu mendapat dukungan pengalaman Raúl Jimenez.
Supriyono menilai kekuatan utama Meksiko terletak pada kolektivitas permainan. Salah satu gol mereka ke gawang Ekuador tercipta melalui rangkaian 14 operan yang menunjukkan chemistry antarpemain sudah terbentuk dengan baik.
Ia memperkirakan tim asuhan Javier Aguirre akan langsung menekan sejak menit awal dengan intensitas tinggi, memanfaatkan keuntungan bermain di dataran tinggi. "Mereka akan menerapkan pressing ketat untuk merebut bola secepat mungkin di area pertahanan Inggris," ujarnya.
Setelah itu, Meksiko diperkirakan membangun serangan secara sabar melalui penguasaan bola di lini tengah sebelum melepaskan umpan diagonal ke sisi kanan pertahanan Inggris yang dinilai masih menjadi titik lemah. Ketika stamina lawan mulai menurun akibat efek ketinggian pada babak kedua, Meksiko diprediksi akan memperkuat blok pertahanannya dan mengandalkan serangan balik cepat melalui kecepatan Quinones.
Dengan kondisi tersebut, pertandingan di Azteca bukan sekadar adu kualitas pemain. Laga ini juga akan menjadi ujian apakah Thomas Tuchel mampu menuntaskan persoalan yang masih membayangi Inggris sebelum menghadapi lawan yang tampil semakin solid di Piala Dunia 2026.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)









:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)







