Presiden Brazil Lula da Silva sebut penemuan minyak oleh Petrobras di sekitar muara Sungai Amazon sebagai paspor masa depan.(@LulaOficial via EVN)
PRESIDEN Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyambut baik penemuan cadangan minyak di dekat muara Sungai Amazon. Setelah penemuan tersebut diumumkan oleh perusahaan minyak milik negara, Petrobras, Lula menyatakan potensi ini dapat menjadi "paspor bagi masa depan negara."
Keputusan Lula untuk mengizinkan pemboran eksplorasi di kawasan yang dikenal sebagai Marjin Ekuatorial Brazil tersebut menuai kritik tajam dari para aktivis lingkungan. Penemuan minyak ini berlokasi di lautan sekitar 175 kilometer di lepas pantai Amazon dengan kedalaman mencapai 2.886 meter. Meski demikian, ukuran pasti ladang minyak serta kelayakan komersial dari proses ekstraksi tersebut masih belum dipastikan.
Para konservasionis memperingatkan area pemboran tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Mereka mengkhawatirkan risiko potensi tumpahan minyak yang dapat mengancam terumbu karang di sekitarnya serta terbawa arus menuju lahan basah pesisir yang kaya akan satwa liar.
Menanggapi berbagai penolakan dari pihak luar dan negara-negara lain, Lula secara tegas menolak anggapan tersebut dan mengaitkannya dengan kedaulatan negara.
"Ini berarti kedaulatan nasional. Negara mana pun yang memiliki minyak dengan kualitas seperti ini tidak akan membiarkan siapa pun campur tangan," ujar Lula.
Petrobras memulai operasi pemboran eksplorasi di perairan dalam kawasan tersebut sejak Oktober 2025. Direktur Utama Petrobras, Magda Chambriard, menyampaikan penemuan ini membuktikan optimisme perusahaan dalam melakukan eksplorasi di Marjin Ekuatorial Brazil. Ia menegaskan komitmen perusahaan untuk "memastikan ketahanan energi negara."
Lula berargumen pendapatan dari sektor minyak sangat dibutuhkan untuk membantu mendanai transisi Brazil menuju sumber energi non-fosil. Di sisi lain, ia menegaskan tetap berkomitmen pada upaya penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap demi menekan perubahan iklim.
"Saya tidak memungkiri komitmen saya terhadap perjuangan untuk suatu hari nanti ketika kita tidak lagi membutuhkan bahan bakar fosil, karena Brazil akan terus menjadi raja inovasi bahan bakar hayati (biofuel) dan akan tetap menjadi pemain utama dalam energi terbarukan," tutur Lula.
Lula juga menyinggung penolakan yang sempat muncul sebelum gelaran konferensi iklim COP30 di Brasil November lalu, khususnya dari pihak Eropa.
"Banyak orang yang tidak ingin saya mengumumkan bahwa Petrobras telah mendapatkan lisensi karena mereka mengatakan orang-orang Eropa akan marah," kata Lula. "Saya mengambil keputusan untuk mengumumkan bahwa orang-orang ingin melakukan pemboran eksplorasi di sana sebelum COP karena kepentingan negara dan perusahaan kita sedang dipertaruhkan."
Prospek penemuan minyak ini telah berdampak pada wilayah terdekat. Di Oiapoque, Negara Bagian Amapá, harapan akan munculnya lapangan kerja dan peluang ekonomi telah memicu kedatangan warga dari berbagai daerah.
Menjelang pemilihan presiden yang tersisa kurang dari dua bulan, Lula berupaya menarik dukungan dari pemilih yang mendambakan pembangunan ekonomi di wilayah terpencil Brazil tersebut, sembari tetap menjaga keseimbangan bagi pihak-pihak yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap lingkungan. (BBC/Z-2)


















































