Seorang pria berjalan di depan mural dinding saat kehidupan sehari-hari berlanjut di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat di Teheran, Iran, pada 6 Agustus 2026.(Anadolu)
KETUA Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS) dengan tudingan bahwa Washington tengah berupaya "mencekik" Teheran. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya paksa untuk mendapatkan konsesi yang tidak pernah disepakati sebelumnya dalam kerangka hubungan bilateral kedua negara.
"Orang-orang Amerika berpikir dengan mencekik Iran, mereka akan meraih konsesi yang tidak pernah menjadi bagian dalam kesepakatan," ujar Ghalibaf melalui pernyataan di media sosial pada Selasa (18/8).
Dalam pernyataannya, Ghalibaf secara spesifik menyasar dua pejabat tinggi dalam kabinet Amerika Serikat, yakni Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ia menilai kedua pejabat tersebut telah kehilangan kendali dalam menangani dinamika hubungan dengan Iran.
Ghalibaf bahkan menggunakan diksi yang keras dengan menyebut tim pemerintahan AS saat ini sebagai "kru badut". "Berhenti menunggu kru badut untuk menarik kelinci dari topinya dan bersihkan kekacauan yang kalian buat," tegasnya.
Latar Belakang Kegagalan Dialog
Ketegangan terbaru ini muncul hanya dua bulan setelah adanya secercah harapan diplomatik. Pada pertengahan Juni lalu, Teheran dan Washington sebenarnya telah menandatangani sebuah nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan menuju penyelesaian perang secara permanen.
Kesepakatan awal tersebut berhasil dicapai berkat mediasi intensif dari Pakistan dan Qatar. Namun, implementasi memorandum tersebut menemui jalan buntu.
Poin Utama Kegagalan Dialog Iran-AS:
- Perselisihan Syarat: Ketidaksepakatan mengenai detail teknis dan syarat-syarat yang tertuang dalam memorandum Juni.
- Isu Selat Hormuz: Perselisihan mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi ekspor energi global.
- Tudingan Konsesi Tambahan: Klaim Iran bahwa AS meminta hal-hal di luar kesepakatan awal sebagai syarat normalisasi.
Dampak pada Stabilitas Energi
Kegagalan dialog ini memberikan dampak langsung pada kekhawatiran pasar energi global. Selat Hormuz tetap menjadi titik api utama, mengingat posisinya sebagai jalur kunci bagi distribusi komoditas energi dunia. Perselisihan terkait pelayaran di wilayah tersebut sering kali memicu fluktuasi harga minyak mentah internasional.
Pihak Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan spesifik yang dilontarkan oleh Ghalibaf mengenai "konsesi di luar kesepakatan" tersebut. (Anadolu/Ant/I-1)


















































