Dari Terowongan Silaturahim, Menteri Jerman Belajar Toleransi dari Indonesia

6 hours ago 1
Dari Terowongan Silaturahim, Menteri Jerman Belajar Toleransi dari Indonesia Menteri Agama RI Nasaruddin Umar (kiri) dan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo (kanan) berbincang dengan Menteri Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan di Katedral Jakarta, Rabu (19/8).(DOK KEDUTAAN BESAR JERMAN)

MENTERI Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan mengaku terkesan dengan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Hal itu disampaikannya saat mengunjungi Masjid Istiqlal, Terowongan Silaturahim, dan Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (19/8).

Dalam kunjungan tersebut, Alabali Radovan didampingi Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral Jakarta.

"Suatu kehormatan besar bagi saya dan delegasi saya dari Jerman. Berdiri di Terowongan Toleransi antara masjid dan katedral Katolik. Ini sangat mengesankan, dan ini menunjukkan arah yang sedang ditempuh oleh Indonesia serta masyarakat Indonesia, ini merupakan jalan perdamaian, persahabatan, dan toleransi antaragama," kata Alabali Radovan di Jakarta, Rabu (18/8)

Menurut dia, praktik toleransi yang ditunjukkan Indonesia dapat menjadi contoh bagi banyak negara, termasuk Jerman. Ia menilai toleransi, persahabatan, dan dialog semakin penting di tengah situasi dunia yang menghadapi berbagai masa sulit.

"Saya rasa ini sangat penting, terutama di masa-masa sulit yang kita jalani saat ini, bahwa kita melihat contoh-contoh nyata dari toleransi, persahabatan, dan dialog," sebutnya. 

Menurutnya, ini adalah model percontohan yang baik bagi banyak tempat di dunia. "Begitu juga tentunya bagi kami di Jerman, kami pun dapat belajar dari hal ini," lanjutnya. 

Alabali Radovan juga mengungkapkan rasa terhormat atas kunjungannya ke kompleks Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Ia menyampaikan terima kasih kepada Menag Nasaruddin Umar serta masyarakat Indonesia atas sambutan yang diberikan.

"Ini merupakan kehormatan dan keistimewaan yang luar biasa untuk bisa berada di sini. Terima kasih. Terima kasih kepada Bapak Menteri dan kepada Anda semua yang telah menyambut kami di sini hari ini, dan juga kepada seluruh rakyat Indonesia,"  paparnya. 

Simbol toleransi Indonesia

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin menjelaskan kepada Alabali Radovan bahwa Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta yang terhubung melalui Terowongan Silaturahim merupakan salah satu simbol toleransi di Indonesia.

Ia menunjukkan sejumlah unsur yang mencerminkan keberagaman dan kehidupan berdampingan antarumat beragama di kawasan tersebut.

"Kita memiliki banyak ornamen, ornamen toleransi, termasuk suara. Jika datang dari arah sana, Anda bisa mendengar suara lonceng dari gereja," ucapnya. 

"Sebaliknya, jika masuk dari sisi masjid, Anda bisa mendengar suara beduk, simbol tradisi Islam. Jadi, ini adalah simbol toleransi Indonesia," terang Nasaruddin.

Di kesempatan itu, Kardinal Suharyo menjelaskan sejarah pembangunan Masjid Istiqlal. Menurut dia, lokasi pembangunan masjid nasional tersebut berkaitan erat dengan gagasan Presiden RI pertama Soekarno.

"Presiden Soekarno bersikeras bahwa masjid tersebut harus dibangun di tempat ini dengan dua alasan," sebutnya. 

Menurutnya, alasan pertama adalah untuk menghapus memori kolonialisme, karena di lokasi tersebut dulunya terdapat dua tempat bernama Belanda. 

Kemudian alasan kedua adalah agar masjid nasional atau masjid negara ini letaknya dekat dengan Katedral.

"Hal itu sejak awal sudah sangat simbolis," ucapnya. 

Indonesia jadi fokus baru kebijakan pembangunan Jerman

Kunjungan Alabali Radovan ke Indonesia berlangsung di tengah perubahan arah kebijakan pembangunan Jerman. Dalam pernyataannya pada Selasa (18/8), Indonesia disebut menjadi salah satu negara fokus baru bagi kebijakan pembangunan Jerman.

Kebijakan tersebut sejalan dengan proses reformasi Kementerian Pembangunan Jerman atau BMZ. Reformasi itu turut memperluas kerja sama pembangunan dengan mendorong keterlibatan sektor swasta di sembilan negara mitra potensial.

Selain Indonesia, negara yang masuk dalam daftar fokus potensial tersebut adalah Ghana, Kenya, Maroko, Afrika Selatan, Brasil, India, Meksiko, dan Vietnam.

Rencana Aksi untuk Bisnis dan Pembangunan telah disusun sejak musim gugur 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat keterlibatan sektor bisnis dalam kerja sama pembangunan Jerman dengan negara-negara mitra. (Fer)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |