Ilustrasi(Dok Istimewa)
MENINGKATNYA perjalanan masyarakat Indonesia untuk ibadah umrah dan haji turut mendorong perubahan industri layanan pendukung penerbangan. Persaingan bisnis kini tidak hanya bertumpu pada harga dan fasilitas, tetapi juga kemampuan menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman, personal, dan sesuai kebutuhan jemaah.
Tren tersebut mendorong lounge bandara mengadopsi standar hospitality industri perhotelan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem perjalanan umrah Indonesia.
Managing Director Palmeera Lounge Tomi Isnawan mengatakan transformasi dilakukan untuk menjawab kebutuhan pelanggan, khususnya jemaah umrah yang membutuhkan kenyamanan dan privasi sebelum menjalani penerbangan jarak jauh.
“Melalui malam House Warming, Palmeera Lounge mengukuhkan posisinya bukan sekadar sebagai fasilitas transit, melainkan destinasi esensial di Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Tomi, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, lounge itu diarahkan menjadi titik temu antara kemewahan, privasi, dan pelayanan personal khas Indonesia. Transformasi tidak hanya lewat pembaruan interior, tetapi juga dengan merancang area VIP dan VVIP lebih privat untuk kebutuhan maskapai, biro perjalanan, dan pelanggan premium.
Lounge Manager Palmeera Guido Andriano mengatakan perubahan tersebut merupakan respons terhadap masukan pelanggan yang menginginkan privasi lebih tinggi.
“Di area VVIP, tamu tidak hanya memperoleh ruang terpisah, tetapi juga menikmati layanan berbeda, termasuk pula penyajian makanan secara à la carte,” kata Guido.
Perubahan penting lainnya adalah penerapan konsep personalized service melalui kehadiran butler yang selama ini identik dengan industri perhotelan. Pendekatan tersebut memungkinkan pelanggan VIP dan VVIP memperoleh layanan lebih personal.
Jemaah umrah dan haji jadi segmen strategis karena memiliki kebutuhan berbeda dibandingkan wisatawan umum. Sebagian jemaah, terutama yang baru pertama kali melakukan perjalanan internasional, membutuhkan suasana tenang sebelum menempuh penerbangan panjang menuju Tanah Suci. Palmeera merespons kebutuhan tersebut melalui desain ruang yang lebih fleksibel. Selain sofa, tersedia meja makan dan kursi dengan posisi duduk lebih tegak yang lebih sesuai bagi jemaah lanjut usia.
"Kenyamanan pun diterapkan dari pilihan kuliner. Lounge mempertahankan karakter masakan rumahan Indonesia karena makanan yang familiar dapat memberikan rasa nyaman sebelum jemaah memulai perjalanan," jelasnya.
Guido menuturkan untuk segmen premium, personalisasi hadir melalui layanan kopi dari barista, mulai dari espresso hingga manual brew dengan pilihan biji kopi sesuai preferensi tamu.
"Untuk area reguler diarahkan pada peningkatan kebutuhan operasional, seperti ketersediaan perlengkapan mandi, amenitas, serta kecepatan pengisian ulang makanan. Masukan dari biro perjalanan haji dan umrah menjadi salah satu dasar evaluasi layanan kami," terangnya.
Ia menambahkan meningkatnya jumlah pelanggan juga menuntut penyesuaian operasional. Pengelola lounge mengubah pola kerja dari dua jadi tiga shift dan mengatur sistem pelayanan pada jam sibuk agar mutu layanan tetap terjaga.
"Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan layanan membutuhkan dukungan SDM yang mampu memberikan pelayanan cepat sekaligus personal," katanya.
Ia menerangkan dari sisi bisnis, transformasi Palmeera di Bandara Soekarno-Hatta diposisikan sebagai proyek percontohan. Standar operasional, pelayanan, dan pengembangan SDM dipersiapkan sebagai fondasi untuk kemungkinan replikasi ke bandara lain di Indonesia. (H-2)


















































