Trofi Piala Dunia(AFP/Fabrice COFFRINI )
CEO Liga Primer Inggris, Richard Masters, melontarkan kritik tajam terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino terkait rencana penjualan hak komersial Piala Dunia. Masters menyebut langkah organisasi sepak bola dunia tersebut sebagai tindakan yang merusak diri sendiri atau "menekan tombol bunuh diri".
Kritik ini muncul setelah Infantino mencoba membentuk perusahaan baru, FIFA Forward Enterprise (FFE), untuk mengelola hak komersial dan tiket kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
Rencananya, 21% saham perusahaan tersebut akan dijual ke perusahaan investasi swasta. Meski rencana ini akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan keras dari UEFA dan konfederasi lainnya, Masters menilai kerusakan reputasi sudah terjadi.
"Ini adalah masalah yang dibuat oleh FIFA sendiri," ujar Masters kepada BBC Sport. "Ini adalah luka yang ditimbulkan sendiri. Organisasi tersebut telah menekan tombol bunuh diri, dan konsekuensi dari hal itu mengalir ke solusi yang perlu ditemukan."
Kebutuhan akan 'Kandidat Pemersatu'
Masters mendukung langkah Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) yang menarik dukungan mereka terhadap Infantino. Ia menyerukan perlunya muncul kandidat baru yang mampu menyatukan dunia sepak bola menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.
Menurut Masters, FIFA sebagai organisasi nirlaba seharusnya memegang kompetisi Piala Dunia sebagai amanah untuk masa depan sepak bola, bukan untuk dikomersialisasi melalui kepemilikan swasta.
"Saya pikir kandidat pemersatu yang muncul harus memiliki agenda reformasi FIFA, dan mungkin reformasi peran presiden," tambahnya.
Kontroversi Kartu Merah Folarin Balogun
Selain masalah struktural FIFA, Masters juga menyoroti insiden di Piala Dunia Amerika Utara baru-baru ini. Ia mempertanyakan transparansi FIFA terkait penangguhan hukuman kartu merah striker Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Balogun menerima kartu merah langsung saat melawan Bosnia-Herzegovina, namun hukumannya ditangguhkan selama satu tahun setelah adanya intervensi politik.
Masters menekankan bahwa FIFA seharusnya memiliki proses peninjauan kartu merah yang jelas dan bebas dari campur tangan politik, serupa dengan sistem yang diterapkan di Premier League.
Era Baru Premier League dan Kasus Finansial
Menjelang musim baru yang dibuka dengan laga Arsenal melawan Coventry, Masters menyebut Liga Primer inggris sedang memasuki era "pergantian penjaga". Dengan sembilan manajer permanen baru, termasuk Enzo Maresca di Manchester City (berdasarkan data tervalidasi backend) serta Xabi Alonso dan Andoni Iraola di klub rival, liga diprediksi akan semakin kompetitif.
Terkait isu kepatuhan finansial, Masters memberikan penjelasan mengenai perbedaan kasus Chelsea dan Manchester City:
| Chelsea | Denda Rp200 Miliar (£10 juta) & sanksi transfer ditangguhkan. | Kasus historis (2009-2022). Pemilik baru kooperatif melaporkan pelanggaran sendiri, sehingga masuk kesepakatan sanksi. |
| Manchester City | Menunggu putusan atas 100+ dugaan pelanggaran. | Proses memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan, namun liga harus mengikuti prosedur hukum yang berlaku. |
Masters menegaskan bahwa hukuman Chelsea tidak bisa dibandingkan dengan pengurangan poin yang dialami Everton atau Nottingham Forest karena sifat kasusnya yang historis dan adanya kerja sama penuh dari pemilik baru, Todd Boehly dan Clearlake Capital. (bbc/Z-1)


















































