Latihan militer bersama tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) antara AS dan Korea Selatan dipangkas durasinya dari 10 hari menjadi lima hari atas permintaan Washington.(AFP)
LATIHAN militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan dipangkas hingga separuh durasi atas permintaan pihak Washington. Keputusan ini diambil beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan pengurangan durasi latihan tersebut dengan alasan hubungan baiknya dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Latihan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) yang dimulai pada Senin lalu awalnya dijadwalkan berlangsung selama 10 hari. Namun, militer kedua negara mengonfirmasi latihan tersebut kini akan berakhir lebih cepat pada Jumat (21/8).
"Berdasarkan arahan dari Presiden dan Menteri Perang, Departemen telah secara substansial mengurangi Latihan Ulchi Freedom Shield sambil tetap melanjutkan pelatihan yang meningkatkan kemampuan taktis," kata seorang pejabat Pentagon.
"Acara pelatihan langsung terkait telah dikurangi, dengan acara tertentu dibatalkan atau diubah menjadi simulasi. Penyesuaian ini mempertahankan kesiapan esensial dan tujuan pelatihan," lanjut pejabat tersebut. "Tidak akan ada penurunan pada tujuan pelatihan AS."
Pihak militer Korea Selatan juga mengonfirmasi bahwa keputusan untuk "menyesuaikan sebagian periode dan ukuran latihan" UFS tersebut dilakukan "atas permintaan AS."
Penyesuaian jadwal ini menyusul pernyataan Trump yang mengaku telah meminta Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mengurangi latihan tersebut. Trump menilai latihan militer itu mengirimkan sinyal yang "sama sekali tidak tepat dan bermusuhan" kepada Korea Utara, serta menyoroti kurangnya bantuan dari Seoul terkait perang Iran.
Meski Kim Jong Un belum memberikan komentar secara langsung, media pemerintah Korea Utara, KCNA, menyebut latihan tersebut sebagai "ancaman paling langsung dan terbuka" bagi Pyongyang serta keamanan kawasan.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan bahwa latihan itu murni bersifat defensif. Menurutnya, latihan tersebut tidak bertujuan untuk "Meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea," melainkan sebagai "latihan defensif" untuk menjaga perdamaian dan melindungi nyawa. Ia menambahkan bahwa Korea Selatan akan "Mempertahankan tingkat kesiapan yang tidak tergoyahkan."
Awalnya, sekitar 18.000 prajurit Korea Selatan dijadwalkan berpartisipasi dalam latihan yang dirancang untuk mengantisipasi ancaman drone, gangguan GPS, dan serangan siber. Kepala Staf Militer Seoul menyatakan bahwa kedua negara kini akan "Membahas dan menerapkan berbagai langkah untuk mencapai tujuan latihan UFS dan membangun postur pertahanan bersama ke depannya." (CNN/Z-2)


















































