Guru Literasi Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Perkuat Literasi dan Kreativitas Siswa lewat Gebyar Merdeka

6 hours ago 1
Guru Literasi Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Perkuat Literasi dan Kreativitas Siswa lewat Gebyar Merdeka Ilustrasi(MI/FICKY RAMADHAN)

GURU Literasi Jakarta (GliterJak) bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggelar Gebyar Merdeka dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian program yang menggabungkan literasi, kreativitas, kepedulian lingkungan, serta penguatan komunitas guru di Jakarta.

Selain perlombaan bagi siswa, Gebyar Merdeka diisi dengan dialog interaktif mengenai pengolahan sampah, pameran karya berbahan barang bekas, serta pengukuhan pengurus GliterJak tingkat Suku Dinas Pendidikan wilayah kota/kabupaten administrasi di Provinsi DKI Jakarta.

Ketua GliterJak, Sri Kustiah mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk memperluas pemaknaan literasi sekaligus memberikan ruang kepada siswa untuk menunjukkan kreativitasnya.

"Hari ini merupakan puncak kegiatan dari serangkaian lomba yang dilaksanakan oleh Guru Literasi Jakarta atau GliterJak bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, kami mengadakan serangkaian kegiatan, tidak hanya lomba, tetapi juga dialog interaktif terkait pilah dan olah sampah serta pameran yang dibuat dari barang-barang bekas," kata Sri di Jakarta, Rabu (19/8).

Sri menjelaskan, GliterJak ingin menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis. Karena itu, lomba dalam Gebyar Merdeka disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan kemampuan siswa.

Untuk siswa sekolah dasar digelar lomba konten kreator, siswa SMP mengikuti Junior English Presentation, sedangkan siswa SMA mengikuti lomba Robotics.

"Kami ingin mengambil konsep bahwa literasi itu tidak sekadar membaca dan menulis. Anak-anak juga harus mampu berkomunikasi, berpikir kreatif, menghasilkan karya, dan memecahkan masalah," ujarnya.

Rangkaian kegiatan tersebut mengangkat dua tema utama, yakni "Jaga Sekolah Bersih, Pilah dan Olah Sampah dari Sumbernya" serta "Perpustakaan sebagai Salah Satu Sumber Ilmu Meningkatkan Nilai TKA".

Menurut Sri, tema pengolahan sampah sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026.

"Kami ingin kegiatan ini bukan seremonial dan bukan template kegiatan semata. Kami ingin menunjukkan bukti nyata bahwa sekolah-sekolah sudah melaksanakan Instruksi Gubernur Nomor 5, khususnya terkait pengolahan sampah," ucapnya.

Salah satu agenda utama Gebyar Merdeka adalah dialog interaktif pengolahan sampah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi guru, siswa, dan warga sekolah untuk memahami pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.

Sri mengatakan, edukasi mengenai lingkungan perlu diberikan melalui kegiatan yang konkret agar siswa dapat memahami sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui dialog interaktif ini, kami ingin anak-anak dan warga sekolah tidak hanya mengetahui persoalan sampah, tetapi juga memahami apa yang bisa dilakukan mulai dari sumbernya, termasuk memilah dan mengolah sampah," ujarnya.

Selain dialog, pameran juga menampilkan kreativitas siswa dalam memanfaatkan barang bekas menjadi berbagai karya.

Perkuat Jaringan 

Di sisi lain, Gebyar Merdeka juga menjadi momentum penguatan organisasi melalui pengukuhan pengurus Guru Literasi Jakarta tingkat Suku Dinas Pendidikan wilayah kota/kabupaten administrasi di Provinsi DKI Jakarta.

Menurut Sri, pengukuhan tersebut diharapkan memperkuat jaringan komunitas guru literasi di berbagai wilayah Jakarta sehingga program literasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Pengukuhan ini menjadi bagian dari penguatan komunitas GliterJak di setiap wilayah. Harapannya, teman-teman guru dapat terus bergerak, berkolaborasi, dan menghadirkan kegiatan literasi yang memberikan dampak bagi peserta didik," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana mengapresiasi kegiatan yang lahir dari inisiatif komunitas guru. Menurutnya, Dinas Pendidikan tidak ingin kreativitas di lingkungan pendidikan hanya berasal dari program pemerintah yang bersifat top-down.

"Dinas Pendidikan memang mengharapkan kegiatan itu bukan hanya template dari kami yang sifatnya top-down. Tetapi bagaimana kreativitas itu dibangun. Teman-teman guru berkomunitas melahirkan ide, kemudian kami memberikan dukungan," ujar Nahdiana.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat mendorong sekolah dan guru lebih aktif menciptakan program sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungan sekitar.

"Yang paling penting adalah bagaimana kegiatan itu tidak berhenti pada acara. Dari pengetahuan literasi, anak-anak harus diajarkan berpikir kritis dan kemudian mencari solusi untuk lingkungannya," katanya.

Nahdiana menegaskan, kegiatan pendidikan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Setiap program harus memiliki dampak yang dapat dirasakan dan mendorong perubahan perilaku.

"Bukan selesai kegiatan ini, dibuka, kemudian selesai. Kita lebih kepada dampaknya. Siapa saja yang mengemban amanah pendidikan harus berdaya dan berdampak," tuturnya.

Ia mencontohkan kegiatan pemilahan sampah. Keberhasilannya tidak cukup hanya dilihat dari jumlah sampah yang berhasil dikurangi, tetapi dari perubahan kebiasaan dan tumbuhnya kesadaran di lingkungan sekolah.

"Bukan sekadar pencatatan angka bahwa sampah sudah direduksi sekian. Tetapi bagaimana ini menjadi gerakan, menjadi habituasi, dan akhirnya menjadi kesadaran bersama," ucapnya.

Menurut Nahdiana, pendidikan yang berdampak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, keluarga, masyarakat, komunitas, dan media harus menjalankan perannya masing-masing.

"Saya sering mengatakan bahwa karya bisa berdampak kalau ada orkestrasi. Pendidikan tidak bisa kita pisahkan hanya di sekolah atau hanya di rumah. Semua harus memainkan perannya masing-masing sehingga anak mendapatkan pendidikan yang utuh," katanya.

Ia berharap kolaborasi dengan komunitas seperti GliterJak dapat terus berkembang dan melahirkan lebih banyak komunitas pendidikan yang mandiri.

"Harapannya akan bertumbuh komunitas-komunitas yang secara mandiri. Kami juga berharap pendidikan di Jakarta adalah pendidikan yang holistik dan integratif," ujarnya.

Nahdiana menambahkan, pendidikan Jakarta harus mampu menyiapkan siswa menghadapi perkembangan global tanpa kehilangan karakter kebangsaan.

"Anak-anak harus memiliki pengetahuan, tetapi juga punya sikap ketika berada di kota yang akan menjadi global city. Mereka juga harus memiliki attitude kebangsaan bahwa kita adalah bangsa Indonesia dengan ideologi Pancasila, sehingga anak-anak kita tidak kehilangan jati dirinya," pungkasnya. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |